Friday, March 30, 2012

Mariska...Mariska...Indah Banget Meki dan Togemu...ouh...Crotzzzzz.....

 Ni dia Indah Banget Meki dan Togemu oh Mariska........

Berkat Berteduh

Cerita Dewasa - Cerita Seks - Cerita panas  - Saya tertarik memenuangkan pengalaman ketika saya masih rajin berkelana. Hobby saya mengunjungi daerah-daerah, melihat suasana dan berdialog dengan orang-orang di daerah itu. Makanya saya menguasai beberapa istilah dari daerah-daerah yang berbeda. Kebetulan saya bekerja di bidang yang memberi kebebasan bagi saya berkunjung ke banyak daerah. Tidak sombong, tetapi hampir semua kabupaten di Indonesia sudah saya kunjungi.
Banyak teman saya menyebut saya cukup ganteng, bukan GR, tetapi untuk memberi gambaran saja siapa gerangan saya. Kehidupan saya tidak berlebihan, tetapi memadai. Satu kali saya mendapat tawaran dari bos di kantor untuk melihat kondisi masyarakat di pantai Utara Karawang. Waktu itu dikabarkan sedang dicekam kegagalan panen, sehingga dilanda kelaparan. Karena dari Jakarta tidak terlalu jauh dan saya berpikir akan lebih leluasa keluar masuk kampung, maka sepeda motor jadi pilihan saya.
Sampai Rangkas Dengklok, saya tidak menemukan sesuatu yang aneh. Keadaan masyarakatnya biasa-biasa saja. Wilayah itu bagi saya masih baru dan saya belum mempunyai bayangan bagaimana situasinya. Lewat Rangkas saya lanjutkan ke arah yang ngawur saja. Kondisi jalan mulai parah. Saya keluar masuk kampung-kampung sambil memperhatikan kehidupan masyarakatnya. Kelihatannya memang sangat memprihatinkan.
Siang itu tiba-tiba mendung, saya segera mengarahkan kendaraan ke jalan raya. Hujan mulai turun, sementara saya mencari warung untuk tempat berteduh, tidak juga ketemu. Lalu terlihat rumah sederhana dengan teras agak besar, saya beranikan masuk halaman rumah itu, lalu segera berteduh. Tidak lama kemudian seerang bapak tua keluar untuk melihat siapa gerangan yang datang ke rumahnya. Saya pun segera minta izin untuk berteduh sejenak. Belum selesai saya bicara, muncul ibu tua yang saya duga istri pak tua itu. Dia langsung mempersilakan saya masuk.
“Mangga Nak masuk saja, di luar dingin.”
Tentunya rikuh juga, orang hanya numpang berteduh kok malah suruh bertamu.
“Ngak apa-apa Bu, biar saja saya tunggu hujan di sini, lagian baju saya agak basah, biar cepet kering di sini banyak angin.”
“Udah atu di luar kan dingin, masuk Den, nggak apa-apa, nanti juga kering,” kata ibu itu berusaha mengajak saya masuk ke ruang tamu.
Saya jadi makin rikuh. Apalagi ibu itu tadi menyebut saya Aden, yang saya rasa merupakan panggilan kehormatan.
Saya putuskan memenuhi keinginan ibu itu, lalu saya langkahkan kaki memasuki ruang keluarga. Ruangannya agak gelap, dan tampaknya rumah itu belum dialiri listrik karena saya tidak melihat ada lampu listrik di ruang tamu. Rumahnya kelihatan sangat sederhana, berlantai pelsteran semen dan berdinding setengah tembok setengahnya lagi anyaman bambu.
Sang bapak lalu menemani saya, dan seperti biasa menanyakan saya dari mana. Saya karena tidak ingin membuka diri, saya katakan saja saya baru dari kelurahan yang baru saja saya lalui tadi. Penjelasan saya tampaknya masuk akal bapak itu.
Tidak lama kemudian muncul seorang gadis yang saya perkirakan baru berumur sekitar 15 tahun, polos, sederhana, tapi lumayan manis. Ia membawa dua cangkir teh hangat. Saya segera menyeruput teh hangat itu, eh ternyata tidak manis. Dalam hati agak kecewa, tetapi saya segera memaklumi bahwa ini bukan di Jakarta.
Hujan makin deras, padahal hari sudah mulai gelap. Saya panik juga, karena malam dan hujan begini saya sulit menembus jalan desa yang licin dan kurang saya kuasai. Karawang mungkin jauhnya sekitar dua jam setengah dari posisi saya. Saya ingat di luar ada semacam amben atau bale-bale yang dapat saya pergunakan untuk menginap. Saya minta izin kepada bapak dan ibu tua tadi yang ikut nimbrung berbasa-basi dengan saya untuk menginap di amben di teras itu, karena saya merasa kurang aman jalan malam hari.
Serta merta ibu dan bapak tadi menawarkan agar saya tidur saja di dalam rumah. Saya tidak kuasa menolak tawaran yang setengah memaksa itu. Padahal saya merasa makin rikuh. Kenal saja tidak, kok tega-teganya menerima tawaran menginap di rumah itu.
Hari mulai gelap, dan saya mulai lapar. Saya beri ibu tadi uang seingat saya pada waktu itu sekitar seratus ribu lah.
Saya katakan, “Bu tolong masak seadanya Ibu bisa..,”
Saya tahu untuk ukuran di desa itu, uang sebanyak itu mungkin dapat untuk belanja setengah bulan. Saya berikan uang sebesar itu, juga untuk menutupi rasa rikuh saya dan untuk membantu ala kadarnya.
Sepemberian saya, ibu tadi lalu menghilang, sehingga saya ngobrol tidak ketentuan arah dengan bapak. Untungnya saya banyak membaca, sehingga topik pembicaraan bapak tentang pertanian dapat saya sambung. Nekatnya bahkan saya berani memberi saran-saran. Padahal saya belum pernah bertani. Pengetahuan saya melulu dari majalah dan bacaan-bacaan. Namun bapak tadi mengangguk-agguk, tampaknya saran saya cukup masuk akal.
Tiba-tiba ibu tadi mempersilakan saya makan di meja makan bersama dengan seisi rumah, selain bapak ibu tadi juga anak gadisnya. Menunya bagi saya biasa saja, ayam goreng, sambel, lalap dan semangkuk mi instan.
Habis makan, ngobrol kembali sambil ngopi dan merokok. Sekitar pukul 10 malam saya dipersilakan masuk kamar tidur. Saya sungguh tidak menyangka, ternyata kamar yang disiapkan untuk saya mungkin merupakan kamar terbaik di rumah itu. Ruangannya sekitar 3×3 m dengan sebuah tempat tidur besi berkelambu ukuran bed-nya dapat ditiduri untuk dua orang, cukup lega. Ada meja kecil dengan sebuah kendi dan gelas di atasnya serta lampu tempel yang sinarnya redup.
Saya termangu-mangu sejenak sambil berpikir kenapa saya dapat tempat tidur yang sebagus ini di rumah sederhana. Ah, mungkin karena seratus ribu tadi. Ya sudahlah. Saya ganti celana panjang yang masih agak lembab dengan celana pendek dan kaos oblong. Saya keluar sejenak untuk buang air kecil di kamar mandi yang letaknya agak terpisah dari rumah induk.
Sekembali saya ke kamar, saya terkejut, karena ada putri pemilik rumah sedang duduk sambil menuang air ke gelas.
Saya tanya, “Bapak dan Ibu tidur di mana..?”
“Di kamar belakang,” katanya.
“Kamu tidur di mana..?” tanya saya penasaran.
“Di sini,” katanya sambil menunduk.
“Weleh-weleh, bagaimana caranya tidur, orang tempat tidurnya cuma satu.”
“Kamu tidur di sini bersama saya..?” tanya saya kurang yakin.
Dia hanya mengangguk.
Saya jadi berdebar-debar memikirkan berbagai kemungkinan negatif yang dapat saja menjebak sayananti. Tapi saya mau protes tidak kuasa, karena kedua orang tua tadi sudah menghilang di kamarnya. Saya pikir saya harus berhati-hati, jangan sampai terjebak. Jadi saya berniat untuk tidur saja baik-baik.
Anak manis itu lalu saya tawarkan untuk naik dahulu ke tempat tidur. Maksud saya untuk memastikan di sebelah mana saya tidur nanti. Ternyata dia mengambil tempat di tengah, dekat ke dinding. Saya mengambil tempat di sebelahnya. Jantung ini berdebar-debar, karena selain takut, juga merasa ada kesempatan besar.
Saya lama sekali tidak dapat tidur. ruang yang tadinya gelap, jadi terang. Saya lalu memperhatikan patner tidur saya. Gadis manis yang mulai tumbuh, tidur telentang seakan pasrah. Saya panggil nama anak itu. Ternyata dia menyahut. Rupanya dia juga belum dapat tidur. Untuk mengatasi kebekuan, saya tanya macam-macam sambil sedikit-dikit saya goda. Dia kadang-kadang mencubit lengan saya jika kena goda.
