Showing posts with label cerita. Show all posts
Showing posts with label cerita. Show all posts

Saturday, July 14, 2012

JANDA MUDA HOT PLUS BINAL CARI BERONDONG

cari janda muda, cerita janda muda, foto janda muda, janda muda bugil, memek janda muda, ngentot janda muda, cerita hot, cerita hot tante, cerita tante, cerita tante girang, foto hot, Foto tante hot, hot tante girang, memek tante, ngentot tante hot, tante bugil





ABG SMP BUGIL TELANJANG PAMER MEKI TOKET

Foto Bugil, Abg Bugil, Cerita, Cerita Abg, Foto Abg, Video Abg, Ngentot, Ngentot Abg, Memek, Memek Abg, Abg Bokep, Abg Hot, Abg Mesum, Abg Sma, Abg Smp, Abg tua, Bokep Abg, Cerita Abg, Ngentot Abg

ABG SMP BUGIL TELANJANG PAMER MEKI TOKET

ABG SMP BUGIL TELANJANG PAMER MEKI TOKET

ABG SMP BUGIL TELANJANG PAMER MEKI TOKET

ABG SMP BUGIL TELANJANG PAMER MEKI TOKET

Gambar Tante Bugil Bikinis

Gambar Tante Bugil BikinisGambar Tante Bugil Bikinis


Gambar Tante Bugil BikinisGambar Tante Bugil Bikinis
Gambar Tante Bugil Bikinis nd telanjang bugil model
Wewe...!!! Ada lagi nii foto tante bugil abis, mau gan !!! Ya Sudahlah kita liat-liat aja di sini Okey, ga usah jauh-jauh gan cuma di Foto Cewek Indonesia. Gini ceritanya foto ini saya ambil dari salah satu sumber tetapi saya lupa tapi sumber tersebut Gambar tante bugil ini tanpa rekayasa asli (original) gan, coba siapa lagi yang gak mau ngiliat foto lendir ini, diliat-liat siih, foto bugil tante ini sangat mempesona ya gan !!! Menggoda abis gan .... Ya Sudahlah nikmatin saja ???

Gambar Model Indonesia super panas (HOT)

Gambar Model Indonesia super panas (HOT)

Waduuh !!! emang kaga tahan gan, ngeliat foto-foto kaya gini pasti udah pada sangean ya. Emang rada nyelonong ngeliat gambar model indonesia, mantapa juga ni title and image-nya gambar artis panas, kemaren-kemaren gw poting tentang Foto model super seksi, ternyata eehh ternyata traffic gw belum cukup juga.

Ya Sudahlah gw post yang kaya gini mengenai tentang gambar artis indonesia super panas, uppss super panas setrikaan kali, salah gan cuma gambar toge, dalam bahasa anak muda itu toge tu Toket Gede, hahahah !!! Ada-ada saja ya anak muda jaman sekarang, tapi yang belum pernah gw tau yaitu Pepek perawan itu apa ya ???...... Tapi para bugilmania pasti udah pada tau daahh. Ya Sudahlah, hehehe ya sudahlah mulu udah kaya lagunya band terkenal Bondan Prakoso & Fade2black, yang sekarang lagi tenar-tenarnya tahoen 2010.

Ducchh .... Jadi ngomongin band sih, orang lagi enak-enak ngeliat gambar cewek bugil, ujung-ujungannya ke band, udah itu lewat saja gan, kita lari ke TKP, gw liat-liat ini foto artis boleh juga ya, tapi ga kalah juga gan sama foto model super Asia, yang sekarang lagi di cari-cari di Search Engine Google (Pecarian Google), pasti ketemu daah kalo cari-cari foto artis super panas mah, tapi kalo lagi cari kerjaan atau tugas pasti keteteran minta cariin sama orang wkwkwkwkwk, udah gan ngeliat-ngeliatnya jangan lupa ya tinggalin pesan buat ni gambar artis super panas.

Foto Model Asia Ga Bugil Tapi Toketnya Gede

Foto Model Asia Ga Bugil Tapi ToKeT gEdEFoto Model Asia Ga Bugil Tapi ToKeT gEdE


Foto Model Asia Ga Bugil Tapi Toketnya GedeFoto Model Asia Ga Bugil Tapi Toketnya Gede

Waduuhh !!! Gambarnya mantap, kita bisa lihat betapa seksi-seksinya artis atau model chines, model asal Asia (Chines) ini sangat seksi dan tubuhnya yang sangat seksi, foto model artis Asia ga bugil daah tapi seksi abis toge beud, body-nya yang begitu indah bisa kita bayangkan betapa cantik dan seksinya model asia ini. Salah satu model dari Majalah Car And Model ini saya ambil dan saya Copas ternyata bisa menghibur anda sekalian walaupun gambarnya gak bikin kita sange-sange. Ya tapi lumayan buat cuci muka sobat. Gadis perawan chines ini toketnya montok bener sob, duch jadi nggak enak nie ama yang baca, bahasanya agak ngaur dikit, ya maklum lah sob, soalnya gambar model ini benar-benar menggoda saya, TOGE (Toket Gede), membuat saya melek langsung, , , hehhee...he

Ya Sudahlah sob kita hajar aja gambar ini, kita lihat dan kita cermati, upps !!! Emangnya mau belajar, tapi belajar buat baca-baca yang bugil dikit, beeuuhh mantapp sob, sobat bisa lihat sendiri deeh gambar bugil cewek ini langsung, lendir dari siutt mulut kita seakan mengalir bagaikan sungai dan mengalir begitu menggiurkan wkwkwkwk......

Ngintip Foto Bugil Model Indonesia Bikini

Ngintip foto bugil bikin ini merasakan aroma yang berbeda dari foto - foto bugil yang lainnya, soalnya foto bikini artis yang satu ini benar-benar Ayu (cantik), Montok , dan bohayy !!!. Ngintip Foto Model Telanjang Merasakan aroma seks yang begitu membuat kita takkan pernah terlupakan saat pertama menikmatinya, begitu nikmat bagaikan di surga dunia, memang kenikmatan saat kita berhubungan seks itu surganya dunia. Weew !!! bener-bener sobat foto model bikinis ini mengingatkan saya saat di pantai, melihat-lihat orang cuma memakai celana dalam dan pakaian dalam terutama wanita cantik dan seksi. Tak dikira tubuh seorang wanita itu sangat indah dan mulus, apalagi saat kita menyentuhnya terasa halusinasi kita selalu mengikuti wanita itu.

Nah kita kenalkan salah satu foto model Indonesia Adjeng Inez Nugroho gimana mantapkan mau liat Profil lengkap Cewek Model Putih Mulus ini :



Foto Bugil Model Indonesia BikiniFoto Bugil Model Indonesia Bikini

Bintang Video Bokep Jepang Nonami Takizawa 3gp

Weww !!! Kelihatannya ini foto cewek jepang bukan sembarang foto model biasa ya ??? Kenapa foto panas ini benar-benar foto hot yang molek dan bisa saja langsung merangsang semua tubuh kita sehingga membayangkannya saja tidak bisa terhindarkan ini cuma gambar cewek jepang apalagi video bokep jepang gimana ya. Di blog Gambar Cewek Indonesia bukan hanya koleksi dari Indonesia pasti ada campuran kenapa ?? Karena biar agan bisa puas koleksi gambar cewek asian - gambar cewek barat juga.

Udah banyak gambar cewek indonesia yang seksi dan molek tapi Nonami Takizawa (model jepang) tidak pernah kalah dan ketinggalan zaman. Nonami itu nama panggilan belakang untuk orang jepang termasuk kita juga kali ya ? Nggak tahu dahh ini cuma gambaran cewek jepang kalo video bokepnya waduuh gw belum ketemu coba aja cari di google.co.id keywordnya video bokep nonami takizawa cewek jepang bugil, kalo nggak video bokep cewek jepang, weww itu langsung ke search semua dahh. Hmmm !!! Dari tadi pikirannya video bokep jepang terus, biasanya kalo di Indonesia paling popular itu video cewek SMA, kalo nggak video bokep cewek Indonesia perawan.




Friday, July 13, 2012

Cerita Seks Terbaru 2012 (cerita dewasa)

Cerita seks ini adalah cerita yang terbaru 2012 ini, merupakan cerita sex yang paling hot dan bisa dinikmati oleh siapapun, bagi anda yang menyukai cerita seks panas sepertinya cerita ini sangat cocok untuk dijadikan bahan utama untuk mengak manisnya cerita seks yang membuat dada anda berdebar dan bergetar, cerita ini adalah cerita yang sungguh luar biasa, karena dalam cerita ini ada sebuah kisa unik dan menarik yang bisa anda jadikan bahan untuk anda bisa melayang dan terbang tinggi bersama imajinasi anda.

Selama menjadi mahasiswa di ibukota provinsi ini, aku selalu dan hampir setiap hari mengunjungi perpustakaan milik pemerintah provinsi, sehingga hampir semua pegawai yang bekerja pada instansi ini mengenalku dan akrab denganku, baik yang pria dan wanitanya.

Namun dalam pikiran nakalku yang mampu menilai sesorang, hanya terdapat dua orang ( yang jelas wanita ) yang mampu menarik perhatianku sehingga aku selalu memberikan atensi yang lebih terhadap dua orang ini.

Yang pertama adalah staf bagian informasi dan teknologi yang sebut saja namanya Mbak Diah, aku memanggilnya begitu, 32 th-an, perempuan cantik semampai proporsional berkulit putih berambut sepunggung yang selalu memakai supra-nya setiap ke kantor, belum menikah dan aku belum terlalu mendalami kehidupan pribadinya.

Kedua adalah staf administrasi yang berkantor di lantai tiga bangunan ini, Ibu Ayu, manis berambut sebahu, 37 th-an, corak standar manusia-manusia Indonesia, menikah dan punya 2 anak, yang paling kecil SMP kelas 2 dan satunya SMU kelas 3, escudo kuning yang selalu menemaninya tiap pagi saat berangkat ke kantor. Dari kedua wanita tersebut hanya dengan Ibu Ayu saja aku tampak lebih akrab sehingga aku pun mengetahui dengan benar seluk beluk kehidupan rumah tangganya beserta dengan segala masalah yang dihadapinya.

Suatu siang, saat aku baru datang, kulihat Ibu Ayu sedang melihat TV yang memang sengaja dipasang di lobby untuk para pengunjung instansi ini, kudekati dan duduk di sebelahnya.

“Siang, Bu!, lagi santai nih?” Tanyaku membuka percakapan

“Eh, Dik Adi!, iya, tadi habis kunjungan keluar bareng ibu kepala dan nganter si Santi (putri tertuanya) pulang. Udah selesai kuliahnya?” jawabnya

“Sudah.., tadi cuma ada satu mata kuliah”

“O gitu!, O ya, ntar malam di ***** Cafe ada konsernya ( Ibu Ayu menyebut satu nama Band yang baru ngetop di Indon), mau nonton nggak?”

“Sama Santi, ya!, ntar saya ikut!” Kataku merajuk soalnya anaknya itu menuruni kecantikan ibunya sewaktu muda

“Ya, nanti Santi tak suruh ikut!”

“Lha emang Bapak ( suaminya ) kemana, Bu?”

“Lagi mengikuti Pak Walikota ke Jakarta sampai tiga hari mendatang”

“Okelah kalau begitu, nanti sore saya kesini lagi, trus berangkat!”

“Sip kalau begitu ” Jawabnya senang

*****
Sore yang dijanjikan pun tiba, aku masuk kedalam kantornya dan menemukan dia sedang membereskan beberapa map pekerjaannya.

“Tunggu di bawah ya, Dik!, aku mau ganti baju, dan tadi Santi telepon katanya tidak bisa ikut karena besok ada ulangan dan agak tidak enak badan” Katanya menyambutku

Dan aku pun mengeluh, gagal deh kencan dengan Santi

Tak berapa lama kutunggu, Ibu Ayu sudah menemuiku dengan berganti pakaian dinasnya menjadi blus ketat dengan jins, wah.., oke juga nih ibu-ibu, nggak mau kalah dengan yang muda dalam soal dugem.

“Ayo!” Ajaknya

Aku pun mengikutinya menuju escudo kuningnya dan berlalu dari kantor instansi tersebut.

“Kemana kita?, bukannya konsernya ntar malam?” Tanyaku

“Bagaimana kalo kita cari makan dulu sambil ngobrol-ngobrol nunggu jam lapan buat nonton konser ? ” Usulnya

“Boleh juga!, dimana?”

“Ntar, liat aja, biar Ibu yang charge, OK!”

Aku pun mengangguk mengiyakan nya. Di sebuah resto china dijalan protokol kota ini, setelah menyantap hidangan laut, kami pun mengobrol mengahbiskan waktu dengan membahas berbagai persoalan baik itu maslah sosial maupun pribadi. Seperti halnya Ibu Ayu menceritakan padaku tentang bagaimana menjemukannya kehidupan rumah tangganya.

“Wah, kalau soal itu saya tidak bisa memberikan pendapat, Bu!, masalahnya saya belum pernah berumah tangga.” kataku merespon nya

“Ini cuma sekedar curhat koq, Dik!, biar besok menjadi semacam panduan bila nantinya dik Adi sudah menjalan kehidupan bersama” Jawab Ibu Ayu diplomatis

“Dan, jangan panggil Ibu, dong!, panggil saja Mbak, khan usia kita ngga terlalu jauh banget bedanya, paling cuma 13 tahun !” Tambahnya

Dan aku pun tertawa mendengar kelakar tersebut. Ketika waktu telah menunjukkan saatnya, kami keluar dari resto tersebut disambut dengan gerimis, berlari-lari menuju mobil untuk meluncur ke cafe yang dimaksud. Selama konser tampak Ibu Ayu sangat menikmati suasana tersebut sambil sesekali mengenggam tanganku, sehingga mau tidak mau pun aku menjadi ikut terbawa oleh suasana yang menyenangkan.

Konser pun berakhir, dan saatnya kami untuk pulang. Sambil-sesekali berceloteh dan bersenandung, kami menuruni tangga cafe, yang entah karena apa, Ibu Ayu terpeleset namun untunglah aku sempat memegangi nya namun salah tempat karena secara reflek aku menariknya kedalam pelukan ku dan tersentuh buah dadanya. Sejenak Ibu Ayu terdiam, memandangku, mempererat pelukannya dan seakan enggan melepaskannya.

“Bu, eh..Mbak, udah dong, malu ntar dilihat orang” Kataku

Dia pun melepaskan pelukannya, dan kami menuju ke mobil dengan keadaan Ibu Ayu sedikit pincang kaki nya.
Tengah malam kurang sedikit, kami sampai di rumah Ibu Ayu, karena aku sudah terbiasa pulang pagi, jadi kudahulukan untuk mengantar kerumahnya untuk memastikan keadaannya. Rumah dalam keadaan sepi, penghuninya sudah tidur semua kurasa, dan aku pun duduk di sofa sambil sejenak melepaskan lelah.

Sambil terpincang-pincang, Ibu Ayu membawakan segelas teh manis hangat untukku, dan duduk di sampingku. Aku jadi teringat kejadian di tangga cafe tadi.

“Masalah tadi, maafin saya Mbak, itu reflek yang nggak sengaja.” Kataku
“Nggak papa koq, Mbak ngga hati-hati si, pegel banget nih!” Katanya
“Sini saya pijitin” kataku sambil mengangkat kakinya dang menggulung celana jins nya sampai selutut

Dia pun merebahkan badannya agar aku bisa leluasa memijitnya. Tak berapa lama kemudian dia bangkit sambil ikut memijiti kakinya sendiri. Saat tangan kami bersentuhan ada getar-getar halus yang kurasakan menggodaku namun berhasil kutepiskan. Namun tak disangka, Ibu Ayu memegang lengan ku dan menarikku ke dalam pelukannya.

“temani aku malam ini, Dik!” Bisiknya lirih di telingaku

Kurasa habislah pertahanan ku kali ini. Di lumatnya bibirku dengan ganasnya, apa boleh buat, aku pun memberikan respon serupa. Kami saling berpagut dengan sesekali mempermainkan lidah. Tangannya menggerayangi tubuhku, mengusap-usap celanaku yang menggembung, sedangkan aku meremas-remas buah dadanya yang masih cukup ranum untuk wanita seusianya.
Lama kami bercumbu di atas sofa, lalu Ibu Ayu menggamitku untuk memasuki kamarnya, dan kami meneruskan cumbuan sepuas-puasnya. Foreplay dilanjutkan setelah kami saling membuka baju, hanya tinggal mengenakan celana dalam saja kami bergelut di atas kasur yang empuk dalam kamar berpendingin udara. Kujilati puting susunya sampai Mbak Ayu mendesah-desah, sementara tangannya menggengam kemaluanku yang dengan lembut dikocoknya perlahan.

“Mbak.., aku buka ya, celananya!” Bisikku yang disambut dengan anggukannya

Setelah secarik kain tipis itu terlepas dari pinggulnya, Ibu Ayu mengangkang kan pahanya, dan tampak vaginanya yang kehitaman tertutup lebat rambut. Saat kusibak kerimbunan itu, gundukan daging itu berwarna kemerahan berdenyut panas.

Ibu Ayu memekik dan mendesah perlahan saat vaginanya kujilati. Ditekan nya kepalaku sepertinya dia sangat menikmati permainan ini, sampai suatu saat kurasa vaginanya mulai basah dengan keluarnya lendir yang berlebihan.

Dengan nafas terengah-engah Ibu Ayu menarik kemaluanku untuk dimasukkan kedalam vaginanya. Kupegan tangannya dan kupermainkan kemaluanku di pintu masuk liang kenikmatan nya itu beberapa lama, kupukul-pukul kan kepala kemaluanku dibibir vaginanya, kumasukkan kemaluanku sedikit dalam vaginanya lalu kutarik keluar kembali, begitu berulang-ulang.

“Ayo dong, Dik!, jangan buat aku semakin ……” bisiknya
“Tapi aku belum pernah berhubungan badan, Mbak!” Balasku berbisik
“Ayolah, Dik!, aku beri kamu pengalaman menikmati surga ini, ayo..!”
Akupun mengangguk

Ibu Ayu berbaring telentang di pinggiran ranjang dengan kaki mengangkang, sementara aku berlutut hendak memasukkan kemaluanku. Di pegangnya kemaluanku dan di arahkan ke dalam vaginanya, kugesek-gesekkan kepala kemaluanku dibibir vaginanya sementara dia mendesah-desah, lalu dengan dorongan perlahan kubenamkan seluruh kemaluanku kedalam liang vaginanya.
Sebuah sensasi kenikmatan dan kehangatan yang luar biasa menyelubungi ku, sejenak keresapi kenikmatan ini sebelum Ibu Ayu mulai mengalungkan pahanya pada pinggulku dan memintaku untuk mulai menyetubuhi nya.

Kudorong tubuh Ibu Ayu ketengah ranjang, setelah tercapai posisi yang enak, kugerakkan pinggulku maju mundur mengeksplorasi seluruh kenikmatan yang dimiliki oleh Ibu Ayu. Ruangan kamar yang dingin seolah tidak terasa lagi, yang ada hanya lengguhan-lengguhan kecil kami di timpahi suara kecepok beradunya kemaluan kami, sementara disekeliling kepala kami terbungkus dengan hawa dan bau khas orang bersetubuh.

“hh..terus, Dik!, goyangnya yang cepat..Ohh..ohh, Ouuch!” Desahnya

“Yang erat, Mbak!, ayo sayang,..sshh,..hhh..” Desahku

“Ouuw…hh..,…lebih ce…aaahhhh!”

“Tenang aja, manisku…ohh.., enak Mbak!”

“Sss….sama…aku juga…ohh..ohh!”

Entah sudah berapa lama kami saling bergelut mencari kenikmatan, lambat laun kemaluanku terasa seperti diremas-remas, lalu Ibu Ayu mendesah panjang sebelum pelukannya terasa melemah.

“aku.., sam…,Dik!, …Aaaaakkhhh !” Desahnya

Kurasakan momen ini yang ternikmat dari bagian-bagian sebelumnya, maka sebelum remasn-remasan itu mengendur, kupercepat gerakanku dan kurasakan panas tubuhku meningkat sebelum ada sesuatu yang berdesir dari seluruh bagian tubuhku untuk segera berebut keluar lewat kemaluanku yang membuatku bergetar hebat dengan memeluk tubuh Ibu Ayu lebih erat lagi

“Ohhh..ohh….!” Desahku tak lama kemudian

Aku bergulir di samping Ibu Ayu mencoba mengatur nafas, sementara dia terpejam dengan ritme nafas yang tak beraturan juga. Kemaluan ku masih tegak berdiri berkilat-kilat diselimuti cairan-cairan licin sebelum lemas

Setelah beberapa saat, nafasku pulih kembali, kubelai rambut Ibu Ayu. Dia tersenyum padaku.

“Makasih, Mbak! Enak sekali tadi” Kataku tersenyum

“Sama-sama,Dik! Hebat sekali kamu tadi, padahal baru pertama, ya! ” jawabnya

Ibu Ayu mencoba duduk, kulihat cairan spermaku meleleh keluar dari lipatan vaginanya yang lalu di usapnya dengan selimut.

“Aku keluarkan di dalam tadi, Mbak! habis enak dan ngga bisa nahan lagi, ngga jadi anak khan nanti?” Tanyaku

“Enggak, santai saja, sayang!” Katanya manja sambil mencium pipiku
“Emm..,Mbak!” Tanyaku

“Apa sayang?” Jawabnya

“Kapan-kapan boleh minta lagi, nggak?”

“Anytime, anywhere, honey!” Katanya sambil memelukku dan melumat bibirku.

*****
Setelah kejadian itu, tiga hari berikutnya aku menikmati servis istimewa dari Ibu Ayu untuk lebih mengeksplorasi ramuan kenikmatan dengan berbagai gaya yang diajarkan olehnya, bahkan masih berlangsung hingga saat ini.
Pada mulanya anaknya yang kuincar menjadi cewekku, ternyata malah mendapat layanan plus yang memuaskan dari ibunya.