Dari upaya mengatasi kebekuan, saya mendapat kesimpulan bahwa keadaan aman-aman saja, dan ini bukan jebakan. Yang mengagetkan saya, ternyata anak ini sudah janda. Saya jadi makin berani, saya miringkan posisi menghadap kepadanya sambil terus melancarkan godaan-godaan kecil sambil berbisik. Maklumlah suasananya senyap sekali.
Saya pegang tangannya, dia diam saja. Saya cium rambutnya terasa aroma minyak kelapa. Lama-lama birahi saya makin meningkat, tetapi saya belum punya kiat untuk memulainya secara smooth, maklumlah diplomasi kotaan tidak nyambung di desa.
Lampu tempel saya kecilkan sampai minimal. Selain untuk menggelapkan ruangan, juga agar sekitar lubang hidung ini tidak hitam jika bangun besok pagi. Jarak pandang jadi makin pendek, sehingga saya yakin jika pun diintip tidak akan kelihatan.
Saya mulai bergrilya tanpa kata-kata. Tidak nyambung sih. Saya cium keningnya, pipinya, dia diam saja. Saya kecup bibirnya, tapi tidak ada reaksi. Mungkin anak ini belum kenal soal ciuman. Kebetulan saya pun kurang menyukai ‘cipokan’, abis ‘cipokan’ bagi saya tidak menggairahkan. Selama ini saya gunakan hanya untuk menjajagi kemungkinan seorang cewek itu, apakah ia mau dicumbui lebih jauh atau tidak.
Tangan saya mulai memeluk dan meremas-remas pinggulnya, pelan-pelan menjalar ke perut,mengusap-usap. Dia diam saja, pasrah. Keberanian bertambah, dan saya mulai menyentuh bagianluar dadanya, dan dengan gerakan halus saya mulai meremas. Reaksinya minim sekali, hanya kepalanya saja yang bergerak agak mendongak.
Tangan saya menemukan jalan masuk di balik bajunya, dan terus merayap mencari bukit yang belum tumbuh sempurna. Saya remas sebentar dari luar BH, lalu berusaha menguak kutang gadis cilik ini. Kenyal sekali payudaranya, meski tidak terlalu besar. Besarnya kira-kira sebesar kemampuan telapak saya dengan jari merapat. Saya cari putingnya, ternyata belum berkembang, jadi kurang lebih sama dengan puting susu saya. Terus terang saya suka sekali dengan gadis-gadis yang beginian ini.
Puas mengeksploitasi bagian atas, saya penasaran situasi di bawah sana. Tangan saya mulai mengelus-elus paha. Dia ternyata penggeli, sehingga gerakannya agak menggelinjang kegelian. Segera saya tangkap gundukan segitiga di selakangannya yang masih tertutup celana. Menurut rabaan tangan saya, celana itu dibuat sendiri dari kain blacu, sehingga terkesan agak kasar. Hikmahnya, celah di bagian kakinya tidak ketat, sehingga memudahkan jari saya menyelundup ke dalam.
Jari tengah yang terlatih segera menemukan celah agak basah. Tapi saya tunda sejenak untuk mengenali wilayah sekitarnya. Ternyata belum berbulu. Bagi pedagang terutama keturunan Cina, jika menemukan cewek yang gundul ini dianggap menyebabkan kesialan. Saya berbeda, justru untung, karena saya memang menyenangi yang gundul. Alasannya, bila dilihat bentuk vagina itu kelihatan aslinya, mentul dan celahnya tertutup rapat, atau kadang ada daging kecil yang muncul dari celahnya.
Eksplorasi mulai berani, sehingga tangan kanan saya mulai menyelusup dari atas celana dalamnya. Gerakannya jadi makin leluasa, dan kesempatan ini saya manfaatkan untuk memicu gairahnya melalui perangsangan klitoris. Dia makin terangsang ditandai dengan desisan pelan serta gelinjang-gelinjang birahi.
Saya teruskan pada gerakan yang paling kuat responnya. Maksudnya, saya akan menghantar dia sampai pada titik orgasme. Tidak lama kemudian dia mendesis panjang dan mengejang, lalu vaginanya berdenyut-denyut seperti denyutan penis kalau melepas mani. Dia lalu menarik nafas panjang.
“Mas nakal,” katanya sambil memeluk erat.
Saya jadi ingin menjilati vagina anak ini. Pelan-pelan saya turunkan celananya, dan saya sibak roknya ke atas. Saya ciumi dadanya, menjilati putingnya yang masih kecil tapi sudah mengeras. Saya mulai menciumi sekeliling vaginanya. Dia menggelinjang geli sambil mendorong kepala saya agar menjauh dari vaginanya.
Tolakannya itu tidak saya turuti, tetapi saya malah mulai mengecup belahan kemaluannya yang basah, dan segera lidah ini menemukan klitorisnya. Begitu tersentuh, dia menggelinjang terkejut dan tangannya tetap mendorong saya untuk menjauhi liang senggamanya. Saya makin berusaha mencari posisi yang tepat, lalu mulai menjilati klitorisnya yang mulai bangun. Dorongan tanggananya mulai melemah. Bahkan kini tangannya mulai menarik kepala saya agar lebih merapat ke bibir kemaluannya. Dia terangsang hebat sekali, karena kakinya kelojotan tidak karuan.
Sambil menjilati, jari tengah saya pelan-pelan mulai menyelinap ke dalam lubang senggamanya. Tiba-tiba dia mengejang sambil mendesis panjang. Kemaluannya kembali berdenyut. Saya lepas jilatan di vagina, tetapi jari tengah saya tetap di dalam lubang kenikmatan sambil terus mencari titik G. Bulatan kecil di langit-langit vagina akhirnya saya temukan, dan dengan gerakan halus saya usap-usap titik G itu. Dia makin kelojotan dan tidak begitu lama kemudian diraihnya bantal, ditutupkan ke mulutnya, dan dia menjerit sambil badannya meregang. Ia mencapai klimaks tertinggi.
Beberapa saat saya biarkan ia istirahat. Kesempatan itu saya pergunakan untuk mengambil kaos bekas saya pakai tadi siang. Kaos bekas itu saya letakkan di bawah selangkangannya. Dia diam saja. Rupanya dia sudah tertidur kecapaian.
Perlahan-lahan saya turunkan celana saya, lalu mulai menindihnya. Batang kejantanan yang sudah keras dari tadi pelan-pelan saya susupkan ke celah liang senggamanya yang sudah basah kuyup. Agak susah masuknya, sehingga memerlukan waktu sekitar 3 menit untuk meneroboskan seluruh batang ini. Setelah berhasil, pelan-pelan saya pompa. Dia hanya diam saja, mungkin dalam situasi antara sadar dengan ngantuk berat. Baru sekitar 2 menit mani saya sudah hampir meledak. Mungkin karena tertahan begitu lama dalam rangsangan puncak. Saya cabut segera dan ditumpahkan ke kaos bekas saya. Saya pun beristirahat sebentar sambil kembali merapihkan celana saya.
Dia masih tertidur pulas. Tidak sampai 5 menit, batang kemaluan saya mulai mengeras kembali. Pelan-pelan saya mulai menindihnya, dan kembali berusaha menyusupkan batang penis saya ke celah vaginanya. Penyusupan yang kedua ini tidak terlalu sulit. Sementara kondisi saya sudah mulai stabil. Saya pompa dia pelan-pelan, takut tempat tidurnya berderit.
Dia mulai bangun dan menikmati persetubuhan. Buktinya da mulai mendesis-desis lagi. Cukup lama saya bertahan pada posisi konvensional itu. Lalu saya raih dia agar dia berganti posisi di atas. Dia menurut dan mulai menggoyangkan tubuhnya ke atas ke bawah. Gerakan ini kurang terkontrol, sehingga batang kemaluan saya sering lepas. Saya ajari agar gerakannya tidak naik turun, tetapi maju mundur dengan hanya menggerakkan bagian panggul saja. Hasilnya nikmat sekali, dan kejantanan saya seperti ditarik-tarik.
Dia tidak tahan karena letih. Akhirnya saya sarankan agar telungkup saja sambil menungging. Posisi dog style ini saya lakukan dengan hati-hati. Rupanya dia menikmati posisi ini, karena dia kembali mendesis-desis. Aroma vaginanya yang khas bagaikan menguap, sehingga tertangkap hidung saya.
Posisi ini rupanya menyenangkan, sehingga ia akhirnya mengambil posisi seperti merangkak sambil mendongakkan kepala. Tidak lama kemudian dihunjamkan kepalanya ke bantal dan kembali menjerit di balik bantal, lalu lunglai.
Saya lagi setengah jalan, lalu badannya saya balikkan sehingga ia telentang. Hunjaman kembali bertubi-tubi sampai ia merangkulkan kakinya ke badan saya. Saya kini konsentrasi pada posisi yang dapat mempercepat ejakulasi. Namun rupanya dia pun menikmatinya, sehingga tidak lama kemudian vaginanya berdenyut-denyut dan kakinya menahan gerakan.

Merasa dipilin-pilin ketegangan saya makin memuncak. Beberapa detik sebelum puncak saya cabut kembali dan saya muntahkan ke kaos bekas saya tadi. Setelah itu kami berbenah dan merapihkan pakaian, sehingga seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Paginya saya sempat main satu ronde lagi.
Dia keluar kamar duluan langsung ke kamar mandi, setelah itu giliran saya membersihkan seluruh tubuh. Pagi itu ibunya menyiapkan nasi goreng lengkap dengan kopi. Saya bagaikan tamu agung di rumah itu, semua suguhan terbaik diberikan.

Sebelum saya pamit, pada siangnya saya sempat orientasi, dan ternyata tetangganya berjarak sekitar 10 rumah juga menyimpan gadis manis, bahkan tampaknya lebih “culun” (innocent). Saya seperti disodorkan kepada tetangganya itu. Ketika kami bertamu, orang tuanya tampak sangat welcome. Saya lalu berjanji seminggu lagi akan datang. Janji ini disambut sangat antusias oleh mereka sekeluarga.
Saya pulang ke Jakarta dengan aman, dan kelak akan mempraktekkan teori domino di desa itu. Saya dengar dari pembicaraan mereka, ada pula orang tua yang mau menyerahkan kegadisan anaknya dengan imbalan yang tidak terlalu mahal bagi ukuran Jakarta. Bagi pembaca jangan tanya dimana tempatnya, karena sekarang situasinya sudah jauh berbeda, dan tawuran antar kampung di wilayah itu sangat berbahaya.