Cerita Seks Nikmat Dengan Guru Les Sekolah (cerita dewasa)

Cerita seks nikmat dengan guru les. Cerita ini bisa dikatakan adalah cerita pertama kali aku melakukan hubungan seks, karena jika sebelumnya aku hanya bisa melakukan fantasi seks bukan seks yang sebenarnya melalui kaset2 video porno yang sering aku pinjam dari temanku, cerita dewasa seks ini merupakan hadiah karena kebodohanku, kok bisa kebodohan? iya karena aku bodoh dalam sebuah pelajaran maka aku mendapatkan hadiah ini, aku sangat kurang faham dalam pelajaran berkembang biak, ok langsung saja aku akan ceritakan pengalaman berharga dalam hidupku

Pada pagi itu cuaca cerah membuka langkahku menuju sekolah smp ku yg terletak di daerah ramai ibukota. Namaku iwan,remaja smp berumur 14 tahun. Sekilas tentang diriku,aku anak semata wayang,ekonomi keluargaku biasa saja,ayahku orang bisnis sementara ibuku seorang pegawai di salah satu perusahaan di ibu kota. Oleh sebab orangtuaku sibuk,aku tumbuh menjadi anak yg merindukan kasih sayang orangtua.

Untunglah masih ada pembantu yg menemaniku di rumah dan guruku yg menyayangiku di sekolah ku,bu ersha namanya. Kusingkat ceritaku,tepat pukul 11. 00 wib pelajaran berganti ke pelajaran biologi. Inilah yg kutunggu pada hari sabtu ini,pelajaran guru idamanku bu ersa. Tak lama berselang bel berbunyi,bu ersa datang ke hadapan siswa 9b *****wajahnya tersenyum,cantik sekali dan diimbangi oleh gunung kembar tak berhutan yg mengembung tepat kedepan. Mungkin payudaranyalah yg paling menonjol di tubuh seorang guru biologi nan seksi. ”oke anak anak sekarang ibu akan mengadakan ulangan bab berkembang biak mahluk hidup”,anak anak serontak terdiam lemas. Boleh dibilang aku memang tidak pintar dalam mata pelajaran ini,tapi aku selalu lolos ujian berkat teman temanku yg membantuku. Kembali kusingkat,selesai lah ulangan ini sementara ibu sedang memeriksa hasil ulangan kami.

Aku sendiri menggerutu pada teman temanku karena mereka pelit tidak memberi aku jawaban ulangan *****”iwan,nanti pulang sekolah ibu akan beri kamu les tambahan supaya kamu mendapat hasil yg lebih baik”jawabnya sambil membagikan kertas ulanganku yg mendapat nilai 40. ”baik bu”jawabku sebelum bel pulang berbunyi.

Teman temanku menertawaiku karena hanya aku saja yg kena les tambahan lalu mereka pulang. ”iwan sebelum les dimulai,ibu ingin kamu bertanya tentang apa yg kamu tidak tau di bab ini” “ini bu,cara berkembang biak manusia” “memang nya mana yg susah”jawabnya sambil membungkuk melihat bukuku. Saat itulah aku melihat isi dari bajunya. Payudaranya mengayun ayun. Darahku berdesir melihat jelas 30cm dari hidungku.

Namun aku tidak melihat bra nya. ”hey iwan ngeliat apa kamu”jawabnya halus. Kami saling bertatap muka. ”eh yg ini bu”tangan ku tdk sengaja menunjuk kata yg digaris bawahi “oh,kamu ga tau artinya sperma ya”. Aku terkaget melihat kata yg tdk sengaja ku tunjuk. ”iwan iwan,masa kamu udah besar ga tau sperma sih,ituloh cairan yg apabila nempel di rahim wanita bisa bikin dia punya anak”. Sebenernya sich aku tau artinya dari dulu karna aku tiap hari liat film bokep. ”bu,sperma itu dari mana sih”tanyaku. Ibu terdiam melihat keluar mungkin untuk memastikan tdk ada orang di sekitar kelas *****”ni ibu kasih conto tapi sekarang buka celana mu”.

Kubuka celanaku dan celana dalamku sehingga terpampang penisku 14cm yg ditumbuhi bulu halus menegang. Terlihat nafas ibu terengah engah dan mukanya memerah. Dia berjongkok di depan penisku. ”emh,ibu sekarang mau kasih conto ke iwan tentang sperma”. Tiba tiba dia mengulum penisku. ”ah,ibu mau apa”tanyaku. Dia tidak menjawab. Ibu ersa menggigit kecil penisku sambil memaju mundurkan mulutnya yg tebal. Aku mendesah kenikmatan. Tak lama kemudian aku orgasme. ”em enak banget kontol kamu wan,,,nih ini namanya sperma”sambil menjilat air maniku yg meleleh. ”nah,kalo sperma kamu masuk memek misalnya ibu,nih kaya gini”sambil membuka celananya yg tanpa cd dan duduk dikontolku. Lalu dia memaju mundurkan penisku yg masih lemah namun perlahan mengeras.

Dia menggoyangkan dgn kasar sehingga menimbulkan suara khas. ”uh,ibu pengen banget tiap hari kaya gini tapi ibu ga bisa” “ah ah ah,emh memangnya kenapa bu” “suami ibu sibuk”. Tak terasa tiba tiba aku orgasme “bu,aku pengen kencing” “didalem aja yah honey” crot crot crot dan lemahlah tubuhku. ”makasih yah wan,kamu bisa ga besok gini lagi,plisss bisa ya honey” “baik bu iwan juga seneng ada yg memperhatikan iwan daripada ortu iwan yg sibuk” “makasih yah”. Waktu itu ibu ersa hanya memakai baju atas saja,sehingga aku penasaran ingin membukanya dan benar saja dia tidak pake bra dan cd setiap ke sekolah lalu kujilati toketnya sambil kontol ku masih menancap di lubah surganya. Kulihat kebawah kursi yg basah oleh air surga ku dan bu ersa. Kami melakukan itu sampai sore dan pulang kerumahnya untuk melakukan lagi.

Tags: Cerita merasakan seks pertama kali, cerita seks dengan bu guru cantik

Gara-gara dihukum (cerita dewasa)

Waktu masih sekolah, aku sekolah di satu sekolah yang berada di kompleks perumahan. Aku juga heran kok yayasan sekolahku bisa dapet ijin membangun sekolah dikompleks perumahan bgitu, padahal setau aku ketika akan dibangun warga setempat protes keras atas pembangunan itu. Mungkin pihak yayasan duitnya kuat dan mental pejabat pemberi jin membangun bgitu bobroknya sehingga semua bisa dibeli dengan uang, sekolah itu tetep dibangun dan sudah berjalan sekian taun. Seperti biasa warga slalu dikalahkan oleh negara, dalam arti bgitu ijin diberikan ya warga tidak punya kekuatan apa2 untuk protes. Memang si keberadaan sekolah itu sangat mengganggu aktivitas warga setempat, Pada saat jam masuk dan jam pulang, jalan sempit didepan sekolah slalu penuh dengan mobil antar jemput sehingga warga pada saat itu sulit keluar atau menuju kerumahnya sendiri.

Tapi ya biarlah, itu bukan urusanku, yang penting aku diskolahkan disitu dan belajar disitu. sekolah ku itu berada diastu jalan buntu, sepanjang jalan itu ada 7 rumah yang berhadapan dengan sekolah ku. Ada rumah yang besar banget, kayanya tanahnya merupakan 2 kapling yang dijadikan satu dan rumah yang standard. Yang besar bertingkat sedang yang biasa ada yang bertingkat ada yang tidak. Warga sudah menyesuaikan diri dengan kesibukan sekolah sehingga pada saat aku datang dan pulang sekolah tidak terlihat warga setempat yang berkeliaran kecuali para prt dan satpam.

Persis didepan lapangan olahraga sekolah ada satu rumah bertingkat, aku perhatiin setiap ada jam olahraga dibalkon atas ada seorang bapak2 yang duduk dan mengamati kami yang sedang berolah raga. Aku dan kawan2ku suka ngerumpiin kalo si bapak lagi memperhatiin bodi mulus abg, yaitu kami2 yang sedang terbungkus pakean olahraga yang berupa celana pendek dan baju kaus. Ya biar aja, paling tu bapak nepsong ndiri karena memperhatiin kami olahraga. Orangnya si keren juga, tapi dati jauh liatnya lo. Aku heran kok si bapak pada jam kerja berada dirumah, apa gak kerja dianya, tajir amir gak perlu kerja kaya gitu. Aku suka iseng kasi dadah ma si bapak, dia membalas dadahanku sambil tersenyum. temen2ku bilang aku genit, biar aja, aku iseng ja mo gangguin si bapak.

Sampe satu hari sabtu, aku tetep sekolah di hari sabtu padahal beberapa sekolah dah mulai meliburkan muridnya dihari sabtu. Aku melakukan kesalahan yang dianggap cukup berat sehingga masalhku dibawa guruku ke kepsek. Oleh kepsek aku dihukum membersihkan kelasku ndiri setelah aktivitas belajar selesai. Jadilah aku di sabtu siang harus tetep berada di kelas sementara temen2ku langsung pulang dan mulai acara weekend mereka. Sial banget aku, ya udah kukerjakan hukumanku secepat mungkin, aku sapu kelas, lap semua bangku, bersihkan papan tulis dah terakhir aku pel ruang kelasku, baiknya penjaga sekolah menyediakan semua peralatan untuk membersihkan kelas. Sejam kali aku membersihkan kelas itu sampe selesai. Selesai hukuman aku melapor ke guruku dan dia meninspeksi kelas sambil memberi aku nasihat agar tidak mengulangi kesalahanku itu. aku hanya mengiyakan. Aku keluar sekolah dah sepi. Biasanya aku nebeng temenku pulang karena jalan yang dia lalui lewat rumah omku dimana aku tinggal.
Apa boleh buat, dengan langkah gontai aku jalan meninggalkan sekolah. Didepan rumah si bapak aku mendongak memandang kearah balkon dimana biasanya si bapak menikmati tubuh kami yang masi abege banget. Surprise, ternyata si bapak ada disitu sambil melambaikan tangannya, aku bales lambaiannya. “Tunggu”, teriaknya dari balkon rumahnya. aku nggangguk, dan dia menghilang dari balkon. Gak lama kemudian si bapak membuka pintu pagernya, memang tenyata keren orangnya, suka banget aku melihatnya. Dia hanya mengenakan celana pendek gombrang dan kaus tanpa lengan, terlihat lengannya yang keker berotot. Bodinya tegap atletis, umurnya sekitar 40an kukira. dia senyum memandangku. matanya berbinar2 memandangku yang masi memakai sragam sekolah ku. Aku kringeten karena abis membersihkan kelas.
“Tumben gini ari baru pulang, mampir yuk”. Aku ragu memenuhi ajakannya atau enggak. “Inez dihukum om”. “O namanya Inez toh, dipanggilnya Iin boleh gak”. “Ya bole aja om”. “Ya udah, mampir dulu lah, tu kringeten gitu, makan minum dulu ditempat om, lagian pulangnya jalan ya. Ntar om anterin deh”. “Om baek amir si”. “Kok amir, nama om bukan amir”. “Iya om amir ngegantiin amat yang lagi tugas jaga”, jawabku sambil tertawa. “Bisa aja kamu, ayulah mampir”.

Dia memegang tanganku dan menarik aku masuk kerumahnya. Maksa banget deh, tapi aku suka tu diperlakukan kaya gitu, aku mrasa dia perhatian banget. Maklum abege kan seneng banget kalo diperhatiin ma lelaki dewasa macem si om. “Gak enak ma tante om”. “Om tinggal ndirian kok dirumah ini”. “Kok?” “Ya gak pake kok, kok nya lagi dipake badminton”, gantian dia menggoda aku. Aku tertawa aja. Dia mengajak aku masuk rumahnya. rumahnya termasuk yang besar walaupun hanya 1 kapling. Ruang tamunya besar, menyatu dengan ruang makan dan ruang keluarga. Ada tv plasma 42inch disertai seperangkat audio system. Aku melongok ke ruang disebelah ruang makan, rupanya itu dapurnya, minimalis tapi lengkap dengan lemari es, microwave oven dan oven gas 2 pit dan peralatan elektronik laennya seperti rice cooker, dispenser aqua, blender dan macem2 yang laen.

“Duduk deh, aku siapin makanan buat kamu”, katanya menyruh aku duduk dimeja makan. “Inez kringeten gini om”. “Mo mandi dulu apa”. “Inez gak bawa ganti tu”. “Om pinjemin kaos om mau, tapi kegedean kali ya”. Daripada badan lengket gak karuan, aku iyain ja tawarannya mandi dulu, nekat aja. Dia mengambilkan kaosnya yang gede banget buat aku, dan anduk. Dia menunjukkan kamar mandi yang menyatu dengan wc yang ada disitu. Aku segera masuk, melepaskan semua yang menempel dibadanku, dan segera menyalakan shower. Seger banget kringeten gitu dibanjur air dingin. aku senaja kremas sekali karena lengket banget seluruh badanku dari ujung rambut sampe ujung kaki. Bayangin aja siang gitu disuru membersihkan kelas, mana panas lagi, acnya dah dimatiin karena jam pelajaran dah usai.

Karena mandinya lengkap jadi cukup lama aku berada di kamar mandi, selesai mandi aku melap seluruh badan dan rambutku dengan anduk yang diberikan. Wah dalemanku juga basah karena kringet, aku nekat aja gak pake daleman lagi. daripada lengekt lagi pake daleman yang basah karena kringet gitu. Paling si om nepsong liat aku gak pake daleman, aku tertawa ja dalem hati. Rambutku basah, hanya aku rapikan dengan tangan. Aku keluar dari kamar mandi dengan menenteng pakean kotorku. “Wah seger tu, kramas juga toh, pantes lama air, om kira skalian bobo dikamar mandi”. Dia tersenyum memandangku, matanya makin berbinar melihat penampilanku sehabis mandi. Baju kaosnya yang kegedean menjadi rok yang mini banget buat aku sehingga pahaku yang puti mulus bebas ditelusuri dengan matanya .

“Ni baju kotornya masukin di kantong plastik. “wah dalemannya gak dipake lagi toh”, katanya ketika dia liat aku memasukan juga dalemanku ke kantong plastik. “Mo pinjem dalemanku apa”, dia tertawa, “Gak pake daleman kan jadi lebi adem kan”. “Kok om tau di lebi adem, gak suka pake daleman juga toh kalo dirumah”. Dia ngangguk. “Makan tuh, dah om sediain”. Di meja makan dah tersedia nasi dengan 2 lauk dan air dingin. Seegra aku menikmati makanan yang disediain. “Om kok tinggal ndiri si, mangnya tantenya kemana”. “Gak da tantenya kok”. “Oh…”, aku gak nanya lebi lanjut, terlalu private kali ya kalo aku nanya lebi jauh. “Trus gak da pembantu juga”. “ada, seminggu dateng 2-3 kali untuk bebersih ruma dan nyetrika pakean. Om kan ndirian jadi ya dikit cuciannya”. “Nyuci ndiri ya om”. “Iya pake mesin cuci kan gampang”. “Trus makannya”. “beli aja, kalo pagi ya makan roti, sereal, mi instan ato apa aja yang ada”. “Memangnya om gak kerja ya, kok suka ngeliatin Inez olahraga”. “abis seksi banget si kamu”. “Trus om gak kerja ya”.
“Om kerja gak tiap ari, om partneran ma temen, dia yang jalanin bisnisnya, om hanya miting seminggu sekali atau kalo ada maslah dikantor, jadi sempet liatin Iin sexy lagi olah raga”. “Kok Inez om panggil Iin si, om Sunda ya”. “Pinter kamu, tepat skalee”. “Kan orang Sunda suka ngulang suku kata awal”. “Gak apa kan om panggil Iin”. “Ya gak apalah om, Inez gak masalah mo dipanggil pake nama apa juga”. Makanan dah habis aku lahap, sementara dia hanya nemenin aku dimeja makan. “Kok om gak ikut makan si”. “udah tadi”. “abis ni makanannya om”. “Ya beli makanan kan untuk dimakan, lagian itu sisa semalem”. “wah Inez dikasi sisa ya”. “Sori, abis kan mendadak taunya Iin blon makan, ntar sore deh ditraktir di resto, mau kan”. “becanda kok om”.

“Tapi mau kan ntar nemenin om makan malem. Om ngantuk ni, mo tidur siang”. Inez mo tidur juga, tu di kamar tamu, ato mo bareng om”, dia senyum2 nakal. aku cuma senyum ja dan masuk kekamar tamu. Aku heran kok nekat banget aku ya, kalo aku diperkosa kan repot, tapi biarlah, aku lagi sebel ma cowokklu yang ngeduain aku, padahal aku sering berbagi kenikmatan ama dia, kurang apa lagi kan. Lagian aku dah lama gak ngrasain knikmatan sejak bubaran ma cowokku, kalo diperkosa ya oke aja lah. Aku call kerumah kasih alesan aku tidur dirumah temen, jadi gak usah ditunggu. Gak boong kan, memang lagi dirumah temen, yang ktemu barusan tapinya hihi.

Gak lama aku tiduran, kamar diketok. aku keluar, si om berdiri didepan kamar. “In, nanti sore kalo pergi kamu pake pakean apa ya, masak mo pake kaos om gini”. “Ya gak da pakean lagi tu om, Inez dah call kerumah gak pulang, aneh kan kalo dadakan pulang”. “Mangnya Iin tinggal ma siapa”. “Ma om Inez, di… (aku nyebut jalan rumahku). “deket tu, cuma kalo pulang dulu masak mo pake baju kotor gitu. Gini deh, om beliin ja pakean buat kamu dulu ya, deket sini ada mall, pakean kamu ukuran brapa, trus daleman kamu ukurannya brapa. Kalo bra 34 ya”. “Tau aja om”. “Ya taulah, kamu montok gitu”. Lihai juga si om, blon megang dah tau ukuran braku.

“Iin mo ikut belinya, cuma ya pake baju kaos om gitu gak enaklah ya”. “Terserah om ja deh”. “Ya udah kamu bobo ja lagi, om ke mal dulu ya”. Dia pergi meninggalkan aku ndirian dirumah. Karna gak ngantuk ya aku nonton tv ja. Iseng aku liat deretan dvd yang ada disitu, wah ada dvd boke thailand neh, aku puter ja. waduh, horny banget liatnya, cewek abg thai lagi dientot ma cowok bule, mana kont0l tu bule gede banget lagi, panjang dan keras, kluar masuk di memek tu abege yang peret jadinya kemasukan kontol gede gitu. waktu di close up kliatan banet bibir mem3k tu abege ampe ikutan kedorong kluar masuk ngikutin kluarmasuknya kont0l si bule, ah uh mah jangan ditanya deh, itu kan serenade wajib bokep. aku horny banget ngeliatnya, aku milin2 pntilku ndiri dan ngegosok itilku. memekku dah basah banget jadinya. aku mulai ah uh karena ulahku ndiri, sampe aku gak sadar kalo si om dah balik lagi.

“Kok cepet om”, sapaku malu sambil menurunkan kaosku yang kusingkap ketika ngilik itilku. “Lagi horny ya In, mangnya cowok kamu gak suka ngasi kamu nikmat”. “Dah bubaran om”. “wah jablay dong ya kamu. Ni bajunya”. Dia memberikan kantong plastik yang ada merk department storenya. Aku segera mengeluarkan isinya sambil melirik si om, kayanya gak ngaruh tu dia ngeliat aku ngilik ndirian, jangan2 vip lagi, pantes tinggal ndirian, tantenya mabur kali karena gak pernah di colek2. Dia beliin aku celana 3/4 dan kemeja, gak da daleman. “Kok daleman gak dibeliin skalian om”. “Kan biar adem gak pake daleman”, jawabnya sambil tertawa.

“Dicobain dulu, kalo kekecilan bisa dituker lagi kok”. Aku masuk ke kamar dan mencoba pakean yang dibelikan si om, rada kegedean dikit tapi gak apa lah. aku keluar menujukkan pakean yang udah aku kenakan. “Kamu cantik banget deh In”. “Om gombal ni”. “bener, cantik, sexy lagi. Untung banget om ktemu kamu siang ini, pas kan”. “Kegedean dikit, tapi gaka apa deh om, risi juga gak pake daleman”. “Ya udah, ntar skalian makan kamu beli daleman sexy ja ya”. Aku duduk disebelahnya disofa, harap2 cemas, dia mo ngapain aku ya.

“sekarang mo nerusin nontonnya, ntar om bantu kilikin deh”. Aku senyum mendengarnya, kayanya si dia gak vip. “Ih, tadi om liat Inez ya”. “ya liat lah, ampe ah uh gak keruanan gitu, jablay banget kamu In. Kamu kumisan, trus tangan kamu juga buluan”. “Mang napa om”. “prempuan yang kumisan biasanya bulu bawahnya lebat”. “mang tadi om liat?” “Gak kliatan jelas, ketutup jadi kamu”. Wah mulai vulgar dia. “Mangnya napa kalo bulu bawahnya lebat”. Dia mengelus tanganku. aku kaget, mrinding bulu romaku dielus tanganku. “Tu kan, baru dielus ja dah menggelinjang, prempuan buluan kan napsunya gede, ya kan In”. “Trus om napsu ngeliat Inez tadi”. “normal lah kalo om napsu”. “Inez kira om vip”. “vip?” “iya, very impotent person, makanya om tinggal ndirian”. Kami tertawa bersama. “Mo nguji om vip pa enggak ya, yuk, om bersedia kok kamu uji. Palagi kamu kan dah lama gak digarukin kan, om mau kok garukin kamu”. “om vulgar ih”. “Kamu pengen kan, ah uh nya ja ampe seru gitu, ampe gak tau om dah balik”. “om ah”, aku bingung, antara mau dan malu.

Dia langsung meraih kepalaku dan melumat bibirku dengan penuh nafsu. Aku meladeni ciumannya dengan nafsu yang tak kalah hebatnya. Aku dah gak mikir malu lagi, aku juga pengen dikelonin dia, dah lama banget gak kelonan ma cowokku soale. Hampir semenit kami yang penuh birahi ini saling melumat bibir, memainkan lidah di mulut pasangan dan diselingi gigitan kecil di bibir bawah. Nafasku semakin memburu dan jantungku berdebar makin kencang, ketika tangan kanannya dengan bebasnya membuka kancing kemejaku dan meremas toketku sebelah kiri dengan ganas. “Uuuugggnnnnnnn…” desahku refleks begitu merasakan tokedku diremas-remas. Tubuhku jadi menggelinjang kecil ketika pentilku dijepit kuat oleh jarinya dan dipilin-pilin. napsuku kembali berkobar, maklum tadi ngilik ndiri belum tumtas soale.