TAMAT

Bercinta dengan Wanita Gemuk

Cerita Dewasa - Cerita Seks - Cerita panas  - Siapa bilang bahwa bercinta dengan wanita gemuk melelahkan dan memuakkan? Menurut saya, malahan mengasyikkan dan penuh kenikmatan. Setidaknya sesuai pengalaman saya di bawah ini.
Waktu itu hujan mulai turun rintik-rintik. Klinik 24 jam tempat saya bekerja sepi, alias tidak ada pasien yang datang. Klinik dengan TPS (Tempat Perawatan Sementara) dengan kapasitas tempat tidur 20 bed itu hanya terisi 3 orang, itu pun pasien dengan sakit ringan. Memang selama bulan ini, tingkat huniannya agak menurun. Demikian juga dengan pasien yang masuk, meskipun untuk pagi hari polikliniknya cukup baik, sekitar 30 orang yang memeriksakan. Kebetulan malam itu saya mendapat giliran jaga bersama seorang bidan, sebut saja Emi namanya.
Ketika malam mulai semakin larut dan hujan makin deras, kami seperti biasa duduk-duduk di ruang jaga perawat.
Seperti kekurangan bahan pembicaraan, saya berkata, “Emi, hujan-hujan begini enaknya ngapain ya..?”
“Enaknya ya makan-makan gorengan sambil minum kopi.” kata Emi.
“Kalau saya kok nggak, enaknya ya tidur berselimut tebal.”
“Lha ya mesti dong, tetapi itu khan kalau di rumah.”
“Tidur dimana saja juga bisa. Apalagi kalau selimutnya yang dapat kentut.”
“Lho, kalau gitu selimutnya ya harus orang..?”
“Lha iya.”
“Lalu selimutnya siapa..?”
“Kalau sekarang, ya. yang di depan saya.” sahut saya memancing.
Emi adalah bidan ‘lichting’ di bawah saya dua tahun. Kami sama-sama sekolah paramedis dari RS Cipto Mangunkusumo. Saya perawat, sedang dia bidan. Perawakannya tinggi dan tergolong gemuk. Dengan tinggi badan 168 cm dan berat badan 82 kg, terkesan profil Emi kekar dan gemuk. Meskipun demikian, keayuannya masih nyata terlihat. Wajah bulat, pipi montok, gigi putih rapih dengan bibir yang tipis sensual sanggup memancing nafsu setiap laki-laki, antara lain saya sendiri. Rambut yang dipotong cekak setinggi tengkuk, dengan kulit putih menyebabkan sejak masih menjadi siswa bidan, sudah diincar oleh seorang mahasiswa teknik sipil UI yang kini menjadi suaminya.
Sesudah menikah, suami Emi menjadi pemborong sukses. Secara material, segalanya dapat terpenuhi. Meskipun demikian, Emi tetap bekerja sebagai bidan di klinik 24 jam di bilangan Jakarta Selatan. Apalagi saat ini, setelah Emi beranak 2 orang, suaminya sudah kawin lagi, alias poligami. Emi memang harus menerima kenyataan itu, “daripada zina” katanya mencari pembenaran atas perilaku suaminya.
Seperti tersentak Emi mendengar kata-kata saya terakhir. Matanya melirik genit ke arah saya, membuat hati saya berdegup, menunggu reaksi.
“Benar Mas Narto mau..?” tanyanya menantang.
Saya mengangguk pasti.
“Ayo..!” ajaknya sambil menuju ke salah satu kamar.
Waktu itu selain kami berdua, ada seorang pembantu merangkap tukang cuci yang berdinas. Tetapi sejak jam tujuh malam sudah tidur di kamarnya.
Sampai di kamar, Emi langsung membuka seluruh pakaiannnya. Lalu tubuhnya direbahkan telentang di atas bed. Tanpa menunggu lama-lama, saya membuka seluruh pakaian saya, dan langsung “terjun” ke atas kasur putih empuk, ya tubuh Emi. Bibirnya mulai saya ciumi kuat-kuat, lalu lehernya, ke atas belakang telinga. Tangan Emi memeluk leher saya erat sekali, sedang kedua tungkainya menyilang memeluk tubuh saya. Terasa kuat sekali paha yang besar dan kuat itu mencengkeram tubuh saya yang kecil dengan berat badan hanya 49 kg.
Setelah itu ciuman beralih ke daerah leher, merambat ke bawah sampai permukaan buah dadanya yang meskipun sedikit terkulai tetapi masih kencang. Saya sapukan hidung dan bibir saya ke puting susunya yang hitam kecoklatan. Tentu saja sambil tangan saya melakukan ‘kerajinan’ dengan meremas-remas buah dadanya sambil menyedot putingnya. Ciuman saya teruskan ke bawah, ke pusar, seluruh dinding perut saya ciumi, sedikit saya gigit karena gemas disertai rasa birahi yang makin memuncak. Emi sendiri terlihat memejamkan matanya.
Pada saat ciuman mendarat di tempat-tempat yang sensitif, Emi menggigit bibirnya, merasakan nikmat. Dan setiap kali saya menggigit puting susunya dengan penuh nafsu, Emi menjingkat, tetapi mulutnya berbisik, “Aduh.. Mas, enak.. ulangi Mas..!”
‘Perjalanan’ penuh berahi bibir saya sekarang sampai di daerah vagina. Karena paha Emi yang besar, wilayah ‘lubang surga dunia’ yang akan saya masuki ini terlihat sempit, tetapi timbunan lemak kulit di kanan kiri vagina itu ‘methuthuk’ (menyembul), dimana daerah sekitarnya ditumbuhi rambut yang hitam dan lebat. Saya memang termasuk ‘sabar’ dalam bermain cinta. Meskipun penis saya sudah hampir 20 menit berereksi, tetapi tidak akan terjadi ejakulasi, alias sperma memancar sebelum mencapai orgasmus. Dan lagi meskipun badan saya tinggi ceking, namun penis saya mempunyai ukuran ekstra LXX, panjangnya sekitar 18 cm.
Pada saat labia mayora Emi yang menggunung dan menggemaskan itu saya ciumi sambil saya gigit-gigit dan jilati, Emi terlihat reaktif. Kecuali cengkeraman kakinya ke punggung saya yang semakin kencang, cairan vagina yang makin banyak (tanda makin meningkatnya nafsu), kedua bibirnya saling dikatupkan sambil sekali waktu digigit. Nafasnya juga terkadang berhenti beberapa detik, kemudian dadanya menarik nafas panjang. Terus ‘operasiku’ makin ke bawah. Menciumi paha kaki dan seterusnya.
Merasakan bahwa seluruh tubuhnya telah selesai dirangsang, Emi meminta sambil mengaduh, “Mas… Mas… Emi nggak tahan lagi Mas..! Cepet dimasukkan Mas… Emi.. Emi.., nafsu Emi sudah nyampai di ubun-ubun Mas… cepet ya… Mas..!”
Saya masih saja menciumi berpindah-pindah, terkadang ke lehernya sambil menggigit-gigit bibirnya, tanganku juga terkadang mengelus lehernya, memijit kepalanya bagian belakang. Akibatnya rambut Emi terserak ke depan menutupi dahinya, matanya memperlihatkan suatu pemandangan yang menambah birahiku.
Kini penis saya sudah optimal panjangnya. Besar, panjang, keras-keras empuk seperti pentungan polisi, dengan guratan vena yang melebar, dan terasa agak hangat karena terisi darah segar yang terkumpul di dalamnya. Pelan-pelan benda penikmat itu menerobos lubang vagina yang terlihat sempit karena otot polos dinding vagina yang berkontraksi. Cairan vagina yang tumpah dan merembes keluar melicinkan panetrasi penis. Saya sengaja memasukkan penis saya pelan-pelan, kecuali memberi rangsangan kenikmatan sedikit demi sedikit juga sambil melihat reaksi sensual Emi.
Terlihat Emi menarik nafasnya dalam-dalam, dan penis saya terasa seperti tersedot. Terus.. masuk.. masuk.. dan terasa ujungnya menumbuk sesuatu. Sesuatu itu adalah portio uteri (pintu rahim) tempat yang paling sensitif di wilayah vagina bagian dalam. Dan ini dapat terjadi setelah paha Emi yang besar, berat namun putih dan halus itu saya angkat ke atas, saya letakkan di pundak saya pada sendi lutut (lipat pahanya).
Penis saya terasa diremas-remas vagina Emi, sebagai tanda pencapaian orgasmus. Mula-mula pelan-pelan, ritmis.. makin lama makin keras dengan interval yang makin cepat dan berakhir dengan cengkeraman menetap. Ini berulang kali. Dan setiap kali terjadi pencengkaraman penis saya seperti di atas, tubuh Emi menggeliat kadang menggelinjang atau membanting sambil memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Dalam kondisi seperti ini, saya jadi bangga, penuh percaya diri, seperti seorang matador yang dapat menaklukkan lawannya, kadang saya menyangga di atas lutut, tetapi kadang juga saya rebahkan tubuh saya di atas badan Emi yang makin terbasahi cairan vagina, keringat dan parfum yang teraduk menjadi satu.
Disaat merebahi tubuh Emil, bibir saya sampai ke bibir Emi, yang sekali-kali saja membuka matanya. Dan tangan saya tidak berhenti memainkan buah dadanya, meraba, mengelus-ngelus, memijat-mijat, memeras-meras, kadang dengan perasan yang keras, dengan penuh kegemasan dan birahi. Sewaktu saya menduduki perut Emi, Emi terlihat sudah tidak tahan lagi.
Sambil mencium telinga saya Emi berbisik, “Mas… ditembakkan sekarang ya..!”
Dan dengan sepenuh kekuatan pemompaan penis saya makin saya percepat. Seperti joki yang sedang menunggang kuda, sambil memompa, saya tumbukkan perut saya ke tubuh Emi, sementara tangan saya berpegangan dan menarik-narik kedua susunya. Emi memegang lengan saya. Nafasnya berdengus seperti nafas kuda yang sedang berlari cepat.
Posisi tubuh saya yang mendekam, menekan perutnya. Saya genjot-genjotkan ( bahasa jawa : entrok-entrok), rasanya seperti memantul karena pantulan perut Emi. Rasanya Emi saya perlakukan persis seperti kuda balap. Saya seperti lupa bahwa yang saya naiki adalah tubuh seorang wanita cantik. Kepalanya yang tiap genjotan menoleh bergantian ke kanan dan ke kiri, menambah kebirahian saya. Rasanya seperti menunggangi seekor kuda betina yang liar, ganas, harus ditaklukkan.
Nafas Emi terdengar cepat disertai erangannya, “Uuhh… uuh… aduh.. aduh… aduhh.. uhh… terus.. terus.. cepat… cepat aduhhh..!”
Sementara nafas saya seolah memburunya, “Ehh… ehhh… ehh..”
Penis saya makin saya cepatkan keluar masuknya ke vagina, dan ini meyebabkan reaksi orgasmus yang makin meninggi pada diri Emi. Akibatnya cengkeraman ke penisku juga semakin kencang, sehingga saya harus lebih kuat menarik dan memasukkannya ke vagina.
“Uhhh… uhhh…. aduh… aduh… cepat.. cepat Mas… aduh..!”
“Hehh.. eh… eh… ehhh..”
Makin cepat, makin kuat.. makin cepat.. makin kuat saya menarik penis, sampai akhirnya penis saya tidak dapat bergerak lagi, seperti diikat dengan gulungan kabel baja. Berpegang kuat seperti seorang yang takut jatuh, badan Emi terlihat seperti mengejang. Disaat itulah penis saya menyemprotkan sperma, puncak kepuasan bersetubuh bagi seorang laki-laki. Badan saya, saya jatuhkan ke tubuhnya, dan lengan serta tungkai Emi memeluk tubuh saya disertai jeritan lirih. Rupanya ejakulasi saya berbarengan dengan orgasmusnya yang entah sudah keberapa puluh kalinya. Pertempuran dan pergulatan berakhir. Bila dihitung dengan skor, mungkin 40 : 1 untuk kemenangan saya.
“Puas Mi..?”
Emi diam karena seperti setengah tidak sadarkan diri pada saat orgasmusnya yang sangat-sangat kuat sekali dan berhasil memaksa penis saya mengeluarkan sperma. Sejenak matanya sedikit dibuka.
“Sangat puas sekali dan oooeenak tenan…” jawabnya dengan genit, “Tetapi sebentar tambah lagi sebanyak-banyaknya sampai pagi lho Mas..!”
“Lho suamimu sekarang dimana..?” godaku memancing (suaminya memang sering ke luar kota).
“Lha ya.., yang sedang menindihi tubuh saya ini..” jawabnya disertai senyumnya yang genit.
Dalam keadaan lemas, rambut teracak-acak, tubuh hangat basah karena keringat, bugil dan putih, Emi semakin terlihat merangsang.
Saya lihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 1 malam. Jadi kami sudah bercinta, bergelut, bersetubuh selama 5 jam. Nah, teman-teman netter, saya ingin ulangi kalimat saya di awal cerita ini. Siapa bilang bercinta dengan orang gemuk memuakkan dan melelahkan. Masih nggak percaya? Kalau begitu beri komentar atas kisah saya ini.

TAMAT

Gairah Tubuh Rina, Anak Teman Bisnisku

Cerita Dewasa - Cerita Seks - Cerita panas  - Aku adalah seorang mahasiswa tingkat akhir di perguruan tinggi di Bandung, dan sekarang sudah tingkat akhir. Untuk saat ini aku tidak mendapatkan mata kuliah lagi dan hanya mengerjakan skripsi saja. Oleh karena itu aku sering main ke tempat abangku di Jakarta.
Suatu hari aku ke Jakarta. Ketika aku sampai ke rumah kakakku, aku melihat ada tamu, rupanya ia adalah teman kuliah kakakku waktu dulu. Aku dikenalkan kakakku kepadanya. Rupanya ia sangat ramah kepadaku. Usianya 40 tahun dan sebut saja namanya Firman. Ia pun mengundangku untuk main ke rumahnya dan dikenalkan pada anak-istrinya. Istrinya, Dian, 7 tahun lebih muda darinya, dan putrinya, Rina, duduk di kelas 2 SMP.
Kalau aku ke Jakarta aku sering main ke rumahnya. Dan pada hari Senin, aku ditugaskan oleh Firman untuk menjaga putri dan rumahnya karena ia akan pergi ke Malang, ke rumah sakit untuk menjenguk saudara istrinya. Menurutnya sakit demam berdarah dan dirawat selama 3 hari. oleh karena itu ia minta cuti di kantornya selama 1 minggu. Ia berangkat sama istrinya, sedangkan anaknya tidak ikut karena sekolah.
Setelah 3 hari di rumahnya, suatu kali aku pulang dari rumah kakakku, karena aku tidak ada kesibukan apapun dan aku pun menuju rumah Firman. Aku pun bersantai dan kemudian menyalakan VCD. Selesai satu film. Saat melihat rak, di bagian bawahnya kulihat beberapa VCD porno. Karena memang sendirian, aku pun menontonnya. Sebelum habis satu film, tiba-tiba terdengar pintu depan dibuka. Aku pun tergopoh-gopoh mematikan televisi dan menaruh pembungkus VCD di bawah karpet.
“Hallo, Oom Ryan..!” Rina yang baru masuk tersenyum.
“Eh, tolong dong bayarin Bajaj… uang Rina sepuluh-ribuan, abangnya nggak ada kembalinya.”
Aku tersenyum mengangguk dan keluar membayarkan Bajaj yang cuma dua ribu rupiah.
Saat aku masuk kembali.., pucatlah wajahku! Rina duduk di karpet di depan televisi, dan menyalakan kembali video porno yang sedang setengah jalan. Mia memandang kepadaku dan tertawa geli.
“Ih! Oom Ryan! Begitu, tho, caranya..? Rina sering diceritain temen-temen di sekolah, tapi belon pernah liat.”
Gugup aku menjawab, “Rina… kamu nggak boleh nonton itu! Kamu belum cukup umur! Ayo, matiin.”
“Aahhh, Oom Ryan. Jangan gitu, dong! Tu, liat… cuma begitu aja! Gambar yang dibawa temen Rina di sekolah lebih serem.”
Tak tahu lagi apa yang harus kukatakan, dan khawatir kalau kularang Rina justru akan lapor pada orangtuanya, aku pun ke dapur membuat minum dan membiarkan Rina terus menonton. Dari dapur aku duduk-duduk di beranda belakang membaca majalah.
Sekitar jam 7 malam, aku keluar dan membeli makanan. Sekembalinya, di dalam rumah kulihat Rina sedang tengkurap di sofa mengerjakan PR, dan… astaga! Ia mengenakan daster yang pendek dan tipis. Tubuh mudanya yang sudah mulai matang terbayang jelas. Paha dan betisnya terlihat putih mulus, dan pantatnya membulat indah. Aku menelan ludah dan terus masuk menyiapkan makanan.
Setelah makanan siap, aku memanggil Rina. Dan.., sekali lagi astaga… jelas ia tidak memakai BH, karena puting susunya yang menjulang membayang di dasternya. Aku semakin gelisah karena penisku yang tadi sudah mulai “bergerak”, sekarang benar-benar menegak dan mengganjal di celanaku.
Selesai makan, saat mencuci piring berdua di dapur, kami berdiri bersampingan, dan dari celah di dasternya, buah dadanya yang indah mengintip. Saat ia membungkuk, puting susunya yang merah muda kelihatan dari celah itu. Aku semakin gelisah. Selesai mencuci piring, kami berdua duduk di sofa di ruang keluarga.
“Oom, ayo tebak. Hitam, kecil, keringetan, apaan..!”
“Ah, gampang! Semut lagi push-up! Khan ada di tutup botol Fanta! Gantian… putih-biru-putih, kecil, keringetan, apa..?”

Mia mengernyit dan memberi beberapa tebakan yang semua kusalahkan.
“Yang bener… Rina pakai seragam sekolah, kepanasan di Bajaj..!”
“Aahhh… Oom Ryan ngeledek..!”
Mia meloncat dari sofa dan berusaha mencubiti lenganku. Aku menghindar dan menangkis, tapi ia terus menyerang sambil tertawa, dan… tersandung!
Ia jatuh ke dalam pelukanku, membelakangiku. Lenganku merangkul dadanya, dan ia duduk tepat di atas batang kelelakianku! Kami terengah-engah dalam posisi itu. Bau bedak bayi dari kulitnya dan bau shampo rambutnya membuatku makin terangsang. Dan aku pun mulai menciumi lehernya. Rina mendongakkan kepala sambil memejamkan mata, dan tanganku pun mulai meremas kedua buah dadanya.
Nafas Rina makin terengah, dan tanganku pun masuk ke antara dua pahanya. Celana dalamnya sudah basah, dan jariku mengelus belahan yang membayang.
“Uuuhh… mmmhhh…” Rina menggelinjang.