Dia membuka kancing kemejaku 2 lagi dan menyibakkannya ke samping. Kedua buah melon segar berwarna putih muncul ke permukaan, menantang. Pentilku sudah mengacung tegak sebagai indikator empunya sedang dilanda libido tinggi. Matanya melotot melihat sepasang toked yang indah tersebut. “Besar juga toked kamu In. Cowok kamu pasti rajin nggarap toked kamu ya” ujarnya tersengal-sengal penuh nafsu. Aku bersemu merah dan tidak sempat menyelesaikan jawaban karena kedua tangannya langsung mremas kedua tokedku kuat-kuat. jari-jarinya memutar-mutar bongkahan tokedku dan memilin-milin putingnya. “Om dah gak sabar ya”. “Pemanasan dulu kan bole In”. Dia membuka kancing celana 3/4 yang kukenakan, ritsluitingnya diturunkan, memekku yang berjembut di puncaknya terlihat. “Buka paha kamu In” katanya sambil membuka paha putih mulusku. Jemarinya langsung menyusup masuk kedalem celanaku dan meremas gundukan montok tersebut.

“Aiieehhh…..Ahhhhh…” pekikku kaget. Dari selangkanganku seolah ada kejutan listrik yang langsung bergerak menyebar ke seluruh tubuh. Apalagi dia tidak berhenti sampai mremas-remas saja, jari tengahnya langsung mengilik belahan bibir memekku dan langsung dikocok. “Ahhh.. ahhhh… sssshhhhhh…. “ Aku menggeliat-geliat keenakan, karena memekku yang sudah gatal karena garukan-garukan cepat jarinya. “dah banjir mem3k kamu In”. Jari tengahnya makin cepat mengocok memekku. aku mremas kuat bahunya dan kepalaku menggeleng-geleng resah “Auhh.. ahhh.. om… aahhhh…” rengekku campur horny. Dia menghentikan kocokannya dan mengeluarkan jari tengahnya dari memekku. Sambil menjilati jari tengahnya yang basah oleh cairan memekku, dia berkata, “ya udah, kita lanjutin dikamar ja ya. Bener kan, pantes napsu kamu besar banget, dikilik gitu ja dah klojotan, jembut kamu lebat gitu”. “abis om pinter banget ngiliknya, ya Inez gak tahan lah digituin”. “Palagi dikilik pake jari di selangkangan ya In”. aku senyum sambil memukul bahunya pelan, “ih om”.

Aku diseretnya masuk kamarnya, langsung aja dia memelukku dan mremas kembali tokedku dengan penuh napsu. “Aakkkhhh… ahhh…hmmppfffffffhhhhh..” desahku karena mendadak gelombang listrik dan kenikmatan melonjak dari kedua pentilku. “kenyal sekali tokedmu In” ujarnya. Serangan tangannya semakin gencar. Kedua tanganya sudah menyelusup ke balik kemejaku, dan dengan leluasa mremas-remas melon putih dan kenyal tersebut. “Hahhhh…haahhh… aammmhhhhhffffff…” desahku keenakan, apalagi lidahnya menjilati leher jenjangku dengan liarnya. Dia segera melepas kemejaku. “Wuih, segernya”, katanya sambil terus mremas tokedku. Dia kini pindah berlutut didepanku, dia sudah tidak tahan untuk mencaplok tokedku yang menggiurkan tersebut.

Dia membuka mulutnya lebar-lebar, dan mengemut ¼ tokedku dari ujung pentilnya. Kemudian dia menghisap kuat-kuat pentilku yang sudah menegang keras sampai keluar suara yang keras. Sluuuurrppp.. Slurrrppppp… Aku semakin belingsatan tokedku diperlakukan seperti itu, karena tokedku sensitif banget. “Aaaahhhhaaaahhhh…. Haahhhhhh…Shhhhhhhhh.. Enak banget om…” erangku tak tertahankan lagi. Menyadari aku makin terangsang, perlakuannya pada tokedku semakin menjadi-jadi. Cupangan memerah menyebar di sekujur bulatan tokedku yang putih.

Gelinjang tubuhku pun menjadi-jadi, dia melepaskan celana 3/4ku dan terhenyak memandangi pahaku yang putih. Gundukan memekku mencembung dengan bulu hitam dibagian atasnya. “napsuin banget liat mem3k kamu In”. aku bertelanjang bulat didepannya. “Wah wah.. kau memang sudah siap untuk dientot ternyata” katanya sambil memasukkan jari tengahnya ke sela-sela memekku yang sudah basah kuyup. Begitu jari tengahnya melesak sepenuhnya ke dalam lubang memekku, tubuhku langsung melengkung dan lenguh kenikmatankua terdengar “Ouuhhhh….hhhuuuuhhh… iyhaa.. disitu om.. benar disitu om.. kocok yang kenceng om…” pintaku penuh nafsu. Dengan senang hati dia memenuhi permintaanku. Jari tengahnya keluar masuk memekku dan diselingi gerakan mengobel-ngobel yang agak kacau, sehingga bunyi kecipakan becek terdengar. Tak sampai semenit aku mulai merasakan bahwa rasa gatal yang menggerayangi sekujur memekku terasa semakin menghebat. Semakin kencang dikocok, rasa gatal tersebut semakin memuncak. Dan tanpa dapat ditahan lagi, orgasme pertamaku di hari itu meledak juga.

“OAAAAAAHHHHH…..AGGHHHHH….HHAAAHHHHHHH..” lenguhku panjang sampai punggungku ikut melengkung akibat terpaan gelombang orgasme yang sudah kunanti dari tadi. Dia sempat terpana demi menyaksikan betapa hebatnya reaksi orgasmeku. Sedetik kemudian ia tersadar, dan cepat-cepat bangun untuk melepas pakeannya. Ketika aku mendapatkan kembali kesadarannya 30 detik kemudian, dia sudah hendak melepaskan cdnya. “kont0l om besar banget, panjang lagi”. “Mangnya kont0l cowok kamu kecil ya In”. “Besar si rasanya waktu pertama ngeliatnya, tapi dibanding kont0l om gak da apa2nya”.
“Yang gede lebi berasa In”. “Muat gak ya om di memek Inez”. “Ya muatlah, malah kamu bakal keenakan karena gesekan kont0l om ke mem3k kamu lebih berasa banget”. Dia lalu menerkam dan menindih tubuhku di ranjang, lalu dengan buas melumat bibirku. Sambil menjilati leherku, tangannya dengan cepat mremas gundukan memekku. “Om …Aaahhhhhh…..Auhhhhhh…” ucapanku berganti lenguhan terkejut bernuansa nikmat. Cukup dengan beberapa kocokan saja, memekku sudah banjir kembali. “Haahhh.. haahhhhh…. Oohhhhhh.. hmmmppffff….” desahkui blingsatan karena memekku kini dikocok dengan dua jari, yang kadang menggesek itilku. Kontolnya yang hitam pekat langsung mengacung tegak.

Dia karena konaknya sudah di ubun-ubun, langsung mengangkangkan lebar-lebar pahaku. Sambil mengocok-ngocok pelan kontolnya, dia mulai mengarahkan palkonnya ke bibir memekku. Aku tidak hanya pasrah, tapi juga sudah berharap agar kontolnya segera menghujam memekku. Dia langsung membenamkan dalam-dalam kontolnya ke dalam lobang kenikmatanku. Membuat aku agak tersedak dan melenguh pendek
“Heeggghhh..umhh..”. Dia langsung menyeringai puas “Aggghh.. rapat sekali mem3k kamu In..hahhhh”. Dia langsung menggenjotku dengan kecepatan tinggi. Lenguhan kenikmatannya mengalahkan desahan erotisku yang mulai menikmati pompaan kontolnya di liang memekku. “Hmmm…ahahhh.. ahhh.. iya om… betul gitu om.. lebih cepat om.. ahhhh..” ceracau aku keenakan. Mendengar ceracauku yang mesum itu, dia semakin bringas. Tangannya mencengkram tokedku kuat-kuat, dan genjotan pinggulnya semakin tidak beraturan. “Hebat sekali kamu In. Belum pernah om ngrasakan mem3k senikmat kamu punya”. nafsuku makin menggelora. “Aahhhhhhhh…. Hahhhhhh… Ouggggghhhhhhh……” lenguhku dalam kungkungan birahi. Aku merasa orgasmeku semakin mendekat. bibirku sudah dilumat olehnya.
“In, ganti posisi yuk”, katanya tiba2 dan dia langsung mencabut kontolnya dari memekku. aku kecewa karena aku baru saja mulai mendaki gunung orgasmeku. “Kok dicabut om”. “Iya ganti posisi biar lebi dalem lagi masuknya, kamu bakalan lebi nikmat lagi”. Dia langsung menyuruhku mengambil posisi doggy “Nungging deh yang, aku pengen nyodok kamu dari belakang”. Aku melakukannya dengan patuh. Kedua tanganku menahan body depan, kakiku tertekuk, pahaku terbuka selebar mungkin, dan pantat kutunggingkan. “Wow.. kamu emang napsuin In” ujarnya sambil menampar pantatku yang sekal dan bundar itu. “Ahhh.. “ aku cuma mengerang pelan karena tamparannya.

Tanpa berlama-lama, dia langsung memasukkan palkonnya ke sela-sela bibir memekku yang sudah basah kuyup. Sambil memegang erat pinggulku, dia mulai menekan pinggulnya dalam-dalam. “Heeppp… masih sempit aja ni mem3k” ujarnya sambil menekan agak keras sehingga setengah batang kontolnya amblas, SLEPP… “Akkhhhhhh…. “ erangku agak keras. Sambil berusaha menoleh ke belakang, aku memohon “Ayo om, langsung dikocok..Mem3k Inez udah gatel banget nihh..” rengekku manja plus horny. Dia semakin bersemangat untuk menggenjotku dari belakang. Pantatnya dengan aktif mulai maju mundur, menghajar memekku dengan hujaman-hujaman kontolnya yang besar panjang. “Aaaahhhh.. haaahhhh… ouugggghhhh.. “ lenguhku. “Hmmppff.. enak banget… Gede banget kont0l om,masuknya dalem banget om…Gillaaaa…. aahhhhh..” aku semakin terbuai nafsu birahi. Akibat pompaannya, tubuhku terguncang-guncang maju mundur dengan kuatnya. Tokedku bergoyang-goyang heboh tak tentu arah. Dia yang tidak puas cuma mremas-remas pantatku, menggapaikan tangannya untuk meraih tokedku yang bergoyang bebas.
Sambil mremas-remas sepasang daging kenyal bundar, dia menceracau keenakan “Gillaa.. toked kamu besar In. Kamu demen kan kalo om remes-remes gini..”. Dia tak perlu jawaban langsung, karena lenguhanku yang semakin keras sudah menunjukkan betapa aku juga menikmati setiap remasan di tokedku. Tidak sampai 5 menit digempur dengan doggy style, tubuhku sudah menegang. Lenguhanku semakin keras “Ahhh.. ouuuggghhhh.. cepetin om.. cepetin ngocoknya..Ahh..ahhh..” Memenuhi requestku, dia meningkatkan RPMnya. Dan…….”OUUUUUUGGGGHHHHHH…….INEZ KELUAR.. AAAHHH…” jeritku sambil mengejan-ngejan. Dia merasakan ada semprotan pelan di kontolnya. Diturunkan kecepatan kocokannya, untuk membiarkan aku cooling down dan ambil nafas dulu.

“Hah.. hah…hah… gila.. enak banget om..” ujarku dengan nafasnya masih tersengal-sengal. Dia pelan-pelan mencabut kontolnya. Walaupun sudah pelan-pelan, tetap saja aku terpekik kecil ketika kontolnya dicabut. “Auh..kok dicabut om?” tanyaku kaget. Dia tidak berkata apa-apa, tapi langsung membalikkan tubuhku sehingga terlentang. Tokedku yang menggunung indah menjadi sasaran lumatan bibirnya. Sambil mremas-remas dengan kuat, putingku dijilat-jilat dan dipermainkan dengan lidah olehnya. Libidoku langsung naik lagi. Bahkan rasa gatal di memekku kembali dengan lebih hebat. “SShhhhhh… hhmmppfffff… “ desisku keenakan karena tokedku sekarang sedang dikenyot dan dihisap kuat-kuat putingnya oleh dia. “Haahh.. hahh… om, Inez mau diatas ya” pintaku. “Hehe om emang pengen ngerasain goyangan kamu In”. Dia terlentang dan aku mengangkang di atasnya, mulai mengarahkan kontolnya ke lubang memekku. Tanpa kesulitan batang kont0l tersebut amblas langsung 3/4nya. “Heekkhhhhhh… uuuuhhhh… gede banget sihhh…” erangku, mataku sampai terpejam karena kenikmatan yang dirasa ketika batang besar tersebut menerobos dan menggesek dinding-dinding memekku yang licin.

Aku langsung mulai menggoyang pinggulku dengan gerakan naik turun, sambil tanganku bertelekan di perut sixpacknya. Slepp.. slepp.. sleppp… bunyi gesekan kontolnya dengan dinding becek memekku. “HHHhhhmmm… hhaahhhhh…. Sshhhhhh…” desahku menikmati setiap sentuhan. Karena aku diatas, dengan mudah aku mengarahkan sentuhan-sentuhan kontolnya ke titik-titik yang aku suka. Sekarang kontolnya amblas seluruhnya, dan aku mulai melakukan gerakan maju mundur, dan diselingi oleh gerakan pinggulnya yang memutar-mutar. Sensasinya? Luarr biasaaa…dia merasakan kontolnya dipilin-pilin, dan diremas-remas dengan enaknya oleh cengkraman dinding-dinding licin yang panas memekku. “Ahhh.. hhaaahhh…gillaa mem3k kamu enak bener In….” erangnya merem melek saking enaknya.

Lebih cepat dari ronde pertama, aku sudah hampir mencapai orgasme lagi. Kontolnya menggesek-gesek tepat di titik g-spotku. Rasa gatal yang sangat hebat terasa mengumpul disekujur selangkanganku, membuat aku semakin blingsatan, goyanganku berusaha menggaruk setiap titik gatal tersebut. Dia yang tau aku akan mencapai orgasmeku lagi, mempercepatnya dengan mremas tokedku yang tergantung bebas sambil memilin-milin putingnya. Betul saja, detik berikutnya aku merasakan ledakan kenikmatan muncrat di lubang memekku, “OOOAAHHHHHH……. AAAAAUUHHHH…. OUHH…Ouuhhhh….hmmmmppffffff…” jeritku penuh kepuasan. Tubuhku bergetar dengan hebatnya, dialiri sengatan listrik orgasme yang bersumber dari memekku dan menyebar ke seluruh tubuh. 15 detik setelah gelombang klimaksku berlalu, aku menjatuhkan diri di atas tubuhnya. Nafasku masih tersengal-sengal.

Dia yang sudah merasa tanggung, tidak lagi menunggu aku siap. Tangannya menggapai pantatku dan mengangkatnya sedikit, agar ada sedikit celah antara selangkangannya dengan selangkanganku. Dia mulai menggerakkan pinggulnya naik turun, karena kontolnya masih menancap dalam di memekku. Dia mengocok dengan cepat. Plak..plak.. plak.. slep..slepp. sleppp.. bunyi benturan kontolnya dengan memekku, ditingkahi oleh kecipak becek cairan memekku. “Ahh.. ahh om.. tunggu… jangan dikocok lagi.. ngiluu..” rengekku lemas. Tapi dia malah mempercepat kocokannya. Tapi, ternyata akibat kocokan ini, rasa ngilu di memekku cuma tarasa sebentar. Sekarang malah rasa gatal itu kembali dengan lebih hebat lagi. Tanpa diduga, gelombang orgasme yang lebih dahsyat dari sebelumnya meledak di selangkanganku. “HIAAHHHHHH…..AAAAHHHHH… OUUFFFHHHHHH…. INEZ KELUAR LAGI OM” pekikku ketika mencapai orgasme lagi dengan mata terpejam kuat dan tangan mremas pundak nya kencang-kencang. “Hahh.. hah…. Gila.. gila… Inez keluar lagii…” desahku lemas.

Dia bergerak menggulingkan tubuhnya, sehingga sekarang aku yang ditindih. “Om.. time out dulu..Inez nyaris pingsan om..” aku memohon dengan suara lemas. “In, om udah nanggung banget nih. Tahanin bentar lagi ya. Om udah mo keluar juga kok” katanya dengan nafas memburu karena birahinya sudah diubun-ubun kepala. Tanpa menuggu persetujuanku, dia langsung tancap torsi tinggi dalam posisi misionaris. Kontolnya menghujam memekku tanpa belas kasihan. Keluar masuk dengan cepat, berputar-putar, mengobel-ngobel dinding memek yang sempit dan semakin banjir itu. Tanpa bisa ditahan, akumengalami orgasme yang entah untuk keberapa kali. “OM… INEZ YANG KLUARR NEEHHHH…EEHHHHHHHHMMMMM..” teriakku penuh kenikmatan, sambil kelonjotan di bawah tubuhnya.

Dia mencabut kontolnya, diiringi lelehan banjir cairan memekku. Dia langsung mengambil posisi di atas perutku dan menjepitkan kontolnya di sela-sela tokedku. Kedua telapak tangannya merangkum kedua bongkah susu ranum tersebut, dan menjepitkannya kuat-kuat ke kontolnya yang sudah hampir meledakkan peju. Kontolnya dikocok dengan cepat di sela-sela tokedku. “Ouuh..”, lenguhnya kenikmatan. Tak sampai setengah menit, dia merasakan ada gerakan aliran dari pangkal batang kontolnya menuju ke palkonnya. Rasa gatal di palkonnya pun semakin menghebat. Dan ledakan orgasmenyapun terjadi juga “OOOOOHHHH… ” lenguhnya keras. Semprotan peju langsung menembak. Lelehannya memenuhi toked dan wajahku. Dan diapun langsung terbaring lemas di sampingku.

Hampir 3 menit tidak ada yang berbicara. Hanya nafas memburu yang terdengar semakin perlahan, seiring lewatnya badai kenikmatan seksual. Dia memiringkan badannya dan langsung menatapku. “Gimana In, nikmat kan?” “Banget om, tapi om kok ngecret diluar?”. “Gak apa, kan masi ada ronde kedua, masi mau kan”. “Banget om, tapi Inez istirahat dulu ya, om kuat banget ngentotnya, lama lagi, Inez lemes banget om”. “Tapi nikmatnya juga banget kan”. Aku cuma menggangguk tersenyum. “Kamu masi muda gini dah pinter banget muasin om”. “Om puas ya ngentotin Inez”. “Banget, mem3k kamu peret banget, empotannya krasa banget lagi”. “Abis kont0l om gede banget si, kan memek Inez baru skali kemasukan kont0l segede kont0l om, ampe sesek banget deh rasanya kalo dah ambles smuanya”. “Kamu nginep kan In, jadi kita bisa all nite long ni”. Aku cuma senyum sambil memeluknya mesra.

HANGATNYA TUBUH BU MISYE (cerita dewasa)

Sebenarnya cerita ini adalah cerita dewasa tentang pemerkosaan, tapi karena akhir dari cerita ini si ibu Misye ikut menikmati akhirnya cerita ini kami masukkan dalam kategori cerita setengah baya, dan semoga dapat menjadi pelajaran bagi ibu setengah baya dalam perjalanan, baik itu pulang kantor atau kepasar.

Bu Misye dalam perjalanan pulang dari tempat ia bekerja terpaksa berteduh karena dia tidak membawa jas hujan. Bu Misye berteduh di sebuah bangunan yang belum jadi namun sudah beratap. Setelah menyandarkan motornya Bu Misye mencari tepat duduk dan ternyata ada sebuah kursi panjang. Pakaian yang dikenakan suadah basah semua, Bu Misye sebelumnya berniat untuk tidak berteduh namun karena hujannya semakin lebat dan disertai angin dan petir maka ia memutuskan untuk berteduh, walaupun dalam hatinya cemas karena hari sudah menjelang gelap namun tanda-tanda hujan akan reda belum muncul.

Belum lama duduk datang seorang pemuda tanggung yang juga akan berteduh. Setelah menyandarkan Tiger yang dipakainya, pemuda itu cepat-cepat masuk ke bangunan yang belum jadi tersebut. Bu Misye pertama agak khawatir dengan pemuda tersebut namun akhirnya kekhawatirannya akhirnya hilang karena melihat penampilannya juga keramahannya. Bu Misye melempar senyum dibalas dengan senyum oleh pemuda tersebut.

Pemuda tanggung tersebut berkulit putih bersih dan wajah yang diakui oleh Bu Misye memang tampan. Pemuda tersebut duduk di kursi panjang agak berjauhan letaknya dengan Bu Misye.

“Cuma sendirian Bu?” pemuda tersebut memulai pembicaraan.

“Iya Dik” Bu Misye menjawab.

“Adik dari mana?” lanjutnya.

“Dari rumah teman, sedang Ibu sendiri dari mana?” pemuda itu menyambung.

“Dari tempat kerja Dik” Bu Misye menjawab.

“Koq sampai sore Ibu, memang tidak dijemput oleh suami atau putra Ibu?” pemuda tersebut kembali bertanya.

“Ndak Dik.. walau udah tua Ibu berusaha sendiri lagian anak-anak Ibu udah berkeluarga semua” Bu Misye menyahut.

“Eh Adik masih kuliah kelihatannya, nama Adik siapa biar enak kalau manggilnya” lanjut Bu Misye, walau dalam hatinya dia agak bingung kenapa harus bertanya namanya.

“Iwan Ibu, masih kuliah semester pertama, nama Ibu?” jawab pemuda tersebut.

“Misye” jawab Bu Misye.

“Ibu umurnya berapa koq ngakunya sudah tua?” Iwan bertanya.

“Udah hampir limapuluh Dik Iwan” jawab Bu Misye.

“Koq masih keliatan lebih muda dari usia Bu Misye lho?” lanjut Iwan.

Pembicaraan terhenti sebentar. Baju yang dipakai oleh Bu Misye yang basah secara jelas mencetak buah dadanya yang sekal terbungkus oleh BH hitam yang keliatan sangat menantang di usianya. Rambutnya yang teruarai lurus sebahu tampak basah juga. Kulitnya yang putih tampak titik air yang masih membasahinya. Iwan terus memandangi tubuh yang Bu Misye.