Kesadaranku yang tinggal sedikit seolah memperingatkan bahwa yang sedang kucumbu adalah seorang gadis SMP, tapi gariahku sudah sampai ke ubun-ubun dan aku pun menarik lepas dasternya dari atas kepalanya.
Aahhh..! Rina menelentang di sofa dengan tubuh hampir polos!
Aku segera mengulum puting susunya yang merah muda, berganti-ganti kiri dan kanan hingga dadanya basah mengkilap oleh ludahku. Tangan Rina yang mengelus belakang kepalaku dan erangannya yang tersendat membuatku makin tak sabar. Aku menarik lepas celana dalamnya, dan.. nampaklah bukit kemaluannya yang baru ditumbuhi rambut jarang. Bulu yang sedikit itu sudah nampak mengkilap oleh cairan kemaluan Rina. Aku pun segera membenamkan kepalaku ke tengah kedua pahanya.
“Ehhh… mmmaaahhh..,” tangan Rina meremas sofa dan pinggulnya menggeletar ketika bibir kemaluannya kucium.
Sesekali lidahku berpindah ke perutnya dan mengemut perlahan.
“Ooohh… aduuhhh..,” Rina mengangkat punggungnya ketika lidahku menyelinap di antara belahan kemaluannya yang masih begitu rapat.

Lidahku bergerak dari atas ke bawah dan bibir kemaluannya mulai membuka. Sesekali lidahku akan membelai kelentitnya dan tubuh Rina akan terlonjak dan nafas Rina seakan tersedak. Tanganku naik ke dadanya dan meremas kedua bukit dadanya. Putingnya sedikit membesar dan mengeras.
Ketika aku berhenti menjilat dan mengulum, Rina tergeletak terengah-engah, matanya terpejam. Tergesa aku membuka semua pakaianku, dan kemaluanku yang tegak teracung ke langit-langit, kubelai-belaikan di pipi Rina.
“Mmmhh… mmmhhh… ooohhhmmm..,” ketika Rina membuka bibirnya, kujejalkan kepala kemaluanku.
Mungkin film tadi masih diingatnya, jadi ia pun mulai menyedot. Tanganku berganti-ganti meremas dadanya dan membelai kemaluannya.
Segera saja kemaluanku basah dan mengkilap. Tak tahan lagi, aku pun naik ke atas tubuh Rina dan bibirku melumat bibirnya. Aroma kemaluanku ada di mulut Rina dan aroma kemaluan Rina di mulutku, bertukar saat lidah kami saling membelit.
Dengan tangan, kugesek-gesekkan kepala kemaluanku ke celah di selangkangan Rina, dan sebentar kemudian kurasakan tangan Rina menekan pantatku dari belakang.
“Ohhmm, mam… msuk… hhh… msukin… Omm… hhh… ehekmm…”

Perlahan kemaluanku mulai menempel di bibir liang kemaluannya, dan Rina semakin mendesah-desah. Segera saja kepala kemaluanku kutekan, tetapi gagal saja karena tertahan sesuatu yang kenyal. Aku pun berpikir, apakah lubang sekecil ini akan dapat menampung kemaluanku yang besar ini. Terus terang saja, ukuran kemaluanku adalah panjang 15 cm, lebarnya 4,5 cm sedangkan Rina masih SMP dan ukuran lubang kemaluannya terlalu kecil.

Tetapi dengan dorongan nafsu yang besar, aku pun berusaha. Akhirnya usahaku pun berhasil. Dengan satu sentakan, tembuslah halangan itu. Rina memekik kecil, dahinya mengernyit menahan sakit. Kuku-kuku tangannya mencengkeram kulit punggungku. Aku menekan lagi, dan terasa ujung kemaluanku membentur dasar padahal baru 3/4 kemaluanku yang masuk. Lalu aku diam tidak bergerak, membiarkan otot-otot kemaluan Rina terbiasa dengan benda yang ada di dalamnya.

Sebentar kemudian kernyit di dahi Rina menghilang, dan aku pun mulai menarik dan menekankan pinggulku. Rina mengernyit lagi, tapi lama kelamaan mulutnya menceracau.
“Aduhhh… ssshhh… iya… terusshh… mmmhhh… aduhhh… enak… Oommm…”
Aku merangkulkan kedua lenganku ke punggung Rina, lalu membalikkan kedua tubuh kami hingga Rina sekarang duduk di atas pinggulku. Nampak 3/4 kemaluanku menancap di kemaluannya. Tanpa perlu diajarkan, Rina segera menggerakkan pinggulnya, sementara jari-jariku berganti-ganti meremas dan menggosok dada, kelentit dan pinggulnya, dan kami pun berlomba mencapai puncak.

Lewat beberapa waktu, gerakan pinggul Rina makin menggila dan ia pun membungkukkan tubuhnya dan bibir kami berlumatan. Tangannya menjambak rambutku, dan akhirnya pinggulnya menyentak berhenti. Terasa cairan hangat membalur seluruh batang kemaluanku.

Setelah tubuh Rina melemas, aku mendorong ia telentang. Dan sambil menindihnya, aku mengejar puncakku sendiri. Ketika aku mencapai klimaks, Rina tentu merasakan siraman air maniku di liangnya, dan ia pun mengeluh lemas dan merasakan orgasmenya yang ke dua.

Sekian lama kami diam terengah-engah, dan tubuh kami yang basah kuyup dengan keringat masih saling bergerak bergesekan, merasakan sisa-sisa kenikmatan orgasme.
“Aduh, Oom… Rina lemes. Tapi enak banget.”

Aku hanya tersenyum sambil membelai rambutnya yang halus. Satu tanganku lagi ada di pinggulnya dan meremas-remas. Kupikir tubuhku yang lelah sudah terpuaskan, tapi segera kurasakan kemaluanku yang telah melemas bangkit kembali dijepit liang vagina Rina yang masih amat kencang.

Aku segera membawanya ke kamar mandi, membersihkan tubuh kami berdua dan… kembali ke kamar melanjutkan babak berikutnya. Sepanjang malam aku mencapai tiga kali lagi orgasme, dan Rina… entah berapa kali. Begitupun di saat bangun pagi, sekali lagi kami bergumul penuh kenikmatan sebelum akhirnya Rina kupaksa memakai seragam, sarapan dan berangkat ke sekolah.

Kembali ke rumah Firman, aku masuk ke kamar tidur tamu dan segera pulas kelelahan. Di tengah tidurku aku bermimpi seolah Rina pulang sekolah, masuk ke kamar dan membuka bajunya, lalu menarik lepas celanaku dan mengulum kemaluanku. Tapi segera saja aku sadar bahwa itu bukan mimpi, dan aku memandangi rambutnya yang tergerai yang bergerak-gerak mengikuti kepalanya yang naik-turun. Aku melihat keluar kamar dan kelihatan VCD menyala, dengan film yang kemarin. Ah! Merasakan caranya memberiku “blowjob”, aku tahu bahwa ia baru saja belajar dari VCD.

TAMAT

Bercinta Dihujan Deras

Cerita Dewasa - Cerita Seks - Cerita panas  - Sial banget, gumanku begitu sampai di Yogyakarta di stasiun Tugu. Liburan semester ini aku menyempatkan diri main-main ke Surabaya, waktu mau balik ke Yogya sini, cuaca kota Surabaya masih cerah sekali. Benar-benar tidak menyangka kalau saat pulang ini disambut oleh cuaca yang mendung. Kalau naik becak sih…, pasti mahal, begitu pula Taxi, lagian tempat tinggalku agak terpencil masuk gang. Akhirnya kuputuskan untuk cari tukang ojek.
Beruntung sekali, belum sampai aku keluar dari halaman stasiun sudah ada tukang ojek yang nawarin diri. Tidak perlu basa-basi aku langsung mengiyakan.
“Kemana Mas?, “tanyanya.
“Monjali”, kataku
Dan kamipun melaju dengan Astrea Supra.

Awalnya aku sama sekali tidak berminat terhadap sekelilingku, aku tetap khawatir pada cuaca yang semakin gelap. Tapi waktu kami keluar dari Jln Solo, cuacanya agak mendingan. Dan baru kusadari kalau abang tukang ojek di depanku mulai menarik minatku. Perawakannya sangat atletis, kulitnya sawo matang, rambutnya ikal dan yang membuatku semakin tertarik adalah pakaiannya sexi sekali. Kaos singlet putih dan celana pendek putih yang ketat. Kuperkirakan dia berusia 25 tahun keatas.
“Abang nggak risih pake pakaian kaya’ gini?”, tanyaku.
“Ah, biasa saja tuh. Malah adem”, katanya.
“Badan Abang kekar banget, kok bisa sih?”.
“Ah, masa?! Ya…, mungkin ini karena dulu saya narik becak”, katanya sembari tertawa.
“Bang, boleh nggak aku ngerasain otot badan abang”.
“Mau megang? Boleh-boleh saja, tapi jangan bikin saya geli ya!”.
Tanpa basa-basi, aku mulai menyentuh otot tubuhnya. Pertama perutnya yang kotak, dadanya yang bidang.
“aah…, geli nih”, katanya.
“Itu belum apa-apa Bang, saya belum selesai”, kataku.
Tanpa mempedulikan dia yang terus mengendarai sepeda motornya dan pemandangan sekeliling, tanganku beralih ke bagian bawah pusarnya. Aku mulai meraba bagian terlarangnya.
“Wah, podo lanang’e nanging kok nggeh penak”, katanya saat aku mulai memijitnya.
“Mau dilanjutin?”, tanyaku.
“Purun Mas”, katanya.
Kali ini jari jemari tanganku mulai menelusuri tonjolan miliknya yang kian keras dan berdenyut kencang itu. “Astaga” dia tak bercawat. Aku semakin berani, kubuka restleting celananya dan, “Blueeeff”, dalam seketika penis miliknya menerobos keluar.
Tiba-tiba saja dia menepi ke pinggir, kupikir dia marah dengan kelakuanku, Ternyata tidak. Dia menepi di daerah yang bersemak belukar dan tersembunyi dari Jalan Raya.

“Lakukan disini saja”, katanya sambil menggandengku dan menggenggam penisnya. Aku melanjutkan perbuatanku tadi. Penisnya berukuran kira-kira 17-20 cm, berbulu lebat itu langsung kukocok dan kedua biji pelirnya aku jilati. Aku menjadi 100% yakin kalau dia adalah gay juga saat dia precum dan mencumbuku sementara tangannya meraih penisku yang masih tertutup rapat. Dalam waktu singkat kami sama-sama sudah bugil. Kami saling mencumbu dan penis kami saling beradu juga. Kemudian kami mengambil posisi 69. Dan kami saling hisap.

Saat sedang asyik-asyiknya menikmati permainan binal ini, hujan mengguyur dengan derasnya. Namun kami seakan tak peduli. Kami justru semakin bernafsu. Diantara rerumputan dan tanah becek kami berguling-guling memadu kasih. Hingga tubuh kami penuh dengan lumpur. Tapi hal ini tetap membuat kami bernafsu mengulum penis dan bagian lain. Bener-bener tidak menyangka kalau kami ejakulasi bersamaan dan penis kami masih tetap berada di kuluman. Spontan sperma langsung ketelan. Aku butuh beberapa menit untuk membuat penisku kembali keras, sedangkan dia benar-benar perkasa.

“Sodomi aku”, katanya saat penisku mulai mengeras. Dia sudah siap dengan posisi nungging di bawah pohon. Aku tidak langsung memenuhi keinginannya, aku masih ingin mengulum penisnya yang menggelayut di antara pahanya. Aku menariknya ke arah belakang dan mengulumnya lagi, tapi kali ini aku memasukkan jari tengahku ke anusnya, Sambil menghisap aku menusuk-nusukkan jariku. Tidak seberapa lama kemudian aku menyuruhnya telentang dengan kaki mengangkang. Aku ganjal pantatnya dengan baju kami hingga pantatnya sedikit ke atas dan kemudian dengan perlahan kumasukkan penisku ke anusnya. Cukup mudah, kurasa dia sering disodomi. Aku gerakkan pinggulku sehingga penisku bergerak maju mundur menekan dinding lubang anusnya. Kami salimg mendesah dan melenguh. Dia meraba penisnya sendiri sambil terus menikmati ayunan penisku yang jauh di dalam anus menyentuh prostatnya.

Selama kurang lebih 1/2 jam setelahnya, aku ejakulasi. Kutuangkan air maniku di atas selangkangannya. Dan tak lama kemudian diapun ejakuasi. Kami kelelahan, hujan mulai mereda. Aku diantarnya pulang dan gratis! Ironisnya aku lupa menanyakan nama dan alamat dia. Kami tak pernah jumpa lagi. Tapi, setidaknya dia tahu dimana aku tinggal, jadi aku masih mau bercinta dengannya suatu saat nanti ketika dia mampir ke rumahku.