“Tubuh Ibu masih bagus lho, Bu Misye tentu sangat bisa merawat tubuh” tiba-tiba Iwan memecah kesunyian.

Bu Misye agak kaget dengan pertanyaan Iwan. Dia agak tersinggung dengan pertannyan itu apalagi mata Iwan yang tidak lepas dari dadanya. Anak ini ternyata agak kurang ajar.

Belum lagi keterkejutannya hilang, Iwan berkata lagi, “Tentu suami Ibu sendiri sangat sengan dengan istri yang secantik dan semolek Bu Misye” Iwan berkata sambil meremas-remas kemaluannya yang masih dibungkus celananya.

Melihat situasi yang kurang baik itu, Bu Misye tidak menjawab, dia langsung berdiri menuju ke motornya walaupun hujan tampaknya semakin menjadi-jadi. Namun tangan Iwan lebih dulu menyahut tangan Bu Misye. Bu Misye semakin marah.

“Kau mau apa haa?” hardiknya.

“Hujan masih lebat, sedang kita cuma berdua.. saya menginginkan Ibu” sahut Iwan dengan santainya sambil merangkul Bu Misye dari belakang.

“Menginginkan apa?” Bu Misye agak berteriak sambil berusaha melepaskan pelukan Iwan.

“Menginginkan tubuh Ibu..” Iwan berkata sambil tangannya beraksi menggerayangi tubuh Bu Misye dari belakang.

“Jangan Dik Iwan.. apa kamu nggak merasa umurku.. sebaya dengan ibumu” Bu Misye berusaha untuk mengingatkan.

“Justru itu saya suka” Iwan menyahut.

Tangan kirinya merangkul Bu Misye dari belakang, tangan kananya berusaha menyingkap rok yang dipakai Bu Misye setelah tersingkap ke atas Iwan mengeluarkan penisnya yang sudah keras berdiri. Tak ketinggalan CD yang dipakai oleh Bu Misye dipelorotkan ke bawah.

Tangan Iwan meraba-raba memek Bu Misye yang ditumbuhi oleh jembut yang rimbun. Jarinya berusaha masuk ke lubang kenikmatan Bu Misye.

“Dik Iwan.. To.. long.. hentika.. ka.. ka.. ka.. mu nggak se.. harusnya mela.. kuka.. ini.. Dik Iwan Iwan..” Bu Misye berusaha mengingatkan lagi dengan terbata-bata.

“Ah.. Jangan.. Dik Iwan.. Ibu.. sudah tua.. ingat..” tambahnya lagi.

Iwan tidak menggubris kata-kata Bu Misye jarinya sudah masuk ke vagina Bu Misye dan bermain-main di dalamnya. Kemudian Iwan berusaha membalikkan tubuh Bu Misye, setelah itu dengan kasar Iwan mendorong tubuh molek itu sehingga jatuh terjerebab ke tanah. Dengan posisi duduk mengkangkang Bu Misye berusaha bangkit lagi dari duduknya. Pahanya yang mulus tersingkap sampai ke pangkalnya. Pakaian bagian atas acak-acakkan tampak sebagian kutang warna hitam yang seolah tak mampu menahan volume buah dada indah Bu Misye.

Belum sempat berdiri Iwan berkata sambil melepaskan celana dan bajunya, “Bu Misye, anda berteriakpun tak akan ada orang yang mendengar.. tempat ini agak jauh dari rumah penduduk sebaiknya Bu Misye tidak usah macam-macam”

“Aku tak kan sudi melayani kamu.. anak muda” Bu Misye setengah berteriak.

“Sudah jangan banyak bicara lepaskan pakaianmu.. cepat.. daripada aku menyakiti Ibu” sahut Iwan sambil melepaskan celana dalamnya, tampak batang kontolnya yang sudah mengacung keras.

Airmata Bu Misye mulai berlinang. Dia merasa sangat ketakutan dan galau hatinya. Dia merasa tak berharga dihadapan anak muda yang pantas menjadi anaknya. Dia juga merasa menyesal berteduh di tempat itu, dia merasa juga menyesali pakaian kerja yang sering ia kenakan. Rok yang terlalu tinggi dan baju yang transparan yang memperlihatkan BHnya yang seakan tidak muat menahan buah dadanya, sehingga membuat para lelaki yang menatapnya seolah menelanjanginya. Namun dalam hatinya berkata juga bahwa baru sekarang dia melihat kemaluan lelaki yang besar, ****** suaminya tidak sebesar itu. Darahnya berdesir kencang.

Belum hilang keterpanaannya sudah dikejutkan oleh suara Iwan lagi, “Cepatt! Sudah nggak tahan nih..”

Karena dilanda ketakutan, dengan perlahan tangan Bu Misye melepas satu persatu kancing bajunya. Tampaklah payudaranya yang dibungkus oleh BH hitam.

“Cepat lepas kutangmu!” bentak Iwan.

Dalam hati Bu Misye berkata anak muda memang nggak sabaran. Setelah melepas BHnya, tumpahlah payudara Bu Misye yang masih tampak sekal dan menggairahkan, puting susunya yang coklat kehitam-hitaman tampak menantang sekali.

Iwan jongkok di dekat Bu Misye tangannya mulai menggerayangi payudara Bu Misye.

“Uh.. ah.. ah..” rintih Bu Misye ketika tangan Iwan memilin milin putingnya.

Tidak puas memilin-milin mulut Iwan mulai mendarat di pucuk anggur itu. Lidahnya menari-nari dan ketika dihisap keras-keras Bu Misye hanya bisa menggigit bibir bagian bawah dan memejamkan matanya. Setelah puas dengan buah dada Bu Misye Iwan bangkit kemudian mendekatkan kontolnya yang besar tersebut ke mulut wanita paruh baya yang lemah itu.

“Hisap.. Bu Misye” perintahnya.

“Cepatt!” bentak Iwan ketika Bu Misye belum juga melakukan apa yang ia kehendaki.

Akhirnya Bu Misye mengulum batang zakar. Pertama dia melakukan hampir saja dia muntah karena selama hidupnya dia baru melakukan beberapa kali dengan suaminya. Bu Misye seakan tidak percaya apa yang dia lakukan sekarang, dia di tempatnya bekerja adalah orang yang dihormati sedang di kampungnya dia juga orang yang disegani Ibu-Ibu. Namun pada saat ini dia sedang melakukan hal yang jorok hingga tentu kehormatannya sebagai wanita hilang sama sekali.

Iwan dengan kasar memaju mundurkan kontolnya sehingga terdengar suara nyaring menggairahkan. Setelah puas Iwan bangkit lagi kemudian di mengambil posisi ditengah-tengah di antara kaki mulus Bu Misye.

Sambil mengelus-elus kontolnya yang sudah sangat keras, Iwan berkata, “Bu Misye lebarkan lagi agar lebih mudah”

Hal yang sangat mendebarkan bagi Bu Misye akan terjadi dengan perlahan Bu Misye membuka lebar kakinya sehingga tampaklah memeknya yang tampak merekah dengan bibirnya yang agak menggelambir. Perlahan dan pasti Iwan menuntun kontolnya memasuki lobang kenikmatan Bu Misye. Iwan merasakan kehangatan memek Bu Misye dan kekencangannya seakan meremas rudal Iwan. Sebaliknya Bu Misye yang sedari tadi dengan berdebar menantikan hal tersebut seakan terhenti detak jantungnya ketika ia mulai ditusuk oleh anak muda ini. Seakan merobek barang paling berharga yang dimilikinya.

Ketika Iwan mulai mempercepat genjotannya tampaknya Bu Misye juga sudah mulai melambung ke awan. Sementara diluar hujan seakan belum mau berhenti. Iwan semakin mempercepat genjotannya. Buah dada Bu Misye tergoncang-goncang kesana-kemari. Bu Misye yang semula pasif sedikit memberi perlawanan dengan menggoyangkan pantatnya. Tangannya mengepal memukul lantai, kepalanya bergoyang menahan hawa birahi yang semakin meninggi.

Akhirnya Bu Misye tidak kuat menahan cairan yang semula ia bendung-bendung, lobang memek Bu Misye mengerut kencang ketika dia mencapai puncak. Bu Misye malu kenapa dia bisa orgame padahal ia tidak menginginkan itu. Yang lebih membuat dia bertambah malu adalah Iwan seakan mengetahui hal tersebut. Iwan tersenyum sambil terus mempercepat genjotannya. Dalam hatinya dia berkata ternyata kau juga merasakan kenikmatan juga. Dan tampaknya Iwan juga akan sampai ke puncak. Dan terdengar lenguhan panjang Iwan ketika batang kontolnya ia tancapkan dalam-dalam sambil merangkul erat Bu Misye keluarlah cairan sperma membanjiri lobang memek Bu Misye.

Iwan terkulai lemas diatas tubuh telanjang Bu Misye jiwa mereka seolah melayang sejenak.

Setelah itu Iwan bangkit dan mengambil pakaiannya sambil berkata, “Bu Misye berpakaianlah, tampaknya hujan sudah mulai reda, memek Ibu ueenak sekali, terima kasih ya Bu Misye”.

Bu Misye menatap Iwan dalam hatinya bercampur antara marah, gundah, galau. Namun satu hal yang dia tidak pungkiri bahwa dia juga menikmati perkosaan yang dilakukan Iwan.

Akhirnya Bu Misye memunguti pakaian kemudian mengenakannya kembali. Mereka berjalan ke arah motor mereka tanpa bersuara.

Tampaknya hujan sudah reda. Bu Misye menghidupkan mesin motornya, namun ia dihentikan lagi oleh Iwan.

Iwan berkata, “Bu Misye saya minta maaf akan kelancangan saya, saya tidak bisa menahan gejolak nafsu saya..”

Bu Misye tak menjawab. Ia hanya menatap wajah Iwan dengan mata yang berkaca-kaca. Iwan diam kemudian Iwan mendekatkan wajahnya dan ciuman hangat ia daratkan ke bibir Bu Misye. Pertama Bu Misye diam namun akhirnya Bu Misye membalas ciuman tersebut. Lidah mereka saling bertautan. Sejenak kemudian Bu Misye tersadar dan melepaskan ciuman tersebut kemudian melajukan kendaraannya.

Iwan hanya terdiam terpaku kemudian menaiki kendaraannya ke arah yang berlawanan. Bu Misye menerobos hujan rintik-rintik dengan perasaan yang sebenarnya terpuaskan.

Bayar Hutang Dengan Tubuh Istri (cerita dewasa)

Cerita Dewasa 17 Tahun ini cukup panjang. Jadi siapkan waktu untuk membacanya :D
Saat turun dari ketiak, ciuman dan lumatan Pakde meratai lembah dan bukit di dadanya, Rini nampak menggelinjang hebat. Pinggulnya menggeliat dan meliuk-liuk menahan kegelian yang amat sangat seperti ikan moa yang terlepas buruannya dan secepatnya berusaha menangkapnya kembali. Dan Herman juga semakin kenceng merabai kemaluannya sendiri sementara wajah Pakde Karto makin merosot ke perut isterinya.



Tidak mudah bisa bertahan hidup di Jakarta apabila seseorang tidak memiliki kepandaian, stamina dan daya tahan terhadap berbagai tekanan dan kesulitan. Dan itu semakin aku rasakan. Sejak tiga tahun terakhir aku bersama istri yang baru kunikahi meninggalkan kampungku di Sleman, Yogya, menuju ibukota Jakarta untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Hingga kini kehidupan yang lebih baik itu belum juga aku memperolehnya.

Aku mau dan pernah melakukan pekerjaan apa saja sepanjang itu halal. Dari penjaga toko, narik ojek, tukang batu atau pekerjaan lainnya yang sesuai dengan apa yang aku bisa. Tetapi itu semua nampaknya belum menjanjikan masa depan yang lebih baik.

Kebetulan ada famili jauhku, Pakde Karto yang telah lama hidup di Jakarta dan mendapatkan kehidupan yang cukup mapan. Usahanya sebagai tengkulak tembakau untuk pabrik rokok ‘gurem’ nampaknya membuat hidupnya kecukupan. Kalau aku kesulitan uang Pakde Karto selalu menjadi tujuanku dan biasanya dia mau menolongku. Dia bilang kasihan pada istriku yang masih muda harus menderita hidup di Jakarta. Dia tidak mau mengajak aku kerja di tempatnya. Alasannya karena kurang suka mempekerjakan sanak famili. Dia bilang dirinya punya sifat gampang marah dan kasar. Khawatir sifat itu bisa menyinggung perasaan dan putus hubungan kekeluargaan. Walaupun begitu dia sangat memperhatikan kepentingan kami, khususnya kepentingan istriku. Terkadang dia belikan sesuatu, misalnya baju atau perabot dapur atau lainnya.

Hanya satu hal yang aku kurang sreg dengan Pakde Karto. Kalau aku minta bantuan pinjam uang dia tidak ijinkan aku ke kantornya. Dia selalu menyuruh sampaikan saja apa kebutuhanku lewat telpon, nanti dia akan datang. Dan dia memang datang. Dia berikan pinjamanku dan dia juga bawa oleh-oleh untuk Rini, istriku.

Selama berada di rumah kuperhatikan matanya yang selalu nampak melotot memperhatikan tubuh istriku. Beberapa kali dia bertandang ke rumahku, tak pernah sekalipun dia bawa istrinya. Aku pikir dia nggak mau kesukaan melototnya saat melihati istriku terganggu. Rasanya Pakde Karto ini bandot tua. Kadang-kadang sikapnya aku anggap keterlaluan. Seharusnya dia mengetahui dirinya sebagai panutan karena lebih tua dari aku. Tetapi dia tidak pernah menampakkan perhatiannya padaku. Kalau aku ngomong, dia menyahut ‘ya, ya, ya’ tanpa pernah lepas dari pandangan ke Rini dan sama sekali tak pernah melihat padaku. Terus terang kalau tidak terpaksa aku segan berhubungan dengan Pakde Karto ini.

Dari sudut fisik, Pakde Karto ini memang masih gagah. Pada umurnya yang memasuki 57 tahun, disamping wajahnya yang memang cukup ganteng, tubuhnya juga cukup terawat baik, tangannya ada sedikit berbulu. Tingginya sama dengan aku 175-an cm. Agak gendut, mungkin karena cukup makmur. Dan tampang bandotnya memang nyata banget. Aku yakin Pakde Karto suka mencicipi berbagai macam perempuan dan tidak kesulitan untuk mendapatkan ‘daun-daun muda’.

Akan halnya Rini, istriku, dia adalah gadis idamanku saat kami masih sama-sama satu sekolah. Aku duduk di kelas 3 dan dia kelas 1 di SMU 1. Kami langsung berpacaran sejak dia masuk ke sekolah. Aku bangga dapat dia yang hitam manis dan paling ‘macan’, begitu teman-teman menyebut ‘manis dan cantik’ untuk Riniku ini. Dengan tingginya yang 170 cm, dia termasuk gadis paling semampai di sekolah kami. Kalau ada lomba volley antar sekolah Rini selalu menjadi bintang lapangan. Bukan karena menang bertanding tetapi karena macan-nya tadi. Aku tahu banyak perjaka lain yang naksir berat padanya. Walau Rini pernah juga mendapatkan julukan ‘piala bergilir’, aku tidak merasa keberatan. Dan pada akhirnya akulah pemenangnya yang bisa menggandengnya ke pelaminan.

Sesudah melewati tahun pertama pernikahan, kami merasakan adanya kurang seimbang, khususnya dalam hal hubungan seksual. Secara sederhana, Rini orangnya ‘hot’ banget, sementara aku mungkin ‘cool’ banget. Aku merasa kewalahan kalau mesti menuruti kemauannya. Dia mau setiap hari berhubungan seks. Sementara aku merasa cukup 2 kali seminggu. Untuk memenuhi keinginannya Rini memberikan aku berbagai macam jamu atau obat kuat. Pertama-tama kuikuti kemauannya itu. Tetapi hal tersebut tidak berlangsung lama. Bagaimanapun kapasitas normalku ya, seminggu 2 kali itu. Akhirnya solusinya adalah kompromi, aku akan selalu berusaha menaikkan kapasitasku dan dia sedikit menurunkan kapasitasnya. Hasilnya? Entahlah.

Walaupun belum mempunyai anak, karena kami sepakat untuk KB sampai keadaan ekonomi kami mantap, Rini tidak kekurangan kesibukkan. Dia sering menerima pesanan ‘caterring’ dari teman atau tetangga untuk hajatan-hajatan kecil di seputar rumah kami. Terkadang dia juga membuat makanan kecil untuk dititipkan ke warung-warung. Itu semua dia kerjakan dengan senang hati untuk mencari sekedar tambahan nafkah rumah tangga.

Dia juga suka mengeluh risih dengan sikap Pakde Karto. Tetapi dia bilang nggak mau terlampau risau dan tetap menunjukkan sikap sopan sebagai keponakan mantu.

Sejak beberapa bulan terakhir ini aku terseret pergaulan teman di kampung ikut main lotere buntut atau yang biasa disebut ‘togel’. Pada awalnya aku menyaksikan seorang teman menarik kemenangan sebesar 15 juta rupiah kontan. Aku langsung tergiur. Saat pertama kali aku pasang togel, Rini marah dan sangat tidak setuju. Tetapi sesudah aku berusaha menenangkannya akhirnya dia tidak lagi menentang walaupun tidak sepenuhnya menerima gagasanku. Setelah beberapa kali gagal, akhirnya dari sekian nomer yang kupasang salah satunya berhasil menang. Aku berhasil menarik 1 juta rupiah. Dengan gembira uang itu kuserahkan seluruhnya kepada Rini. Ternyata istriku ini menerimanya dengan dingin. Aku tidak putus asa dengan sikapnya itu. Aku anggap itu sebagai tantanganku untuk memenangkan kesempatan berikutnya. Kini setiap hari aku selalu sibuk dengan togel. Setiap hari berusaha mencari kode-kode nomer bagus. Mungkin lewat mimpi sendiri atau mimpi tetangga, nomer mobil yang melintas atau mentafsirkan gambar-gambar kode yang kudapat dari bandar atau tanya ke dukun.Demikianlah hal tersebut berjalan beberapa waktu dan ternyata aku tak pernah lagi menarik kemenangan yang berarti.

Pada akhirnya aku benar-benar bangkrut. Dan tak ada jalan lain kecuali aku telpon ke Pakde Karto untuk pinjam uang. Setelah berbasa basi untuk keperluan apa uang itu dan kapan aku mengembalikannya akhirnya dia setuju untuk memberi pinjaman. Sebagaimana biasa Pakde Karto datang ke rumah. Walaupun hatiku resah karena ada satu nomer togel penting yang kuyakini akan keluar malam ini tetapi aku harus sabar sampai Pakde Karto menyerahkan uangnya ke istriku Rini. Kali ini rasanya aku nggak keberatan kalau Pakde Sastro akan melotot untuk menikmati kecantikan istriku. Silahkan, yang penting duitnya cepet turun.

Sesudah aku menanda tangani pernyataan hutang yang selalu telah disiapkan Pakde dan saat amplop uang diserahkan ke istriku yang untuk selanjutnya dibawa dan dia taruh di bawah bantal, aku cepat bergerilya.

Tanpa sempat menghitung kucomot separo dari tumpukkan uang itu. Dengan alasan akan ke warung beli rokok kutinggalkan Pakde Karto di rumah bersama Rini istriku. Aku tak sempat lagi memperhatikan wajah Pakde yang langsung hingar bingar sambil menganggukan kepalanya padaku. Yang kupikir sekarang adalah secepatnya menuju tempat bandar togel dan memasang nomer pilihan. Aku akan tunjukkan pada istriku bahwa memasang togel juga merupakan usaha yang bisa menghasilkan. Lebih dari separuh uang yang kubawa kupasangkan pada nomer pilihanku dan sebagian lainnya kupasang sebagai cadangan apabila nomer pilihan meleset. Aku yakin besok bisa mengembalikan utangku pada Pakde dan sisanya yang masih sangat besar akan kuserahkan seluruhnya pada istriku.

Demikianlah perputaran kehidupanku akhir-akhir ini. Nomer togel itu nggak pernah lagi kumenangkan. Rini selalu marah-marah dan semakin sinis padaku. Dan hutangku pada Pakde Karto sudah tak terhitung lagi. Pada hari-hari terakhir ini aku selalu lari menghindar kalau orang suruhannya datang mencari aku. Dan melihat wataknya Pakde Karto pasti akan terus mengejarku hingga uangnya bisa kembali.

Pada suatu pagi datang utusannya membawa surat. Aku tak berani menemuinya. Isteriku menerima surat itu,
“Datanglah ke kantor. Jangan khawatir. Ada jalan keluar yang sama-sama menguntungkan. Saya tunggu siang ini. Pakdemu.”
Ah, nampaknya kali ini Pakdeku benar-benar mau membantu keponakannya yang sudah pusing tujuh keliling. Aku berpikir dia akan suruh aku membantu pekerjaannya di kantor agar aku bisa melunasi hutangku. Sesudah aku pamit istriku tanpa ragu aku datang ke kantornya.

Di kantornya aku langsung diantar Satpam masuk ke ruangan Pakde. Pakde menyuruh aku duduk di sofa dan menyuruh Satpamnya yang nampak kekar berotot itu agar berdiri menunggu. Ternyata Pakde menampakkan wajahnya yang sangar. Dia melihati aku seperti seorang pemangsa melihati korbannya. Dengan pandangan matanya yang bak elang siap mencabik-cabik mangsanya Pakde berbicara dengan garang, “Begini Herman. Aku tahu kamu nggak mungkin bisa membayar hutangmu yang hingga saat ini telah mencapai lebih dari 15 juta rupiah belum termasuk hitungan bunganya. Sekarang hanya ada satu pilihan yang menyelamatkan kamu atau urusannya jadi lain,” dia mengakhiri omongannya sambil melirik ke Satpamnya.

Dalam keadaan yang sangat putus asa mana mungkin aku punya gagasan-gagasan untuk memecahkan masalahku. Dan tekanan Pakde Karto ini memang pantas aku terima. Aku memang sudah banyak janji tak bisa kupenuhi. Aku bangkrut dan istriku terus marah-marah. Maka secepatnya aku pasrah saja. Aku menyerahkan pada Pakde. Apapun jalan keluarnya aku akan menyetujuinya yang penting hutangku lunas. Nampak sikap Pakde melunak. Dia suruh Satpamnya meninggalkan ruangan.

Pakde mendekat sambil menepuk pundakku. Dia minta aku mendekatkan kupingku. Beberapa saat dia membisikkan usulnya. Sejak awal bisikkan kupingku sudah langsung panas terbakar dan aku benar-benar terpojok tanpa punya pilihan. Pakde bilang, aku bisa melunasi hutangku kalau dia boleh mengajak isterku Rini ke villanya. Kalau aku tidak setuju mesti melunasi hutangku dalam tempo 1 kali 24 jam atau urusannya jadi lain.

Masih ada tambahkan lagi, dia akan tidur bersama Rini selama 3 hari dan agar aku ikut juga ke villa. Pelayannya sengaja dia liburkan karena Pakde takut mereka lapor ke istrinya. Aku harus menggantikan tugas pelayan-pelayan itu untuk membersihkan kamar dan melayani kebutuhan Pakde bersama Rini istriku selama di sana.

Dia bilang hal itu terpaksa dia lakukan sebagai pelajaran untukku. Kini aku harus cepat pulang untuk menyampaikan hal ini kepada istriku. Besok pagi dia akan mengirim mobil untuk menjemput aku dan Rini. Kami harus berlagak sebagai suami istri yang datang dan menginap di villa itu. Pakde Karto akan datang sendirian menjelang sore hari yang akan berlagak seolah-olah sebagai tamu kami.

Rupanya naskah Pakde sudah dirancang secara matang. Mataku langsung berkunang-kunang mendengar bisikkan iblis itu. Aku tak ingat apa-apa lagi dan terjatuh lemas ke lantai. Saat aku sadar kulihat Satpam tadi sudah mendudukkan aku ke sofa. Aku diberinya minum. Aku masih terhenyak beberapa saat. Pakde Karto tak kulihat lagi. Dia hanya pesan pada Satpam untuk menyampaikan sebuah amplop. Saat kubuka kulihat dua puluh lembar 100 ribuan rupiah dan secarik surat, “Herman, besok mobil menjemput kamu bersama Rini, jam 7 pagi. OK?! Pakdemu.”
“Bajingan..!”

Aku tak melihat jalan keluar. Dengan sebelumnya aku minta maaf yang sebesar-besarnya, dengan susah payah aku sampaikan keinginan Pakde Karto. Istriku Rini menerima amplop Pakde Karto menengok isinya sambil mendengarkan bicaraku kata demi kata dan kemudian melihat aku dengan penuh iba. Aku tak mampu membaca perasaan dia. Dia nampak marah dan sangat kecewa padaku. Pasti sepertinya sangat dihinakan dan itu sangat menyakitkan. Aku juga langsung membayangkan Pakde akan menjamahi bagian-bagian tubuhnya yang indah dan sangat rahasia. Pakde akan melahapnya dengan kerakusan bandot tua. Dasar ibliiss..!!
Selesai aku bicara Rini rubuh ke lantai. Ah, kasihan kamu Rini.. Kamu jadi korban ketidak mampuanku. Aku gagal menunjukkan tanggung jawabku selaku suamimu. Aku sebenar-benarnya adalah suami yang pengecut. Ayoo.., bangunlah. Kuraih tangannya untuk bangun dari lantai. Dengan limbung dia tertatih dan bangkit. Dia langsung lari ke kamar tidur sambil menghempaskan pintunya. Kususul tetapi ternyata pintunya terkunci. Kucoba mengetok-etoknya. Akhirnya kubiarkan. Sebaiknya kubiarkan. Biarlah dia melampiskan kemarahan dan kekecewaannya dulu. Pasti dia tidak ingin aku mendekatinya. Dan pasti, entah bagaimana, Rini saat ini sangat memandang aku dengan penuh kehinaan.

Aku mencoba sabar dengan menunggunya hingga sore. Sementara rasa marah, cemburu, dendam, cemburu, cemburu dan cemburu terus mengejar aku setiap aku mengingat ucapan Pakde Sastro. Tetapi aku langsung ingat masa-masa masih pacaran dulu. Aku sering memergoki Rini, yang pacarku waktu itu, nampak jalan berduaan dengan teman lelaki yang lain. Waktu itu aku selalu berpikir positip. Aku yakin dengan kesabaranku akhirnya Rini akan tetap kembali ke aku. Dan itulah yang kemudian terjadi. Dialah yang kini menjadi Rini Herman, khan?! Jadi aku sesungguhnya sudah terbiasa dengan rasa cemburu yang kali ini berkobar dalam hatiku. Aku tetap akan berpikir positip adanya Pakde Sastro bersama Rini istriku selama di villa nanti. Apalagi dengan cara ini Pakde Sastro berjanji akan menganggap lunas seluruh hutang-hutangku.

Dan besok, aku bersama Rini harus telah siap saat mobil Pakde datang. Dari berbagai pikiranku yang campur aduk, harapanku tetap pada Rini. Harapanku Rini bisa memahami kondisi ini. Dan Rini siap untuk melayani keinginan Pakdenya.. Ah.. aku sudah semakin pusing.
Aku tak mampu lagi memikirkan tetek-bengek apa yang mungkin bisa terjadi. Lebih baik kini aku sedikt mencari hawa segar.

Kulihat amplop di meja. Aku ingat nomer impianku hari ini. Ah, nggak salahnya kalau aku ambil sedikit uang itu. Aku langsung bergegas ke bandar togel.

Cerita Rini Sang Istri

Masa sekolah adalah masa yang paling menyenangkan. Begitu lulus SMP 3 aku diterima di SMU 1 Sleman, Yogyakarta. Sebagai gadis remaja yang menginjak dewasa aku dimanjakan alamku. Alam telah bermurah memberikan aku kecantikan. Dan bak kembang yang sedang mekar, kumbang-kumbang di sekitarku setiap saat mengelilingi aku untuk siap mencicipi maduku. Dalam kelompok olah raga, dengan tinggi tubuhku yang 170 cm aku diterima sebagai anggota club volley SMU. Setiap ada kompetisi, biar kalah atau menang aku selalu menjadi bintangnya. Para jejaka antar SMU pada mengenali ‘macan’ku. Demikian mereka memberi julukan padaku yang mereka artikan sebagai manis dan cantik. Tentu saja hal itu amat membanggakan dan sekaligus membuat para siswi dan gadis-gadis cemburu dan iri. Aku bersikap ramah pada siapapun yang berusaha mendekati aku.

Beberapa pria memang memberikan kesenangan padaku. Aku pikir tidak salah kalau aku memberikan perhatian lebih pada mereka. Salah satunya adalah Ditto yang anak dokter itu. Dia sangat simpatik. Wajahnya yang tampan telah membuat aku kesengsem. Aku merasakan ciuman pertamaku dari Ditto ini. Duh.., rasanya selangit. Aku juga akrab dengan Usman. Dia anak yang paling cerdas di sekolahnya. Dia bercita-cita menjadi ahli pertanian dan peternakan. Kesulitan pelajaranku selalu kutanyakan kepadanya. Usmanlah yang menjadi pria pertama yang berani menjamah dan bahkan menyedoti buah dadaku. Saat itu, dia cerita tentang proses kelahiran ikan paus. Sesudah sekian bulan dalam kandungan ikan paus lahir sebagaimana binatang menyusui lainnya. Dia langsung bisa menyesuaikan lingkungannya yang di tengah samudra. Anak ikan paus langsung bisa berenang dan mencari susu induknya. Aku sangat menikmati saat dia memperagakan sebagai anak paus dan aku induknya.

Lain lagi dengan Pandi. Tubuhnya yang jangkung itu membuat dia menjadi banyak incaran gadis-gadis di kota kecil Sleman ini. Kuakui memang dengan jangkungnya itu dia nampak sangat menawan. Gadis-gadis suka cekikikan kalau membicarakan Pandi. Mereka berbisik mengenai penis lelaki jangkung yang dipercayai pasti panjang dan besar. Aku ingin menjadi yang pertama bisa menbuktikan bisikkan-bisikkan para gadis itu. Dan akhirnya aku percaya. Dan aku jadi blingsatan serta penasaran saat berkesempatan jalan dengan dia.

Saat itu dengan sepeda motornya dia mengajak aku menyaksikan Samudra Hindia dari Parangtritis yang tidak jauh dari kotaku. Sesudah menelusuri pantainya yang sangat indah kami beristirahat di tempat yang sunyi dari pengunjung kebanyakan. Sesudah melalui proses saling raba dan cium yang cukup lama, dengan tetap duduk di sepeda motornya Pandi membiarkan saat tanganku merabai tonjolan di selangkangan celananya. Aku juga tidak tahu kenapa nafas birahiku memburu. Tanganku melepasi resluiting dan menarik kebawah celananya.

Birahiku semakin tak tertahankan saat kulihat alur besar agak melengkung melintang dari balik celana dalamnya. Tanganku merabai, kemudian menyusup lewat tepiannya dan meraih penis itu. Woow.. gede banget. Telapak tanganku merasakan batangan sebesar pisang tanduk yang keras kenyal dan hangat. Batangan itu berdenyut-denyut menggoyahkan saraf-saraf birahiku. Kugerakkan bersama jari-jariku untuk mengelusinya. Kudengar suara yang sangat nikmat ditelingaku. Suara debur Samudra Hindia dan derai angin Parangtritis bersamaan erangan nikmat dari mulut Pandi.

Itulah untuk pertama kalinya aku melihat dan menyentuh dan bahkan mencicipi air mani lelaki. Saat mau muncrat kelakuan Pandi menjadi kasar. Kepalaku diraihnya untuk dipaksa mengulum penisnya. Air maninya yang kental keluar dari setiap denyutan penisnya. Karena dorongan birahiku, aku juga menjilati yang tercecer di pahanya dan juga di jok sepeda motornya. Aku nggak habis mengerti kenapa sesudah itu Pandi tak pernah lagi mengajak aku pergi.

Kuperhatikan teman-teman pria itu gede cemburuannya. Mereka mau monopoli aku. Aku menjadi kurang nyaman dalam kungkungan macam itu. Biasanya, kalau tidak mereka, ya aku yang meninggalkannya untuk pergi ke pria lain.

Akhirnya aku menikah dengan Mas Herman. Ternyata lelaki macam dialah yang bisa menerima aku dengan penuh sabar. Aku tahu Herman telah naksir berat padaku begitu aku menginjak SMU-nya. Sebagai yunior aku sering mendapatkan bantuan mengenai perpustakaan, grup olah raga atau acara antar siwa lainnya.

Herman memang sabar dan penuh toleransi. Bahkan saat dia melihat aku jalan berdua-an dengan anak lelaki yang lain Herman tidak merubah sikapnya padaku. Herman juga selalu jadi terminal dan tempat aku mengadu. Kekecewaanku pada pria lain kuceritakan apa adanya padanya. Dia sabar mendengarkan aku dan pada sikapku yang labil. Aku merasakan libidoku kelewat panas. Aku tidak hidup tanpa ada lelaki disampingku. Dan Hermanlah akhirnya yang selalu mengisi kekosonganku.

Saat kami sepakat pindah ke Jakarta aku sudah siap untuk menghadapi berbagai cobaan hidup. Aku punya bakat bertualang. Dan salah satunya sudah kubuktikan dalam hal berhubungan dengan lelaki. Aku tidak takut kesulitan di Jakarta. Aku yakin pada diriku, aku juga tidak khawatir dengan Herman yang selama ini mengetahui dan sabar menghadapi berbagai macam kesulitan.

Yang kurang aku setujui akhir-akhir ini adalah kesukaannya akan lotere buntut. Aku benci banget kalau lihat lelaki sibuk dengan lotere buntut atau togel itu. Di mataku mereka itu kumuh. Bayangkan saja, mandi saja rasanya tidak sempat. Mereka terjebak pada kertas-kertas kode. Sepanjang harinya hanya memikirkan ramalan-ramalan dukun atau firasat mimpi-mimpinya bahkan mereka ini sudah demikian rapuh dimana sebuah keyakinan bisa langsung buyar berkeping-keping oleh nomer plat mobil yang kebetulan melintas di depannya.

Itulah Herman hari ini. Dalam tempo pendek dia terlibat hutang yang besar. Pakde Karto adalah Pakde sepupunya yang kebetulan punya usaha yang cukup maju di Jakarta. Pada Pakdenya inilah Mas Herman minta pinjaman uang kalau lagi kesulitan. Pada awlnya pinjaman itu tak begitu besar dan bisa lekas dikembalikan saat ada sedikit rejekinya. Tetapi sejak bermain togel, kebutuhannya semakin tinggi dengan kemampuan pengembaliannya semakin rendah, bahkan boleh dibilang nol. Pakde sudah tidak mau memberikan pinjaman lagi. Bahkan beberapa hari terakhir ini orang suruhannya mencari-cari Mas Herman yang selalu menghindar. Terus terang aku repot banget menghadapi kenyataan ini.

Tadi pagi orang suruhannya kembali datang membawa surat. Aku terima dan baca. Dari nada tulisannya Pakde Karto akan memberikan jalan keluar yang sama-sama menguntungkan. Nggak usah kawatir, begitu katanya. Aku berpikir, mungkin Mas Herman dimintanya untuk membantu pekerjaannya agar bisa melunasi hutangnya. Aku sampaikan surat itu kepadanya. Dia minta pertimbangan aku, apa mesti menemui Pakdenya. Aku bilang itu urusan Mas Herman, terserah mau datang atau tidak. Aku memang agak ketus. Soalnya aku sudah kesal. Sejak awal aku sudah sampaikan bahwa aku tidak suka judi.

Akan halnya Pakde Karto, aku memahami sifatnya sebagai lelaki. Umumnya lelaki memang mata keranjang. Apalagi Pakde ini punya uang, dan tampangnya juga ‘handsome’ kata gadis-gadis jaman aku masih SMU dulu. Walaupun sudah umur, lelaki itu ibarat keladi, makin tua semakin jadi dan semakin seksi. Dan itu semua dimiliki Pakde Karto. Dan aku juga sepenuhnya menyadari bahwa Pakde nampak kesengsem padaku. Dari pandangan matanya kurasakan betapa dia pengin banget melahap tubuhku. Terus terang diam-diam aku menikmati mata keranjangnya Pakde. Tentu sikapku ini tak akan kutunjukkan pada Herman suamiku. Aku masih suka mimpi merasakan kembali bagaimana kumbang-kumbang terbang mengitari aku sebagai kembangnya. Kekaguman lelaki yang nampak matanya rakus menikmati tubuhku sungguh membuat bergetar hatiku. Mata-mata penuh nafsu yang seakan melihat aku telanjang itu benar-benar memberikan aku gairah birahi.

Aku memang berdarah panas. Aku selalu rindu belaian. Aku selalu merindukan sentuhan dan tusukkan erotis. Mas Herman suamiku berterus terang tidak bisa mengimbangi darah panasku. Aku sering membayangkan lelaki lain atau semacam Pakde Karto yang mampu memberikan kehangatan semacam itu. Kalau sudah begitu aku ingat kembali saat-saat bersama Ditto, Usman atau Pandi. Masih terasa banget dihidungku aroma mereka. Masih terasa banget dibibir dan lidahku di bibir, leher dan dada mereka dalam kecupan dan jilatan manisku. Masih terasa banget hangatnya cairan kental dari penis Pandi yang membasahi mulutku. Ah.., akankah hal itu akan kudapatkan lagi?

Memang Pakde Karto tidak lagi pantas menjadi panutan Mas Herman sebagai keponakannya. Setiap kali datang ke rumah yang semestinya urusannya sama Mas Herman, Pakde justru mengumbar matanya seakan hendak menelanku. Sering aku lihat dia hanya mengangguk-angguk saat Mas Herman menyampaikan sesuatu, sementara wajahnya melihati ke arahku.

Belum lama ini dia datang atas permintaan Mas Herman untuk meminjami uang, sesaat sesudah menerima uang Mas Herman yang sedang kegilaan sama togel pergi ke bandar togel untuk mengejar mimpinya dan meninggalkan aku yang hanya bersama Pakde Karto. Tentu saja Pakde langsung menggunakan kesempatan itu untuk lebih mendekati aku.

Dengan gaya seolah-olah orang tua yang melindungi anaknya, dia mengelusi rambutku,
“Rini, kalau kamu punya masalah biar Pakde bantu ya. Kamu masih muda dan sangat ayu. Seharusnya kamu nggak perlu menderita. Kamu perlu apa? Ngomong saja nanti aku bantu ya, Cah Ayu”.
Duh, gombalnyaa.. Aku merinding saat tangannya yang nampak berbulu sempat menyentuh kudukku. Kemudian dia merogoh kantongnya dan memberikan kepadaku amplop besar,
“Ini buat kamu sayang. Jangan kasih Herman. Nanti buat judi lagi.”
Tentu saja aku terima. Aku juga perlu uang pribadi. Aku bertemu pandang dengan Pakde,
“Terima kasih,” ucapku pelan yang dia balas dengan senyuman buaya sambil tangannya menjumput daguku kemudian menariknya untuk mencium bibirku.

Peristiwa itu sama sekali tak kuduga dan berlangsung sangat cepat sehingga aku tak sempat menghindarinya kecuali dengan secepatnya aku menarik diri dan melepaskan dari rengkuhannya. Ah, seharusnya aku tersinggung dengan tingkahnya itu. Tetapi entahlah. Sepertinya aku tidak bisa berkutik didepan Pakde Karto ini. Pada saat seperti ini rasanya dia sangat kharismatik. Aku tunduk. Aroma parfum lelakinya semburat menerpa hidungku.
Sepulang dari kantor Pakde kulihat Mas Herman sangat tegang, kasihan. Aku berjanji pada diriku, apapun aku akan bantu suamiku. Aku ingin meringankan bebannya. Dia langsung duduk bengong, linglung. Aku sodorkan segelas air putih yang langsung diminumnya habis. Dia belum juga ngomong. Diserahkannya padaku amplop yang penuh. Loh, kok dapat malahan uang, pikirku. Aku langsung membukanya. Kudapati segepok uang dan secarik kertas. Aku belum juga ngerti makna semua ini.

Pakde Karto akan menjemput kami besok pagi. Apa maksudnya? Mau menjemput kemana? Dengan penuh tanda tanya aku goyang-goyangkan tubuh Mas Herman. Akhirnya dengan tersendat-sendat dia bicara dan bicara. Aku mencoba menangkap kata per kata. Kemudian aku mencoba memahami rangkaian kata-kata tadi. Hingga akhirnya aku tetap tak mengerti bahwa seorang Pakde Karto akan caranya yang demikian buruk untuk bisa mendapatkan dan menikmati tubuhku. Ah, kenapa mesti begini..?!

Tetapi yang sesungguhnya paling menyedihkan dan langsung membuatku sangat kecewa adalah sikap Mas Herman sendiri. Dia sama sekali tidak menunjukkan kapasitasnya sebagai suami. Dia ternyata hanyalah seorang pengecut. Dia dengan begitu tega mengorbankan aku sebagai isterinya. Dengan dia menerima amplop berisi uang yang kini ditanganku berarti dia benar-benar telah menjual aku dan menjadikan aku sebagai alat untuk membayar hutang-hutangnya dengan sama sekali tidak membicarakannya padaku terlebih dahulu. Dan kini, aku harus dan harus menerima buah kepengecutan dia. Aku langsung limbung. Kulihat dinding-dinding kamar oleng dan jungkir balik. Tubuhku sangat lunglai dan aku langsung terjerembab ke lantai. Aku kini merasa sebatang kara tanpa ada seorangpun yang melindungiku. Fungsi Mas Herman sebagai suami sudah musnah karena kepengecutannya. Dia tak akan pernah mampu menyelamatkanku lagi.

Kurasakan tangan Mas Herman menarikku bangkit. Pelan-pelan aku bangun dari lantai dan langsung lari ke kamar tidur. Pintunya kubanting dan aku mengunci diriku. Aku rebah tergolek dan tersedu di ranjang. Ketukan pintu yang bertubi-tubi dari Mas Herman tak kudengarkan. Kini yang hadir dalam hati dan pikiranku adalah rasa marah, kecewa dan dendam. Aku marah, kecewa dan dendam kepada kehidupan ini. Kepada ketidak mampuan dan segala kelamahan yang aku alami. Kepada sikap suamiku yang bagitu mengabaikan saat aku melarangnya berjudi. Dan tetap tak habis heranku memikirkan rencana Pakde Karto itu yang jelas-jelas mengorbankan hubungannya dengan keponakannya. Ber-jam-jam aku tidak keluar dari kamar. Pikiranku terus melayang-layang memikirkan banyak hal-hal. Aku menerawang jauh ke hari depan yang begitu gelap dan mendung.

Aku keluar kamar menjelang malam. Tak kujumpai Mas Herman. Kulihat amplop di meja setengah terbuka. Kuambil. Ternyata isinya tinggal separuh.
Edaann.., sungguh edaann.. kamu Mas.., dalam situasi begini kamu masih menyempatkan pergi untuk ke bandar togelnyaa..!! Edaann..!!
Tiba-tiba aku hatiku jadi menyala berkobar.. Kalau begini jadinya, sudahlah.. terjadilah apa yang mesti terjadi. Seperti dicambuk jilatan geledek dan petir aku bangkit sebagai banteng betina yang sangat marah dan kecewa. Aku mau bebas. Aku mau merdeka. Dan, ah, aneh.., tekad itu langsung membuat marah, kecewa dan dendamku langsung pupus. Kebebasan dan kemerdekaanku membuka kesadaranku bahwa aku tak perlu tergantung siapapun. Dan yakin mampu berjalan sesuai dengan rasa bebas dan merdekaku.

Sikap itu langsung membatu dalam diri sanubariku. Aku akan mengambil langkahku sendiri. Kini kuyakini, akulah yang harus mengambil keputusan untuk diriku sendiri. Tak ada lagi suami atau Mas Herman. Yang ada hanyalah aku yang sendirian dengan hari-hari depanku sendiri. Aku akan jalani apa yang mesti aku jalani. Aku akan jemput Pakde Sastro sesuai dengan kebebasan hatiku. Aku akan layani dan puaskan hausnya nafsu hewaniah Pakde Sastro. Aku akan mereguk kenikmatan syahwatku yang selama ini tak sepenuhnya kudapatkan. Aku akan tunjukkan pada Herman bahwa aku kini bebas se-bebas-bebasnya.

Cerita Pakde Karto

Setiap mengingat bahwa aku ini hanya jebolan SMP dari desa kecil di kecamatan Sleman, Yogyakarta, yang kalau aku turun di terminal saat pulang kampung masih memerlukan 1 jam lagi berjalan kaki dan nyeberangi kali hingga sampai ke rumahku di kaki bukit Menoreh, maka aku merasa bahwa apa yang kini aku bisa raih di Metropolitan Jakarta ini sungguh membanggakan.
Dan kalau aku pulang kini, ibaratnya aku cukup dengan duduk di jok empuk sambil nginjak-injak rem serta gas mobil Panther-ku sejak start dari pintu garasi rumahku di Jakarta hingga turun di samping kandang sapi orang tuaku di desa kecil di kecamatan Sleman itu.

Jakarta memang memberi apa yang kuminta. Usahaku yang menyalurkan tembakau untuk pabrik-pabrik rokok kecil di Jakarta membuahkan hasil. Aku menjadi pusat omongan di desaku.
Kalau kudengarkan omongan orang desa, aku kini sudah menjadi orang yang pantas menjadi contoh mereka. Nggak tahu dari mana asalnya, kalau mereka ketemu mereka memanggilku dengan ‘den Karto’. Aku nggak menampik panggilan itu. Aku anggap bahwa itu urusan mereka.

Yaahh.., semuanya itu karena kerja keras dan uang yang kuhasilkan. Terbukti dengan uang aku bisa meraih banyak kesenangan. Makan enak, rumah, beberapa mobil dan kesengan lainnya.
Bahkan biarpun umurku sudah 57 tahun dengan uang itu aku tetap dengan gampang menggaet gadis atau janda manapun yang kumaui. Memang menurut orang-orang aku juga termasuk lelaki yang memiliki tampang dan seksualitas yang lumayan.

Saat ini aku lagi kesengsem sama Rini istri Herman keponakan sepupuku. Pada awalnya Herman menemuiku di kantor untuk minta bantuan keuangan padaku. Aku memberikan bantuan ala kadarnya. Aku pikir nggak baik terlalu gampang pada famili, nantinya bisa jadi repot. Saat pulangnya, karena memang masih ada hubungan famili, aku antar pulang ke rumahnya untuk melihat keadaan rumah tangganya. Saat itulah aku lihat Rini. Isteri Herman ini benar-benar cantik dan manis. Pikiranku langsung terganggu. Aku tahu, perempuan macam Rini ini akan sangat galak dan panas saat di ranjang. Dengan warna kulit yang coklat hitam manis, dengan postur jangkung dan bahunya yang bidang indah itu, aku pastikan Herman kewalahan menghadapi birahinya Rini. Lihat, betisnya itu. Betis yang ‘merit’ bak padi Cianjur yang matang dan padat sebelum dituai. Itu menandai bahwa nafsu perempuan ini tak mudah terpuaskan.

Aku langsung kasmaran. Dalam hatiku aku langsung bertekad. Rin, kamu pasti akan tidur bersamaku. Aku akan meraihmu, lambat atau cepat. Sejak saat itu aku selalu menunggu kesempatan. Aku tak pernah menolak permintaan pinjaman uang Herman, karena memang aku selalu gunakan kesempatan itu untuk melihat Rini.

Suatu saat bisnisku mendapatkan kesulitan keuangan. Tagihan-tagihanku agak tersendat karena para langgananku mengulur waktu pembayarannya. Sementara para pemasokku yang dari berbagai daerah gencar banget menagih aku. Bahkan salah satu dari mereka mengancam aku secara fisik hingga aku khawatir akan keselamatanku maupun keluargaku. Aku menghadapi krisis berat, krisisnya bisnis di tengah metropolitan yang kejam. Aku kewalahan. Aku coba tengok-tengok kembali dimana uang-uangku. Dimana tunggakan-tunggakan macet.

Dan kudapatkan dari sekian penunggak hutang salah satunya adalah Herman. Ternyata pinjaman Herman padaku sudah kelewat besar dan telah jauh melewati batas waktu pembayaran. Ah, ini tak boleh kubiarkan. Aku tahu bahwa tak akan gampang bagi Herman melunasi hutang-hutang ini. Tetapi aku harus menagihnya. Bukankah terakhir ini dia suka pasang lotere buntut. Siapa tahu dia dapat pukulan telak yang bisa langsung melunasi seluruh hutangnya. Dan kalau toh tak bisa juga?
Bukankah ada Rini istrinya yang sangat seksi itu? Aku pikir biarlah hutang itu kuanggap lunas kalau aku bisa meniduri Rini barang 2 atau 3 hari saja. Kini kuperintah orangku untuk mendatangi Herman dan mengajukan surat tagihannya.

Setelah beberapa kali mencari-cari orangku tak berhasil menemui Herman aku mulai kesal. Masak bantuan dan kebaikanku padanya selama ini tidak dihargai. Setidak-tidaknya ada omongan atau janji kapan, begitu loh. Aku tersinggung dan marah. Herman ini mesti dikasih pelajaran. Dia harus tahu bagaimana aku Pakdenya menyelesaikan masalah-masalahnya. Aku harus cari siasat. Aku coba pikirkan dan analisa.

Kesimpulanku akhirnya, bahwa Herman tak akan mampu membayar hutangnya. Kuhitung telah lebih dari 15 juta rupiah, belum termasuk bunganya. Itu jumlah yang besar buatku kini. Aku tak mau rugi. Aku tak mau hasil jerih payahku begitu saja diambil Herman yang memang dasarnya pemalas itu. Aku harus mendapatkannya kembali uang itu. Kalau nggak bisa juga, aku harus dapatkan pengganti yang kira-kira nilainya sepadan. Rini, istrinya!

Kini Herman tinggal pilih, bayar hutang dengan uang atau Rini. Aku bergegas ke mejaku. Kutulis surat untuknya. Kuperintahkan orangku kembali mengantarkannya dengan pesan, kalau tak ketemu Herman, serahkan saja ke isterinya, suruh dia baca untuk disampaikan ke suaminya. Aku bersiasat dengan memberikan nada harapan pada surat itu. Aku minta datang ke kantor siang hari itu. Aku bilang jangan khawatir, ada jalan keluar yang sama-sama menguntungkan, tulisku.

Nah, akhirnya datang juga si pecundang ini. Dengan diantar Satpam dia masuk keruangan kerjaku. Aku menampakkan wajah sangarku. Kuperintah Satpamku agar menunggu dan mendengarkan bicaraku. Nampak wajah lelahnya. Aku bicara garang tentang hutangnya yang sama sekali belum dibayar. Aku berikan padanya kesempatan untuk mendengar bicaraku atau urusannya jadi lain. Nada bicaraku kubuat sangat menekan dia. Dan ternyata Herman langsung menyerah. Dia bilang terserah bagaimana aku. Yang penting dia ingin lekas terbebas dari hutang-hutangnya yang menumpuk itu.

Aku langsung bayangkan bahu bidangnya Rini. Juga betisnya yang bak beras Cianjur yang matang itu. Kutolehkan kepalaku ke Satpam. Kusuruh dia keluar ruangan. Kemudian aku mendekat ke Herman, kupegang bahunya dan kudekatkan bibirku ke telinganya, aku berbisik. Kuucapkan apa mauku. Aku mau mengajak Rini ke villaku selama 3 hari dan aku mau juga dia ikut untuk menggantikan tugas pelayanku yang kusuruh pulang selama aku bersama Rini di sana. Hal ini aku lakukan agar pelayanku itu tidak melihat apa yang kuperbuat dan lapor pada istriku. Kutekankan pula bahwa semua ini karena ulahnya yang tidak bertanggung jawab. Dia harus menerima pelajaran dariku.

Aku belum selesai bicara saat kulihat Herman nampak limbung dengan cahaya matanya yang layu. Dia rebah lemas ke lantai. Aku panggil kembali Satpamku untuk mengurusinya. Kuserahkan amplop berisi 20 lembar ratusan ribu rupiah berikut sedikit catatanku agar Rini bersama dia telah siap aku jemput besok jam 7 pagi. Aku percayakan pelaksanaan selanjutnya pada Satpamku, aku tinggalkan ruangan. Aku monitor sorenya. Tidak ada reaksi penolakkan dari Herman. Yaa.., dia nggak mungkin punya lain pilihan. Dan mengenai Rini. Aku yakin Rini tak akan menolakku. Aku masih ingat beberapa hari yang lalu saat aku mencuri ciuman dibibirnya, dia tidak menunjukkan kemarahan. Ah.. besok aku akan menikmati tubuh sensualnya. Aku menggigil menahan gelora birahiku yang langsung menyala.

Tiga hari di Villa Rimbun Ciawi

Pada suatu pagi hari, sekitar jam 7 pagi sebuah sedan Honda Civic keluaran terbaru dengan remnya yang berdernyit berhenti di depan rumah keluarga Herman. Seorang sopir yang amat sopan nampak turun, masuk kehalaman dan memberikan salam hormat kepada nyonya rumah yang rupanya sudah nampak tak sabar menunggunya. Tidak terlalu lama sang sopir menunggu, tuan dan nyonya rumah mengambil koper atau cangkingan lainnya yang telah disiapkan sebelumnya. Sesudah semua barang bawaan masuk ke begasi, Herman sang tuan dan Rini sang nyonya memasuki mobil. Ada sedikit insiden kecil. Rini mau Herman duduk di depan bersama sopir dan dia sendirian di belakang. Semula Herman menolak, dia ingat pesan Pakdenya mereka harus nampak sebagai suami istri yang akan memakai villanya.

Tetapi melihat kukuhnya Rini akhirnya Herman mengalah. Sepanjang hampir 1 jam perjalanan keduanya tidak banyak bicara. Hanya sesekali terdengar Herman ngomong sama sopir mengenai apa yang nampak sepanjang perjalanan. Adapun Rini kelihatannya sedang berusaha untuk menenangkan dirinya. Dia yang telah memutuskan dirinya sebagai pengambil keputusan bagi dirinya sendiri kini nampak tegar dan yakin akan keputusannya sebagai orang yang bebas dan merdeka untuk menentukan apapun yang terbaik bagi dirinya.
Walaupun saat ini dia masih dikuasai rasa muak dan telah kehilangan selera sama sekali untuk berbicara atau melihati tingkah suaminya itu, dia tetap berusaha untuk menghilangkan berbagai rasa kecewa dan dendam kepada siapapun teristimewa kepada Herman. Yang dia inginkan sekarang adalah menunjukkan kepada Herman bahwa dia berbuat apapun yang bisa dia perbuat sesuai keinginan hatinya.

Herman yang tadi malam baru pulang jam 11 malam untuk menunggu keluarnya nomer togel tidak memahami apa yang tengah berkecamuk pada diri istrinya Rini. Yang dia simpulkan hanya bahwa Rini ternyata mau menerima apa yang menjadi keputusan Pakde Karto. Dan itu artinya dia telah sukses dalam menjalankan misinya demi terbebasnya beban hutangnya pada Pakde Karto. Dia sudah tidak lagi dikuasai rasa cemburu atau rasa tertekan yang lain. Memang Herman termasuk lelaki yang paling mudah menyerah. Dengan sikapnya yang sabar dan selalu mau berpikir positip dia dengan cepat beradaptasi dengan kekalahannya. Tentu saja cara begini ini membuat rancu antara orang sabar dengan pikiran positif yang sejati versus orang yang memang tidak memiliki motivasi, daya juang dan stamina untuk bertahan di tengah berbagai kesulitan hidup macam si Herman ini.

Bangunan Villa Rimbun Ciawi milik Pakde Sastro ini relatip kecil dibandingkan halamannya yang hampir seluar 2 hektar itu. Dalam vila ada 2 kamar tidur, 1 utama yang besar lengkap dengan kamar mandi di dalam dan yang lainnya lebih kecil. Ada dapur yang lengkap dan ruang tamu berikut perabotannya yang sangat nyaman. Di belakang rumah ada taman yang asri lengkap dengan kali kecil yang mengalir di dalamnya. Nampak dikejauhan lebih ke belakang hutan pakis dan pinus yang bersuasana sangat alami. Kesejukkan pegunungan di kawasan Ciawi ini membuat villa ini terasa sangat romantis dan tepat bagi mereka pasangan yang sedang berbulan madu. Setelah menyerahkan kunci villa bersama amplop surat Pakde Karto khusus untuk Rini dan bungkusan besar berisi makanan untuk siang itu, Pak sopir minta pamitan untuk balik ke Jakarta.

Sepulang Pak sopir, Rini cepat membuka surat itu. Herman tahu menempatkan diri. Dia berpura tak acuh, berdiri dan jalan ke beranda. Pakde bilang agar Rini menempati kamar utama yang besar, dan Herman memasuki kamar di sebelahnya yang kecil. Pakde akan datang sekitar jam 3 sore, karena masih ada beberapa pertemuan di Jakarta. Tanpa bicara Rini kemudian menyerahkan surat itu kepada Herman agar tahu apa yang dimaui Pakdenya. Dengan membanting pintu dan menguncinya Rini memasuki kamar utama sesuai kemauan Pakde Karto. Dan Herman langsung mengangkat tasnya sendiri ke kamarnya.

Ah.. kamar ini.. betapa mewah dan nyamannya.. Diarah samping nampak jendela besar dengan pintu ke beranda yang memberikan pemandangan indahnya alam pegunungan. Sesudah menaruh kopernya Rini mengamati interior kamarnya. Di samping ranjang mewah yang beralaskan sutra dia dapati vas besar dengan kembang mawar merah yang segar. Haahh.. tentunya sesorang telah menatanya sebelum dia datang. Mungkin Pakde yang, siapa tahu, nginap disini tadi malam dan menyiapkan segalanya, kemudian subuh balik ke Jakarta. Ah.. ada surat kecilnya..
“Rini sayangku.. aku mencintaimu .. Karto.”

Lihat di pojok itu. Bukankah itu wewangian aroma therapy di atas lilin kecil dari Korea yang sangat mahal itu? Sangat romantis. Rini sangat tersanjung dengan pernik-pernik itu. Sungguh pintar bulusnya Pakde Karto ini.

Rini ingin tahu lebih banyak lagi apa yang telah diperbuat Pakde Karto. Dia temukan baju tidur lembut tergantung di lemari pakaiannya disamping beberapa gaun-gaun mewah dan baru yang juga siap pakai. Dia pastikan semuanya itu untuk dia. Sesuatu yang belum pernah dia dapatkan dari suaminya sendiri. Dia ambil gaun-gaun itu dan bak peragawati dia memantas-pantaskan gaun-gaun itu pada tubuhnya di depan cermin. Sesekali dia senyum ketika menerawang ke cermin. Ah, bukankah kamu memang cantik dan luwes, Rin. Semua busana-busana itu dalam ukuran yang sungguh tepat untuk tubuhnya. Bukan main Pakde ini.

Berjam-jam dan hampir sepanjang hari Rini menyibukkan dirinya di kamar utama itu. Dia kembali membaca surat kecil romantis itu, Dia kembali mengamati wewangian mahal dari Korea itu dan berkali-kali mencoba pakaian-pakaian indah dan mewah yang bermacam dalam lemari itu.

Sementara itu Herman memasuki kamarnya. Tidak ada yang istimewa dia temukan dalam kamar itu. Mungkin ini kamar yang biasa dipakai pelayan atau penunggu villa ini. Nampak ranjangnya ditutup dengan sprei yang sudah lusuh. Kalau toh ada semburat wewangian itu karena aroma therapi yang semerbak menyebar keluar dari kamar utama dimana kini Rini berada. Sementara satu-satunya pemandangan adalah jendelanya yang justru menghadap ke arah jalanan dengan lalu lalang berbagai macam kendaraan yang melintas. Selebihnya adalah dinding-dinding kamar yang menjadi batas kamarnya dengan kamar Rini.

Ohh.. tunggu dulu. Bukankah ini dinding artistik buatan dari papan-papan kayu pegunungan. Dan lihatlah, papan-papannya yang artistik ini penuh celah-celah dimana sesorang bisa mengintip ke kamar sebelahnya. Nah, aku bisa ngintip Rini, dong. Sedang apa dia?

Dan itu yang kemudian dilakukan Herman. Dan, ah.. benar.. dia kini bisa melihat istrinya sedang memantas-mantas dirinya dengan busana-busana indah yang pasti telah tersedia baginya. Ah, betapa cantik istriku Rini, begitu kata hatinya. Memang dia selalu bangga akan kecantikkan istrinya. Dan Herman tahu banyak lelaki yang kepingin bisa tidur dengan Rini.

Kemudian dia membayangkan sesaat nanti akan menyaksikan dari celah papan ini bagaimana Pakde Karto si bandot tua itu melahapi tubuh cantik isterinya itu. Ah, jangaann..!!
Tiba-tiba kembali Herman disergap rasa sakit dan cemburu yang menyala-nyala. Rasanya tak mungkin dia bisa rela menyaksikan Rini dalam pelukan Pakdenya. Dan akan melihat bagaimana Pakdenya melepasi satu-satu pakaiannya hingga istrinya bertelanjang. Dan bahkan dia akan dalam rengkuhan penuh birahi Pakde Karto yang juga akan sama-sama telanjang. Tiddaakk..!!

Herman kepingin membenturkan kepalanya ke dinding-dinding kamar itu. Tetapi kenapa?? Bukankah karena pengorbanannya dan juga pengorbanan istrinya hutangnya yang kini mencekik lehernya itu akan lunas? Bukankah dia akan terlepas dari beban yang tak tak terelakkan itu? Dan Pakdenya tidak lagi mengejar-kejarnya? Ah.., aku rasa pantas apa yang mesti aku terima kini. Dan itu artinya, nilai istrinya tidak murah. Bayangkan hutang yang lebih dari 15 juta rupiah cukup dibayar dengan membiarkan Pakdenya tidur dengan isterinya selama 3 hari. Dan bukankah sesudah itu dia bisa kembali memiliki Rini untuk selamanya? Hanya 3 hari, Man!

Pikiran terakhirnya ini langsung meredakan perasaan marah, sakit dan cemburunya. Dia kembali ke lubang pengintipan. Tiba-tiba dia merasakan hal yang aneh pada dirinya..

Celananya langsung berasa sesak. Kini kemaluan Herman ngaceng saat membayangkan istrinya digauli Pakdenya. Memang terbersit rasa cemburunya kembali, tetapi dia juga membayangkan bagaimana nanti saat Rini menerima kenikmatan syahwat yang dilepaskan oleh Pakdenya. Bagaimana nanti dia mendengar rintihan dan desahan-desahan nikmat Rini sekaligus nafas-nafas yang memburu dari Pakde Karto. Bagaimana nanti tubuh telanjang Rini bergesekkan dengan tubuh telanjang Pakdenya untuk bersama-sama mendayung birahi dan melepaskan dendam-dendam nafsunya. Bagaimana nanti bibir Pakdenya yang melumati pentil susu istrinya dan sementara kemaluan Pakde berusaha mencari jalan untuk menembusi kemaluan istrinya. Dan bagaimana nanti saat kemaluan Pakde, yang dia yakin ukurannya pasti lebih hebat dari miliknya, menerjang dan merobek bibir kemaluan isterinya. Dan bagaimana nanti dinding-dinding vagina Rini dirundung rasa gatal kemudian mencengkerami batangan bulat besar dan panjang milik Pakdenya.

Ah.. sudah, sudah, sudaahh..!! Herman langsung lari keluar kamar. Dia nggak mau dikejar bayangannya sendiri. Dia menghambur ke taman dimana ada kali kecil yang mengalir di dalamnya. Dia hendak melupakan segala sakit dan cemburunya dengan menyibuki diri menangkapi ikan dan udang kecil dari kali itu untuk dilepaskannya kembali.

Hingga Pakde Karto datang Rini tidak pernah keluar dari kamarnya. Hari itu sama sekali tak ada dialog antara Herman dan Rini sebagai suami isteri. Nampaknya Rini memang menghindar dari kemungkinan dialog itu. Rini pasti kecewa padaku, demikian pikir Herman. Ah biarlah, yang penting dia sudah mau menuruti kemauan Pakdenya. Bayangkan seandainya Rini menolak, apa yang akan menimpa dirinya nanti. Dia bayangkan Satpam Pakdenya yang kekar berotot itu.

Pakde Karto datang lebih lambat dari janjinya disebabkan kemacetan lalu lintas saat memasuki gerbang tol Jagorawi. Begitu mobilnya memasuki halaman Pakde Karto turun dan melemparkan kuncinya kepada Herman yang telah siap di depan gerbang untuk berlaku sebagai pengganti pelayannya. Kini dialah yang harus membersihkan atau mencuci mobilnya sesudah perjalanan yang penuh debu dan kotor dari Jakarta itu.

Dari dalam rumah nampak Rini yang istrinya memperhatikan perlakuan Pakde pada suaminya. Tak terbersit sedikitpun keharuan Rini pada Herman. Rini akhirnya bisa menerima apa yang kini harus dilakukan suaminya. Suatu imbalan yang setimpal atas kepengecutannya sebagai lelaki maupun sebagai suami. Dan kini juga ingin menunjukkan pada Herman bahwa kini dia bulan Rini yang dulu. Dia kini adalah Rini yang bebas dan merdeka yang bisa mengambil keputusan apapun yang dia mau.

Begitu Pakde Karto memasuki teras rumahnya, secara menyolok didepan suaminya Rini keluar dari dalam untuk menyongsongnya. Sambil menebar senyuman dia menggait lengan Pakde Karto memasuki villanya. Herman hanya bisa mengikuti dengan ekor matanya. Dan Rini, lihatlah, dia seperti dewi dari surga. Rini mempersiapkan dirinya secara maksimal untuk menyambut Pakde. Dia memakai busana yang paling sensual. Nampak dari bahu dan dadanya yang setengah terbuka. Bahunya yang bidang itu menyajikan pesona sebersit ketiaknya sedemikian sensual.

Pakde Karto terpana. Dia tidak menduga bahwa Rini sedemikian antusias menyambut kedatangannya. Sebelumnya dia masih berpikir bahwa akan ada sedikit atau banyak kesulitan dalam menghadapi Rini ini. Ada apa? Mungkinkah ini merupakan ungkapan kekesalan Rini pada Herman suaminya? Ah, .. Pakde Karto tak sempat berpikir jauh. Parfum Rini telah menyeret naluri syahwatnya terbang ke-awang-awang. Rini langsung menggelandang Pakde menuju kamarnya. Ah, nanti aku akan tahulah, demikian acuhnya sambil menyambut rangkulan Rini pada lehernya, tangan-tangan Pakde merengkuh pinggul Rini.

Mereka kini saling berpagut. Kehausan bertahun-tahun Pakde Karto pada Rini kini tertumpahkan. Dan bagi Rini inilah puncak pelampiasan dari tumpukkan kemarahan, kekesalan dan kekecewaan pada kehidupannya yang telah beberapa waktu terus menjepit dan menyengsarakannya. Dia terus berusaha menapaki kehidupan yang baru ini. Tanpa ragu-ragu, tangannya dengan terampil melepasi ikat pinggang Pakde Karto. Dia ingin selekasnya menjamah khayalannya. Dia ingin merasakan apa yang pernah dia rasakan dulu bersama Pandi di pantai Parangtritis. Kalau waktu itu gemuruhnya ombak Samudra Hindia, maka kini gemuruh nafsu birahi di dadanya yang akan mengiringi pelampiasan syahwatnya. Gemuruh nafsu birahi Rini dan kehausan syahwat yang amat sangat Pakde akhirnya bertemu dalam kamar Villa Rimbun Ciawi ini.

Akan halnya Herman yang telah siap menerima apapun yang harus dia saksikan. Bahkan kini dia sudah memiliki solusi. Dia akan ikut menikmati apa yang terjadi dari balik dinding artistik kamarnya. Dia akan menyaksikan adegan-adegan yang pasti bisa merangsang birahinya. Dan dia akan bisa meraih kepuasan syahwat juga seperti mereka berdua. Dan kini kembali rasa sesak langsung memenuhi selangkangan celananya. Tangannya bergerak membetulkan letak kemaluannya untuk mengurangi jepitan celananya yang menyakitkan.
Sesudah dengan cepat menyelesaikan tugasnya Herman kembali memasuki kamarnya. Dengan hati-hati dia mulai mengintip dari celah papan itu dan menyaksikan ulah Pakdenya bersama Rini isterinya. Nafasnya terdengar memburu sejalan dengan apa yang dia saksikan melalui celah dinding papan artistik itu. Dia lihat bagaimana Pakdenya bersama istrinya bercumbu. Nampak celana Pakdenya telah merosot ke lantai dan tangan istrinya menggenggam kemaluannya yang gede panjang itu.

“Edan, penis Pakde itu.. penis kuda.., Duh penis Pakdee.. penis ituu..,” teriakkan histeris dari hati Herman melihat kemaluan Pakdenya yang membuatnya terpana.

Dia benar-benar terpesona dengan penis Pakdenya. Dan lebih-lebih lagi saat menyaksikan tangan indah dan manis isterinya yang biasa memegang berbagai macam makanan cattering pesanan tetangga itu kini menguruti batang penis yang berkepala mengkilat kecoklatan. Sementara Pakdenya dengan buas menyedot dan menggigiti dari leher turun ke susu dan puting-putingnya hingga membuat Rini menggeliat dan mendesah hebat sambil matanya merem-melek dan kepalanya tergeleng-geleng dan mendongak kelangit-langit kamar utama Villa Rimbun Ciawi itu.

Blusnya sudah lepas entah ke mana. Susu-susunya nampak ranum menggunung dan putingnya mencuat siap untuk lahapan haus nafsunya Pakde Karto. Sesekali kedengaran sentakan rintihannya. Itu disebabkan sesekali gigitan Pakde menyentuhi saraf-saraf peka pada buah dadanya yang sangat ranum itu.

Tanpa melepas pagutannya mereka bergeser dan bergeser untuk menuju rebah di ranjang. Masih dalam busana atas yang lengkap dengan dasinya yang setengah copot, sementara bagian bawahnya sudah telanjang bulat Pakde Karto menindih Rini. Ditelentangkannya kedua lengan Rini ke atas hingga kedua ketiaknya terbuka. Kemudian dengan penuh kehausannya Pakde Karto menyosorkan bibirnya melumati lembah-lembah indah ketiak Rini. Rini mendesah sambil bergelinjangan menggeliat-liat. Tak diragukan, pasti akan banyak nampak cupang-cupang bekas sedotan-sedotan ganas pada ketiak itu nantinya.

Dan kini Herman melihat mereka sambil mulai mengelusi kemaluannya sendiri. Kupingnya menikmati rintihan atau desahan istrinya. Sementara tangannya terus mengikuti alur sedotan dan jilatan Pakde yang turun dari ketiak ke lembah dan bukit di dada Rini isterinya itu.

Herman agak kesal, posisi Pakde Karto yang mencumbui istrinya tak nampak jelas disebabkan celah papan ini kelewat sempit. Yang jelas bisa dia tangkap jelas tinggalah suara-suara penuh iba nikmat. Betapa rintihan Rini dan dengus Pakdenya saling bersahut telah membuat dirinya semakin blingsatan karena terbakar birahinya. Tanpa sepenuhnya dia sadari, dia juga ikut-ikutan melepasi celananya, hingga tinggal kolornya yang tinggal. Tangannya merogoh kolor itu dan mengurut dan memijit-pijit kemaluannya. Herman ikut terbawa melayang bersama Pakde yang sedang melahap rakus isterinya.

Saat turun dari ketiak, ciuman dan lumatan Pakde meratai lembah dan bukit di dadanya, Rini nampak menggelinjang hebat. Pinggulnya menggeliat dan meliuk-liuk menahan kegelian yang amat sangat seperti ikan moa yang terlepas buruannya dan secepatnya berusaha menangkapnya kembali. Dan Herman juga semakin kenceng merabai kemaluannya sendiri sementara wajah Pakde Karto makin merosot ke perut isterinya.

Tak pelak lagi Rini mendesah keras dan tangannya seakan mengiringi desahannya menangkap kepala Pakde Karto dan menjambaki rambutnya untuk menahan badai birahinya. Dan Pakde semakin menggila. Kini bibirnya sudah me-lamuti bulu-bulu kemaluan Rini dan kemudian meluncur cepat ke bibir vaginanya.

Nampak banget bagaimana bibir Pakde Karto mencaplok untuk melumati bbir vagina Rini. Lidahnya yang menjilat sambil menyeruak menusuki vaginanya membuat Rini histeris. Tingkahnya yang jatuh bangun disertai derasnya desah dan rintih memaksa Herman mempercepat pijitan dan remasan pada kemaluannya, bahkan kemudian dengan cepat merubahnya menjadi kocokkan ritmis.

Sambil terus melototkan matanya untuk menembusi lubang intaian yang sempit, kocokkan Herman yang semakin cepat nampak seperti pompa piston lokomotif diesel penarik Parahyangan Ekspres. Herman tak tahan lagi untuk menahan spermanya. Dan terjadilah orgasme Herman. Yaitu orgasme pertama yang diraih berkat menyaksikan istrinya meliuk-liuk merasakan hebatnya nikmat digauli orang lain yang bukan suaminya. Rasanya inilah spermanya yang paling banyak tertumpah semenjak perkawinannya dengan Rini.

Pakde secara intensif memberikan kepuasan penuh sensasi syahwat pada Rini. Dia melakukan oral seks secara habis-habisan padanya. Lidahnya yang besar dan kasar tentunya menyentuhi organ-organ vagina yang peka dan lembut mlik Rini. Dan akibatnya tak terkatakan lagi, Rini bak kesetanan. Tenaganya berubah menjadi sangat kuat. Kedua pahanya yang berposisi menjepit leher Pakde menekan bahu Pakde untuk menaikkan pinggul dan mengangkat pantatnya. Tujuannya jelas agar tusukkan lidah Pakde bisa lebih jauh menembusi lubang vaginanya. Kegatalan yang amat sangat pada vaginanya itu pula yang membuat kedua tangannya terus menariki kepala ataupun rambut Pakde untuk lebih menekankan ke arah kemaluannya.

Pakde yang sangat berpengalaman ‘ngerjain’ para perempuan, tahu bahwa Rini sudah menunggu penisnya yang kini juga telah melar keras untuk secepatnya menusuki vaginanya. Dengan akar-akar sarafnya yang mengitari geligir batangnya serta desakkan darah yang menumpuk pada kemaluannya hingga membuat sang penis itu membengkak besar dan kepalanya licin mengkilat, kini Pakde sigap merubah posisi. Ditariknya kedua tungkai kaki Rini hingga arah vaginanya tepat di pinggiran ranjang. Kemudian dia angkat salah satu tungkainya untuk disandarkan pada panggulnya di bahu. Dengan cara itu Pakde mengasongkan penisnya yang sudah matang itu ke lubang kenikmatan vagina Rini. Sekali.., dua kali..

Herman kembali mengintip. Sesudah beberapa kali kepala penis Pakdenya yang besar sedikit kesulitan menembusi vagina istrinya yang sempit. Pada tusukkan yang kesekian kali disertai desisan panjang dan kemudian disusul dengan teriakkan nikmat, akhirnya penis gede itu berhasil menembus vagina Rini istrinya. Bleesszz..

Menyaksikan itu semua kemaluan Herman cepat kembali menegang. Dan agar menjadi leluasa, Herman melepas pula celana kolor berikut celana dalamnya. Dan tangannya kembali mengelusi sambil berharap bisa selekasnya tegak kenceng lagi. Herman ingin meraih orgasmenya yang kedua.
Disaksikannya Pakde Karto mulai memompa istrinya. Dan Rini sang istri benar-benar tak berdaya oleh serangan syahwatnya. Sambil meracau dengan ucapan kata-kata erotis kotor di tengah desisan-desisannya, dia meremasi sprei atau bantal atau apa saja yang bisa diraihnya hingga ranjang itu berantakkan. Kepalanya bergoyang keras ke kanan dan kiri sambil melempar-lemparkan rambutnya yang indah itu.

Dan dari arah lebih tinggi dengan satu kaki isterinya di panggulannya mata Pakde Karto mengamati tingkah Rini serta menyimak segala racau dan desisan histerisnya itu. Dia mainkan pompaannya seakan berputar menyodok ke kanan atau kekiri atau ke atas atau ke bawah. Itulah ‘multi jurus’-nya Pakde. Dengan cara itu vagina Rini serasa di-ubek-ubek. Gatalnya tak lagi tertolong. Dan karena itu pula kini Rini mulai menapaki puncak kenikmatannya. Rini mulai menyongsong orgasmenya yang sejati. Orgasme yang rasanya belum pernah dia raih dari siapapun.

Herman tahu, selama ini belum pernah melihat isterinya sedemikian histeris sebagaimana yang dia saksikan kini bersama Pakde Karto. Rupanya Pakdenya ini tahu benar apa yang ditunggu Rini. Dan kini dia sedang suguhkan itu. Dari racau dan geliat serta menghebatnya remasan-remasan tangannya pada apapun yang dia raihnya, Rini kini menggelinjang hebat. Pinggulnya dia angkat-angkat tinggi-tinggi serasa hendak menjeputi kemaluan Pakde agar menusuk lebih dalam lagi ke vaginanya. Dan ketika akhirnya puncak-puncak itu benar-benar datang, wajah Rini langsung berubah ganas. Matanya menjadi nanar tanpa titik pandang. Dengan teriakkan bak hyena kelaparan Rini bangkit mendorong dan merubuhkan Pakde untuk ganti rebah telentang ke kasur. Dia ‘cengklak’ tubuh Pakde seperti seorang joki men’cengklak’ kudanya. Dengan gaya seakan hendak duduk tangannya merogoh dan meraih penis Pakde untuk dia tusukkan ke vaginanya, dan dengan cepat vaginanya langsung menelan amblas seluruh batangan kemaluan Pakde. Kini Rinilah pemegang kendali.

Dengan cepat dia menaik turunkan pantatnya memompakan penis Pakde ke vaginanya. Herman melotot mengamati vagina Rini yang bisa memuntahkan dan kemudian menelannya kembali kemaluan gede panjang milik Pakde Karto. Dari arah belakang pantatnya, nampak oleh Herman bagaimana bibir vaginanya ketarik keluar dan kedorong masuk terbawa oleh keluar masuknya kemaluan Pakde yang memang sangat sesak dan sarat memenuhi belahan dan rongga vagina isterinya itu.

Dan akhirnya datanglah malaikat nikmat itu.. Rini seakan membantingkan tubuhnya ke tubuh Pakde. Dia menggigit dada dan mencakar-cakar punggungnya. Vaginanya berdenyut keras menghisap-isap atau melumat-lumat batang kenyal milik Pakde. Itulah tanda bahwa orgasme beruntun-runtun sedang melanda Rini.

Mungkin runtunan orgasmenya itu berlangsung hingga 20 atau 30 detik sebelum akhirnya tubuhnya gugur dan rubuh dengan keringatnya yang mengucur menindih dan membasahi tubuh Pakde Karto. Villa Rimbun Ciawi yang sebelumnya berubah menjadi panas oleh radiasi yang memancar dari tubuh indah Rini kini sejuk kembali.

Dari balik dinding Herman juga ikutan terkapar bersama tarikan-tarikan nafas panjangnya. Dimatanya dia menyaksikan Pakde Karto telah menunjukkan peranannya sebagai pelayan seks yang benar-benar hebat. Herman merasa banyak belajar dari apa yang dia lihat hampir selama 1 jam ini. Pakde bisa membaca arah kemana Rini mau. Dia mengejar kepuasan tetapi dia meyakini kepuasannya akan dia raih apabila Rini, lawannya telah lebih dahulu terpuaskan. Dan bagi dia, sebagai lelaki, kepuasannya tidak perlu diraih seketika. Dia masih memerlukan stamina untuk berjalan lebih panjang. Sebagai lelaki memerlukan stamina macam itu lebih dari perempuan. Dengan cara itu rupanya Pakde Karto akan menikmati sepanjang malam pertama ini. Dan Herman mulai mengerti, bagaimana Pakde Karto akan mampu melayani Rini kapan saja, setiap saat. Dan segala marah, sakit atau cemburu akan sia-sialah di depan Rini sepanjang dia tidak mampu melakukan seperti yang Pakdenya bisa lakukan.

Sore itu sesudah permainan pertama, yang mungkin oleh Pakde hanya dipandang sebagai pemanasan, mereka berdua mandi bersama. Cukup dengan teriakkannya Pakde menyuruh Herman untuk menyalakan gas LPJ yang membakar water heater di kamar mandi utama. Sesudah mandi air hangat, dengan keduanya memakai mantel tidur lembut yang tersedia di kamarnya Pakde bersama istrinya bercengkerama di beranda villa. Atas permintaan Rini Herman disuruh Pakdenya untuk membeli sate kambing di warung sate sebelah villanya.

Malam itu Rini bersama Pakde menikmati sate kambing panas di meja makan. Herman mesti sabar menunggu mereka selesai makan untuk bisa ikut menikmati sate kambing dingin sisa mereka. Dia menerima semua perlakuan ini dengan sabar dan berpikir positip. Ahh.. Herman.. Herman.., hebat kau..

Selesai makan Rini dan Pakde pergi ke beranda dan duduk berhimpit di sofa. Villa bulan madu ini seakan memang dibuat untuk mereka. Dari balik pot-pot tanaman di samping beranda Herman merunduk mengintip diantara dedaunannya. Herman yang mentalnya sudah jatuh menjadi mental pelayan itu melihat bayang-bayang istrinya dalam rengkuhan Pakdenya kembali. Dia amati betapa asyik istrinya dan Pakdenya saling berpagut bertukar lidah dan ludah. Dan lihat, betapa agresifnya si Rini. Tak pernah dia bersikap begitu pada dia selama masa perkawinannya.

Dia saksikan bagaimana tangan Rini yang demikian lancar melepasi ikatan tali. Dengan sekali renggut lepaslah temali mantel tidur itu hingga tubuh Pakde langsung terbuka. Kemudian dengan rakusnya bibirnya kembali menyambar bibir Pakde Karto sambil tangan kanannya, tangannya yang cantik dengan jari-jarinya yang lentik itu meremas dan mengelusi batangan gede penis Pakde Karto. Ah, Rini.. Riniku.., batin Herman yang menangisi isterinya.
Rini meliukkan lehernya. Kepalanya menggiring bibirnya meluncur ke leher Pakde. Dia memberikan sedotan cupang di seputar leher dan kuduknya. Bulu-bulu Pakde tegak merinding.

Kecupan dan jilatan itu mendongkrak saraf-saraf birahinya. Dan bibir seta lindah terus merambat meluncur turun ke dadanya. Dia kecupi buah dada Pakde dan bibirnya serta lidahnya menggigit dan menjilati puting-puting susunya. Nampak betapa bibir-bibir mungil istrinya membuka dan mengatup mengecupi bukit-bukit dada itu. Sesekali lidahya menjulur untuk menjilati berbagai rasa yang keluar dari pori-pori tubuh Pakdenya. Kini yang didengar Herman adalah desis Pakde yang menahan geli birahi akibat ulah istrinya itu. Tak puas-puasnya Rini menyedoti dada Pakde. Terkadang rambatan bibirnya juga menepi ke kanan atau ke kiri dada hingga semburat aroma ketiak Pakdenya yang tampan itu menerpa hidung Rini.

Rambatan ciuman itu terus meluncur turun keperut Pakdenya. Bulu-bulu halus mulai Rini rasakan di lidahnya. Bulu-bulu itu tumbuh berkesinambungan dari arah lebih bawah lagi. Bulu-bulu itu menjadi awal bagi lidah dan bibir Rini memasuki wilayah kemaluan Pakde Karto. Nampak penisnya yang tegak kaku bak tugu Monas itu seakan mengganjal leher dan bahu Rini. Dengan pipinya Rini menyisihkan batang tegak kaku itu untuk membuka jalan menggiring bibirnya terus turun hingga ke selangkangan Pakde. Beberapa kali Pakde menyibak sebaran rambut Rini agar tidak mengganggu alur lidah dan bibirnya yang terus berkecipak menyedot dan menjilat. Dia rasakan sangat nikmatnya bak siput sawah yang sedang merambati wilayah selangkangannya.

Tentu saja kini posisi duduk Pakde harus disesuaikan dengan kejaran nikmat bibir Rini ini. Dia memerosotkan tubuhnya pada bantalan sofa itu untuk memberikan ruang yang lebih terbuka kepada Rini saat mulai menggarap kedua selangkangannya. Dan kini wajah Rini benar-benar terjebak dalam rimbunan bulu kemaluan di seputar selangkangan Pakde Karto. Sesekali nampak kepalanya menggeleng kecil untuk mendorong agar lidah atau bibirnya bisa menjangkau pori-pori selangkangan itu.

Nampaknya Pakde tak mampu menahan kegelian yang melandanya. Dengan kedua tangannya dia merengkuh dan menjambak rambut Rini. Dia merintih sambil seakan hendak mencabut-cabut akar rambut itu. Dan rintihan Pakde itu membuat Rini semakin ganas serta liar untuk meningkatkan serangan birahinya. Pipinya yang semula digunakan untuk menyisihkan penis, kini dia gunakan untuk menariknya kembali. Batangan penis Pakde yang tonggak kaku itu mulai dia jilati. Dia tusukkan lidah lembutnya pada lubang kencing Pakde. Lubang kencing yang nampak macam belahan jamur merang itu langsung merah merekah menahan desakan darah syahwat yang menjalari penisnya.

Betapa nikmat saat lidah menyentuh saraf-saraf peka pada lubang itu. Gelinjangnya membuat Pakdenya seakan melonjak dari tempat duduknya. Mungkin itu semacam kekagetan saraf menerima sentuhan lembut lidah Rini yang sangat merangsang syahwatnya. Dan kemudian Rini mengkulum seluruh kepala dan batang penis itu. Dia memompa, menyedot, menjilat, mengkulum tonggak bulat panas yang kaku dan berkilatan dengan urat-urat yang kasar mengelilingi seluruh geligirnya.

Pemilik tonggaknya mendesah keras dan merintih dalam gelombang nikmat yang datang bertubi.
Herman memperhatikan betapa mata istrinya merem melek menikmati kelakuannya sendiri itu. Dan juga bertanya, kenapa dia nggak pernah menerima perlakuan macam itu selama 3 tahun perkawinan ini?? Adakah ini karena kepiawaian Pakde Karto dalam menggiring birahi Rini? Sehingga membuat seluruh potensi syahwat istrinya terdongkrak keluar?

Rambut Rini yang panjang sering menghalangi pandangan Herman pada apa yang sedang berlangsung. Nampaknya Rinilah yang sekarang ganti memanjakan Pakde Karto dengan oralnya. Dia ciumi dan jilat bijih-bijih pelir Pakde. Lidahnya bolak-balik melata merambati pangkal hingga ujung kemaluan yang tegak kaku itu. Pakde Karto tidak keliru membaca perempuan. Betul-betul kini dia serasa terbang melayang diangkasa nikmat. Apa yang kini sedang dilakukan Rini sesuai dengan bacaannya. Rini adalah perempuan seksual yang sangat galak dan panas. Perempuan dengan betis ‘merit’ macam istri Herman ini tak mudah dipuaskan. Oleh karenanya pada garapan awal tadi Pakde Karto pusatkan pada bagaimana Rini bisa cepat disambar syahwatnya hingga tinggal kehendaknya sendirilah yang akan mendorong cepat atau lambat datangnya orgasmenya. Dan itu sudah terjadi.

Kini perempuan ini sudah kembali menimba birahinya. Kenikmatan orgasme beruntun yang dia rasakan tadi membuatnya ketagihan. Lihat, kini dia akan berusaha orgasmenya berulang kembali. Dia pikir dengan merangsang penisnya Pakde Karto akan cepat mengejar nafsunya. Dan harapan Rini untuk digenjoti lagi oleh Pakde akan kesampeyan. Tetapi dia keliru. Pakde Karto bukan anak kemarin sore. Dia bukan Herman. Kenikmatan yang kini diberikan Rini akan di ‘follow up’ di mulut Rini sendiri. Kini Pakde sedang mengamati dengan penuh nafsu bagaimana mulut cantik mungil Rini mengecupi penisnya. Dia mengamati bibir-bibir seksi istri Herman ini berkecipak melahap batang penisnya. Dia ingin bibir ini nantinya belepotan oleh semprotan spermanya. Dia ingin sekali menumpahkan air maninya ke mulut Rini. Dia pengin menyaksikan bagaimana Rini menenggak cairan kentalnya. Ya, dia ingin sekali. Bahkan dia mungkin akan sedikt paksa Rini untuk menjilati cairan kentalnya yang tercecer. Itulah nafsu hewaniah Pakde Karto yang kini merundung dirinya. Tangan-tangannya kembali mengelusi lembut kepala Rini, sementara khayalan birahinya terbang melesat ke awang-awang untuk menjemput puncak-puncak nikmatnya. Dia mulai mengerang dan mendesis. Dan Rini terjebak.

Dia menikmati erang dan desis Pakde dengan cara lebih meliarkan jilatan dan gigitan-gigitannya.
Tetapi situasi berikutnya berubah. Kendalinya terlepas dan diambil alih Pakde Karto. Tanpa mau melepas rengkuhan Rini pada penisnya Pakde bangkit dari sofa empuk itu. Dibimbingnya Rini untuk naik kesofa dengan kepalanya bersandar pada ke bantalannya. Dengan penisnya yang tak pernah lepas dari mulut lembut Rini, kini posisi Pakde berada di atasnya dengan selangkangnnya mengangkang di atas dada Rini. Sementara Rini masih berpikir bahwa sesaat lagi Pakde akan merambati tubuhnya untuk menusukkan kembali kemaluannya pada vaginanya.

Tetapi sekali lagi harapan Rini ini keliru. Kini Pakde seperti sedang kerasukan nikmat dan merasakan bagaimana seakan spermanya datang dari seribu arah menjalari berjuta saraf-saraf di seputar selangkangannya untuk meledak dan tumpah di mulut Rini. Dan ketika batas batas sarafnya telah terlanggar oleh birahi, dengan suara erangan yang keras dari mulutnya dengan disertai tangan-tangannya yang kuat menekan kepala Rini agar tetap terpaku di sofa selama penis Pakde tetap menghunjam-hunjam ke rongga mulut Rini, Pakde telah siap menyemprotkan air maninya ke mulutnya. Dan Rini memang tak lagi mampu berkutik. Tekanan tangan Pakde terlampau kuat untuk ditolak. Akhirnya dia menyadari apa yang Pakde mau. Dia langsung pasrah. Bahkan selintas dia sempat berpikir tentang Herman. Biarlah Herman menyaksikan apa yang memang dia harus saksikan.

Sperma Pakde tumpah ruah menyemprot membanjir memenuhi mulutnya. Anggukan-anggukan penis Pakde menandai setiap semprotan spermanya. Mulut manis mungil Rini tak mungkin menampung seluruhnya. Sebagian tertelan membasahi tenggorokannya, sebagian lainnya muncrat tercecer ke dagunya, dadanya dan juga ke jok kulit sofa buatan Italy itu. Saat akhirnya Rini benar-benar menjilati sperma yang tercecer dia ingat kembali saat bersama Pandi di Parangtritis itu. Dan Pakde Kartopun terpenuhi harapannya.

Herman terbengong-bengong menyaksikan bagaimana nafsu liarnya Rini di atas sofa bersama Pakde Karto itu. Benar-benar tak habis mengerti, bahwa Rini yang kesehariannya cantik dan lembut itu bisa berubah menjadi malaikat seks yang dengan ganas membawa prahara birahi untuk menenggelamkan nafsu Pakdenya kedalam nikmat syahwat yang tak pernah dia berikan pada siapapun sebelumnya. Pakde Karto merasa bahwa menganggap lunas hutang suaminya amat sepadan dengan apa yang di berikan Rini kepadanya. Dielusinya dengan penuh kasih sayang kepala Rini yang kini bersandar di dadanya. Pakde mendapatkan kepuasan yang luar biasa dengan hadirnya Rini ini.

Dari balik pot-pot yang tidak jauh dari sofa Pakde dan istrinya Herman terduduk loyo. Sekali lagi ia semakin tak mampu berkilah lagi. Kepengecutannya sebagai lelaki membuat semakin tak mungkin mampu menyaingi kelebihan Pakdenya. Kesalahannya yang membuat tenggelam dalam judi togel itu membuat dia benar-benar tak lagi merasa punya hak untuk marah maupun cemburu. Dia akan sepenuhnya menerima apa yang dilakukan Pakde pada isterinya. Dari berbagai sudut dia sudah salah dan kalah total. Apalagi nampaknya Rini sendiri akhirnya demikian menikmati hubungannya dengan Pakde. Mungkin juga bagi Rini Pakde lebih bisa memberikan kepuasan nafsunya dibanding dia. Ya, sudahlah..

Yang kini masih dia miliki adalah hak untuk ikut menikmati. Dia jadi begitu menyala birahinya kalau melihat isterinya di’entot’ orang lain. Dia sangat terobsesi saat melihat wajah isterinya begitu histeris oleh kenikmatan syahwat yang diterima dari Pakde. Dia sangat terobsesi pula saat melihat isterinya begitu rakus menjilati dan minum air mani Pakde Karto. Rasanya Herman juga ikut merasakan bagaiman lendir hangat Pakdenya mengalir membasahi tenggorokan isterinya. Dan lepas dari semua hal itu, yang benar-benar melegakan Herman sekarang adalah lunasnya hutang-hutangnya dari Pakde Karto. Dia kini siap menjalani hidup baru tanpa beban hutang-hutang. Dia kini bertekad untuk tidak lagi main togel. Dia akan mencoba menepis godaan teman-temannya. Atau mungkin dia tak akan bergaul lagi dengan mereka. Karena merekalah kini Herman merasa sengsara. Dan nyatanya pada saat seperti ini mereka tak mampu membantu apapun.

Terlihat Pakde dan isterinya bangkit dari sofa menuju ke kamarnya. Adakah mereka akan melanjutkan permainannya. Sangat mungkin. Bukankah situasi macam begini yang Pakde impikan sejak pertama kali beberapa waktu yang lalu dia melihati Rini tanpa berkedip. Dan bagi Rini, bukankah lelaki macam Pakde ini yang telah terbukti bisa memuaskan syahwat birahinya?!

Dan bagi Herman, apa yang bisa dibuat selain kembali ke lubang pengintaian di balik dinding kamarnya?! Rupanya sate kambing tadi telah memberikan semangat dan kekuatan pada semua orang.
Dari kamarnya Herman melihat Rini langsung rebah ke ranjang. Dalam jubah tidurnya yang nyaris tak dipakai secara utuh, Rini setengah tengkurap memeluki bantalnya. Nampak kaki dengan paha dan betisnya yang tersingkap dari pakaiannya terjuntai ke tepian ranjang. Dan Pakde dengan jubah tidurnya yang telah terbuka pula siap menyusul. Tetapi tidak. Pakde tidak menyusul naik ke ranjang. Pakde kini simpuh di lantai tepat di ujung kaki Rini. Apa yang akan dia lakukan? Ah, ini sangat menarik, pikir Herman.

Pakde pelan menjamah kemudian mengelusi kaki Rini. Dia raba betisnya yang ‘merit’ itu. Kemudian nampak kepalanya menunduk. Pakde mencium kaki Rini. Mencium telapak kakinya. Menciumi kemudian menjilati. Kemudian juga mengulumi jari-jari kakinya. Jari kaki Rini yang selalu terawat apik itu demikian indahnya dalam kuluman Pakde. Dan Rini seakan kena stroom ribuan watt langsung berteriak mendesisi-desis.

Dia terbangun-bangun menahan geli yang menjalari kakinya. Tanpa terpengaruh oleh ulah isterinya nampak Pakde sangat tenang. Ditahannya dengan tangannya yang kuat kaki-kaki Rini sehingga berontaknya tidak membuat lepasnya kaki dalam pagutannya. Jilatan dan kuluman bibir dan lidah Pakde semakin meratai telapak kaki dan mulai naik ke betisnya. Gelinjang nikmat membadai menghempas-hempaskan gelegak nafsu Rini.
Bibir Pakde terus melata hingga lutut dan siap memasuki wilayah paha belalang Rini. Ya, paha ini dulu sangat terkenal. Saat Rini bermain volley dalam pertandaingan antar SMU, paha Rinilah yang selalu membuat para siswa lelaki meneteskan air liur. Anak-anak SMU bilang ‘paha dan betis belalang Rini’ selalu terbawa dalam mimpi mereka. Mungkin maksudnya saat anak-anak itu masturbasi khayalannya terbang menciumi paha Rini.

Dan paha itu kini bukan dalam impian Pakde. Paha itu kini nyata dalam rengkuhannya. Pakde mengecupi dan menjilat setiap sentimeter areal paha Rini. Duh, bukan main gatalnya. Ciuman Pakde dari mulut dan pipi serta dagunya yang bercukur bulu-bulu pendeknya begitu menggelitik sanubari Rini. Gatalnya telah manembus ke hulu hatinya. Rini kelabakan kewalahan menahan derita gatal nikmatnya. Dia menjerit-jerit minta Pakde melepaskannya. Kakinya menendang menolak tubuh Pakde.

Tetapi mana mungkin. Tubuh Pakde telah sempurna menindih dan tangannya menjepit dengan kuatnya. Aroma yang menebar dari paha Rini membuat tenaga Pakde semakin kukuh untuk tetap menguasai tingkah Rini. Tidak akan ada kata menyerah. Dan jilatan Pakde itu merambah terus hingga ke selangkangan Rini yang ditumbuhi bulu-bulu kemaluan yang sangat lembut. Pakde merem melek saat lidah dan bibirnya melumat-lumat selangkangan Rini. Dan tak ayal lagi, rambahan itu sampai ke lubang vaginanya. Namun Pakde tidak melanjutkannya. Dia hanya mampir sejenak untuk kemudian dengan tangannya mendorong balik tubuh Rini hingga posisinya tengkurap di kasur.

Kini nampak pantat Rini yang menjumbul dengan indahnya. Pakde sudah kesetanan. Wajahnya langsung nyungsep ke belahan pantat Rini. Dia menjilati lubang duburnya. Tentu saja hal ini membuat Rini tersentak. Bagi Rini lubang dubur adalah hal yang sangat tak senonoh untuk didekati, apalgi dicium atau bahkan dijilati macam yang dilakukan Pakde pada dirinya sekarang ini. Tabu, katanya. Pemali, orang bilang. Tetapi tidak bagi Pakde Karto. Jilatannya terasa ‘keri’ menusuk-nusuk lubang pantat Rini. Bahkan dengan tenaganya dia mengangkat pinggul Rini sehingga dia berposisi nungging. Pantatnya lebih menonjol dengan lubang duburnya tepat di arah wajah Pakde. Rini yang belum sepenuhnya mau menerima ulah Pakde yang tabu berontak mati-matian untuk menghindarkan Pakde menciumi pantatnya. Dia berusaha bangun sambil,
“Tidaakk.. jangaann.. jangaann..”

Tetapi larangannya itu justru semakin memicu kehendak nafsu Pakde Karto. Dia cepat berpikir bahwa pantat Rini masih pantat perawan. Kalau dulu Herman merawani vaginanya, kini dia berkesempatan merawani lubang pantatnya. Dia telikung Rini dengan sekuat tenaganya. Dia pegang erat-erat pinggulnya sambil mulutnya tidak melepaskan sedotan-sedotan pada lubang anal yang perawan itu. Dan Pakde sangat kuat. Rini tak mampu melawannya. Perasaan tabunya membuat Rini ketakutan. Tetapi yang dia bisa perbuat sekarang hanyalah menangis sambil memohon,
“Jangaann Pakdee.. ampuunn, jangaann.., ampuunn Pakdee..”

Apapun rintihan Rini tak lagi didengarnya. Ini sudak perkosaan. Dari balik dinding Herman juga mengutuk Pakdenya. Isak tangis istrinya benar-benar membuatnya iba. Akankah Pakde menyakitinya? Apa yang bisa dia perbuat untuk membantu Rini? Dan ternyata itu baru awal dari hal berikutnya yang akan membuat tangis Rini serasa tak berkesudahan.

Ciuman Pakde bergeser ke atas. Pinggul Rini dilumat-lumatnya. Juga punggung kemudian bahu dan kuduknya. Rini yang masih terisak kembali menemukan gelinjangnya. Tetapi itu tak lama. Di bawah sana penis Pakde yang demikian hebat ukurannya terasa mendesaki bokong Rini. Rini puny firasat. Sekali lagi dia berontak untuk mencegah nafsu setan Pakde Karto. Tetapi sekali lagi Pakde Karto mampu membuat isteri Herman itu tak berdaya.

Kini rambut Rini yang terurai dijambaknya. Dia gunakan rambut Rini ibarat tali kekang kuda. Dia hela rambut itu kebelakang sementara penis itu mulai menumbuk-numbuk lubang anal Rini. Rasa sakit yang hebat menimpa Rini. Lubang analnya serasa dicolok dengan kayu menyala, Panas dan sakitnya bukan main. Beberapa kali Pakde melumasi dengan ludah pada penisnya agar bisa menembus dengan lubang anal Rini. Memang ada kemajuan. Tetapi apa yang dirasakan Rini? Setiap mili kemajuan penis itu masuk menembus analnya, kepedihan tak terkatakan datang menjemput.

Dan disinilah dramatiknya. Akhirnya penis itu memang tenggelam tertelan anal Rini, tetapi akibatnya Rini kelenger, pingsan. Pakde tahu, tetapi dia sangat tenang. Dia bisa mengendalikan dirinya. Tanpa melepaskan kemaluannya pada lubang itu, dia raih wewangian aroma terapi yang tersedia di meja samping ranjang. Dia kecroti hidung Rini dengan wewangian itu. Dan, ah manjur benar. Rini terbangun dan langsung kembali menangis karena menahan rasa sakit di pantatnya. Dia tak lagi menolak karena pasti hanyalah sia-sia. Justru tolakannya semakin merangsang nafsu setannya Pakde. Dan Pakde sendiri berusaha sabar.

Untuk beberapa saat dia tidak bergerak. Pikirnya, biarlah Rini menyesuaikan diri dulu, dimana penisnya kini sedang menghunjam ke dalam pantatnya. Dia hanya peluki punggung Rini sambil merajuk dan mencumbu. “Nggak apa-apa Rin, jangan takuutt.. nanti ennaakk.. jangan takutt..” sedu sedan Rini masih terdengar.

Kembali ke Herman yang kini mengutuk habis-habisan ulah Pakdenya. Tetapi mana berani dia menyampaikan kutukkan itu hingga ke kuping Pakdenya. Yang ada tinggal rasa cemas dan semakin merasa betapa semua itu karena kesalahan dirinya. Rini telah menjadi korban tingkah lakunya yang pengecut. Ooo.., kenapa jadi beginii..??!!

Aneh, ternyata cumbuan Pakde Karto seperti menyihir Rini. Isakan tangisnya tak lagi terdengar. Walaupun masih sering terdengar kata
“Aduuhh, sakiitt.., yang pelaann..” namun tak ada uapaya menolak dari Rini saat Pakde kembali menggoyang kemaluannya pada anal isteri Herman itu. Dan setelah beberapa saat kemudian goyangan Pakde berubah menjadi pompaan sebagaimana dia memompa vaginanya, Rini sama sekali tidak mengaduh tetapi, nah lihatlah.. Herman melotot keheranan.

Kini dia menyaksikan isterinya mengimbangi goyangan saat penis panjang Pakde menusuki pantatnya. Ternyata Rini dengan cepat memahami kenikmatan yang dijanjikan Pakde Karto. Bahkan ketika beberapa kali penis itu copot dari analnya, tangan Rini dengan sigap menjemputnya kembali untuk diarahkan tepat ke lubang duburnya. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat atraktip. Seorang dewi cantik manis dalam posisi menungging dia atas ranjang beralaskan sutra melengkungkan pinggulnya untuk mengangkat tinggi-tinggi pantatnya. Sementara di arah belakang seorang lelaki gagah sedang menusuk-tuskkan penis monsternya ke arah lubang pantat sang dewi. Kini Herman mempercepat kocokkan tangannya. Dia ingin meraih orgasmenya, entah untuk yang keberapa kali sejak sore tadi, saat menyaksikan pemandangan yang sangat atraktip itu.

Pakde Karto benar-benar nampak seperti joki. Kuda betina cantiknya diraih surainya. Dia memompa Rini sambil menarik rambutnya sebagai tali kekang. Dan ketika nafsu-nafsu menjemputi puncak-puncaknya. Ketika Rini merasakan betapa benar kata Pakde bahwa dia akan menerima kenikmatan yang kini sedang menapaki puncaknya. Ketika Herman dari balik dinding tak lagi merasakan lecet-lecet pada kulit kemaluannya karena kenikmatan puncak sedang merambatinya. Dan ketika Pakde Karto tak lagi mampu menahan sperma untuk tidak tumpah, dan bahkan kini telah berada di ambang nikmatnya yang paling tinggi.

Maka badai gaduh, jerit, desah dan rintih pada berhamburan. Mulut Rini menjerit dalam rintihan menahan gelora birahi sambil pantatnya dengan kencang maju mundur menjemputi kemaluan Pakde Karto. Dan Herman dari balik dinding merintih tertahan, karena khawatir tertangkap basah, sambil mempercepat koncokkan penisnya yang juga ngaceng berkilatan. Pakde Karto sendiri yang bagai serigala lapar sedang mengejar mangsa, meracau dan mendesah keras-keras menjemput spermanya yang .. naahh.. achirnyaa.. tak tertahan.. tumpah ruah.

Pantat Rini masih terus menjemputi, penis Pakde masih memompa, tangan Herman semakin menambah guratan-guratan pedih sebelum ketiganya tumbang, roboh. Rini dan Pakde bergelimpang di ranjang beralaskan sutera. Tetapi Herman bergelimpang di lantai dingin di kamarnya sendiri. Herman langsung tertidur. Hari ini begitu banyak hal yang sagat melelahkan. Tekanan fisik dan mental serta kesenangan birahi silih berganti. Dia terbangun saat matahri telah tinggi. Dia kaget geragapan. Pakde Karto pasti akan marah, pikirnya. Tetapi hal itu tak terjadi. Pakde Karto bersama Rini semalaman merguk kenikmatan madu. Mereka baru usai dan tertidur menjelang subuh. Kini nampak oleh Herman dari balik dinding, isterinya dalam pelukan Pakde Karto meringkuk dalam selimut tebal. Herman yakin mereka sama-sama bertelanjang.

Herman menjerang air untuk membuat kopi. Dia perlu ngopi. Dia juga membuat kopi untuk yang sekarang masih tidur dalam pelukan.

Perpisahan

Akhirnya Herman terbuka pikirannya. Dia akan dan harus meninggalkan Rini. Tak mungkin lagi baginya merintis dan memperbarui hubungan suami isteri dengan Rini. Hal itu dia yakini akan baik untuk dirinya dan juga baik untuk Rini. Dan dia merasa tak perlu bertanya setuju atau tidaknya pada Rini. Keputusan dia memang sepihak, tetapi itu sudah merupakan keputusan final. Mana mungkin, seorang isteri telah melakukan hubungan seksual dengan penuh nikmat dan sukacita, sementara tahu persis suaminya berada di kamar sebelahnya. Apapun alasannya.

Herman juga yakin Pakdenya bisa menerima jalan pikirannya. Dan bahkan mungkin setengahnya bersyukur. Bukankah dia sangat tergila-gila pada Rini. Dan kini kehendaknya telah kesampaian. Dan Pakde Karto menujukkan kepuasannya yang luar biasa. Siapa tahu, Pakde Karto akan meneruskan keinginannya untuk melamar dan kemudian menikahi Rini.

Pagi yang sangat cerah di Villa Rimbun Ciawi yang sejuk. Pagi itu kedua insan yang sedang mengumbar nafsu syahwatnya kembali saling bercumbu. Mereka menikmati udara segar dan cahaya matahari pagi yang hangat. Dengan latar belakang dedaunan pakis, pohon pinus dan gemericiknya kali kecil yang aitnya jatuh ke bebatuan Pakde Karto menuntun Rini ke rimbunan tanaman hias yang penuh bunga. Wewangian bunga-bunga yang warna-warni itu mengantarkan mereka terbang mengawang-awang nikmat syahwat dan birahi tanpa batas. Lama mereka berpagut. Saling kecup dan jilat pada bagian-bagian tubuh mereka yang paling merangsang nafsu dilakukan di kebun indah di belakang villa itu.

Pakde Karto tak puas-puasnya menggeluti Rini yang isteri orang lain itu. Dan sebaliknya Rini yang tak pernah lagi memikirkan Herman suaminya tak lelah-lelahnya melakukan tingkah untuk merangsang syahwat Pakdenya. Dia memang benar-benar perempuan panas yang selalu ingin hubungan seksual dengan lelaki perkasa ini. Dia merasakan betapa Pakde mampu menggali seluruh rahasia nikmat syahwat yang ada pada dirinya. Kini Rinilah yang tergila-gila pada Pakde Karto. Dia bersedia melakukan apapun yang akan diminta Pakde. Bahkan sebagaimana yang kini terjadi. Pakde menggelandang Rini untuk berasyik masyuk di dalam taman Villa Rimbun Ciawi yang sejuk dan indah ini. Mereka kini telah bergulingan di atas matras yang sebelumnya telah disiapkan Herman atas permintaan Pakdenya.

Dan Herman juga baru tahu apa maksud permintaan Pakde Karto untuk menggelar matras tadi. Tetapi Herman sekarang juga bukan Herman yang kemarin. Walaupun di depan matanya kini dia saksikan isterinya Rini bergelut nikmat bersama Pakde Karto, dia tidak lagi terbawa emosi. Yang dia pikirkan sekaranga adalah, “Pergi.., pergi, pergi, pergi, pergi..!!”

Begitulah. Herman telah berketatapan untuk meninggalkan semuanya. Meninggalkan isterinya, meninggalkan Pakde yang telah menghancurkannya dan dia juga akan meninggalkan judi togel. Selamat tinggal masa lalu!

Sementara Pakde bersama Rini sedang mendayung kenikmatan, Herman menyelinap. Dia pergi tanpa pesan.
“Mereka akan tahu, tanpa harus kuucapkan,” demikianlah tekad dan keyakinannya.

Cerita Dewasa 17 tahun, kumpulan cerita dewasa, cerita panas