TAMAT

Pesta Lesbi 01

Cerita Dewasa - Cerita Seks - Cerita panas  - Tante Lis berusia 45 tahun dengan ukuran payudara 38 dan tubuh yang ideal. Dia bekerja sebagai ibu rumah tangga dan tinggal di Yogyakarta. Sedangkan Ibu Susi berusia 40 tahun dengan ukuran payudara 38 dan tubuh yang ideal. Dia bekerja sebagai dosen di Malang dan juga tinggal di sana. Suami mereka berdua adalah kakak beradik dan sibuk bekerja di luar negeri.
Mereka berdua menjadi lesbian ketika suatu sore Tante Lis ditelepon oleh seseorang yang mengaku sebagai relasi suaminya di Inggris, namanya Jennifer. Dia orang Amerika. Dia mengatakan kalau ada sesuatu yang ingin dibicarakan tentang suaminya. Tante Lis disuruhnya datang ke hotel tempatnya menginap sore itu juga. Di Hotel Garuda. Kebetulan Ibu Susi sedang liburan di tempat Tante Lis. Sehingga diajak pula Ibu Susi. Setelah melapor ke resepsionis hotel, mereka berdua langsung menuju ke kamar Jennifer. Mereka disambut Jennifer sendiri.
“Selamat sore,” sapa Jennifer ramah dalam bahasa Indonesia meskipun agak kaku.
“Selamat sore,” jawab Tante Lis.
“Bisa ketemu dengan Jennifer,” sambung Tante Lis.
“Saya sendiri. Ibu siapa?”
“Saya Nyonya Hermawan,” jawab Tante Lis menyebutkan nama suaminya.
“Ooo… Maaf Bu. Saya tidak tahu.”
Jennifer lalu menjabat tangan Tante Lis.
“Dan ini kerabat saya,” kata Tante Lis.
“Susi,” kata Ibu Susi sambil menjabat tangan Jennifer.
“Mari, silakan masuk! Maaf kursinya saya pakai untuk menaruh tas. Saya hanya semalam di sini. Kita duduk di tempat tidur saja.”
Mereka bertiga masuk dan lalu duduk di tepian tempat tidur.
“Kenapa hanya semalam?” tanya Ibu Susi.
“Saya kebetulan hanya mampir untuk membicarakan masalah Pak Hermawan. Besok saya sudah berangkat ke Australia.”
“Bagaimana dengan suami saya?” tanya Tante Lis.
“Dia terlibat suatu masalah.”
Kemudian Jennifer menceritakan masalah yang dihadapi suami Tante Lis. Sampai akhirnya mereka bertiga terdiam beberapa saat. Tiba-tiba..
“Saya mohon kepada anda untuk menolong suami saya,” kata Tante Lis kepada Jennifer.
“Saya sebetulnya tidak bisa menolong Pak Hermawan. Bisa, asal…”
Jennifer tidak melanjutkan kata-katanya. Tetapi tangannya melepaskan kancing baju yang dipakai Tante Lis yang duduk di sampingnya. Tante Lis diam saja. Dibelainya bagian atas payudara kirinya yang masih ditutupi BH.
“Ehmmm… ehmmm… ehmmm…”
Kedua tangan Jennifer lalu bergerak ke belakang, melepas tali BH yang dipakai Tante Lis. Salah satu tangannya maju ke depan dan meremas payudara kanan Tante Lis.
“Aaahhh… aaahhh… aaahhh…”
Ibu Susi yang sedang duduk di samping Tante Lis dan sedang membaca majalah terkejut mendengar suara yang keluar dari mulut Tante Lis. Dilihatnya kedua tangan Jennifer sedang meremas kedua payudara Tante Lis sedangkan kedua tangan Tante Lis melepas baju yang dipakai Jennifer. Sekarang bibir mereka berdua sudah saling menempel dan kedua lidah mereka saling mengulumdengan hangat. Ibu Susi yang melihat itu tidak kuat menahan nafsu. Diremasnya kedua payudaranya sendiri yang masih ditutupi pakaiannya.
Baju Tante Lis sekarang sudah terlepas dari tempatnya dan kedua tangannya melepas kaos dalam yang dipakai Jennifer sambil tetap berciuman. Bibir Tante Lis terlepas dari bibir Jennifer demi dilihatnya kedua payudara Jennifer yang ukurannya dua kali lebih besar dari miliknya meskipun tubuhnya biasa saja. Jennifer yang merasakan hal itu lalu merebahkan diri sambil menarik tubuh Tante Lis. Sehingga mulut Tante Lis jatuh tepat di atas payudara kiri Jennifer. Dijilatinya payudara kiri Jennifer tersebut sambil tangan kirinya memilin-milin puting payudara kanan Jennifer. “Aaahhh… aaahhh… aaahhh…”
Ibu Susi melihat hal tersebut. Nafsunya semakin panas sehingga sekarang tangannya menarik tangan kiri Tante Lis dari payudara kanan Jennifer dan mulutnya ikut beraksi. Dijilatinya payudara kanan Jennifer sambil tangannya meremas payudara kanan Jennifer. Kedua tangan Jennifer akan meremas kedua payudara Tante Lis. Tetapi tangan kirinya dipegang tangan Tante Lis. Sedangkan tangan kanannya dipegang tangan Ibu Susi. Tante Lis dan Ibu Susi sibuk mempermainkan kedua payudara Jennifer sampai akhirnya Ibu Susi kelelahan dan terlentang di samping kanan Jennifer. Jennifer yang merasa tidak bisa apa-apa ketika kedua payudaranya dipermainkan kedua tamunya kemudian mengangkat kepala Tante Lis yang masih sibuk. Tante Lis tahu diri dan kemudian dia ikut terlentang di samping kiri Jennifer. Tidak lama, setelah Jennifer bangkit dari tempat tidur, Tante Lis menghampiri Ibu Susi. Tante Lis dengan cekatan melepas pakaian bagian atas Ibu Susi yang masih berpakaian lengkap.
Sekarang mereka berdua sudah setengah telanjang dan Tante Lis lalu menindih Ibu Susi. Kedua payudara mereka saling menempel. “Ouohhh…” Mulut mereka berdua sama-sama mengeluarkan suara yang disambut dengan kedua bibir mereka yang saling berciuman dan perang antar lidah. Jennifer sendiri setelah bangkit dari tempat tidur lalu melepas celana jeans yang dipakainya. Sekarang dia sudah telanjang bulat karena dia tidak memakai celana dalam. Dia mengambil dua buah dildo berukuran 20 cm dari dalam tasnya. Dia berbalik dan melihat ke tempat tidur. Tante Lis dan Ibu Susi sedang dalam puncak kenikmatan. Mereka berdua sudah telanjang bulat. Mereka berpelukan dan bergulingan di atas tempat tidur. Jennifer melemparkan salah satu dildo ke tempat tidur.Sedangkan yang satunya sedang menari-nari di kedua payudaranya sendiri. Dildo tersebut kemudian naik dan masuk ke dalam mulutnya. Dikeluar-masukkan dildo tersebut. Setelah puas, dildo tersebut turun ke bawah. Dimasukkannya dildo tersebut ke dalam lubang kemaluannya sepanjang 15 cm. Diputar-putar dan digesek-gesekkan dildo tersebut dalam lubang kemaluannya sambil dia menari-nari. “Aaahhh… aaahhh… aaahhh…”
Jennifer terkejut dengan suara tersebut dan dilihatnya Tante Lis dan Ibu Susi sama-sama terlentang sehabis lelah bercumbu. Dilihatnya tangan Ibu Susi memberi isyarat untuk menghampirinya. Jennifer naik ke tempat tidur dan tangannya menggesek-gesekkan dildo yang dilemparnya tadi ke kedua payudara Ibu Susi bergantian. Sedangkan dildo yang satunya masih menggantung di kemaluannya sehingga mirip kemaluan laki-laki meskipun sudah keluar dengan panjang 15 cm. Kemudian dildo tersebut dengan pelan-pelan dimasukkan ke dalam lubang kemaluan Ibu Susi. Dikeluar-masukkan seolah-olah Jennifer adalah seorang laki-laki yang sedang menyetubuhi seorang wanita. “Aaahhh… aaahhh… aaahhh…”
Sedangkan dildo yang menari-nari di kedua payudara Ibu Susi sekarang sudah menjelajahi kemaluan Tante Lis. Setelah beberapa menit Jennifer mengeluarkan dildo dari dalam liang kemaluannya. Sekarang tangan kanannya mengeluar-masukkan dildo ke dalam lubang kemaluan Tante Lis dantangan kirinya mengeluar-masukkan dildo ke dalam kemaluan Ibu Susi. Kedua tangan Tante Lis dan Ibu Susi juga tidak tinggal diam. Kedua payudara Jennifer yang menantang dijadikan permainan kedua tangan mereka. Diremas, dipilin dan disentil putingnya. “Aaahhh… aaahhh… aaahhh…” Mereka bertiga akhirnya kelelahan. Setelah keluar untuk makan malam, mereka melanjutkan permainan mereka sampai pagi.
Pagi harinya Tante Lis dan Ibu Susi mengantarkan Jennifer ke Bandara. Jennifer meninggalkan masing-masing dildo untuk Tante Lis dan Ibu Susi. Keesokan harinya Ibu Susi juga kembali ke Malang karena masa liburannya sudah habis.
KISAH MARTHA
Martha berusia 23 tahun dengan ukuran payudara 36 dan tubuh yang ideal. Dia masih berstatus mahasiswi di sebuah PTS di Yogyakarta. Dia tinggal di rumah kontrakan di Yogyakarta bagian selatan.
Martha menjadi lesbian karena Tante Lis. Martha dan Tante Lis sama-sama menjadi anggota sebuah pusat kebugaran terkemuka di Yogyakarta. Suatu sore, Martha dan Tante Lis berada di tempat ganti pakaian pusat kebugaran tersebut. Hanya mereka berdua karena kebetulan hujan turun dengan derasnya dan membuat banyak anggota pusat kebugaran tersebut enggan datang. Martha melihat Tante Lis yang berdiri beberapa meter dari tempatnya berdiri. Entah mengapa pandangan matanya kali ini beda dari biasanya. Dilihatnya kedua payudara Tante Lis yang seolah-olah ingin keluar dari penutupnya karena ketatnya baju senam yang dipakai Tante Lis. Tante Lis rupanya mengetahuinya.
“Ada apa Mbak?”
“Ah.. Tidak apa-apa Tante.”
“Tidak apa-apa kok melihat kedua payudara saya.”
Martha kaget kalau ternyata Tante Lis mengetahuinya pandangan matanya. Akhirnya keluarlah beberapa kata dari mulutnya.
“Kedua payudara Tante besar dan indah.”
“Punyamu juga besar dan indah.”
Tante Lis lalu mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah bedak talk. Dia kemudian membalikkan tubuhnya dan membelakangi Martha.
“Mbak, bisa Tante minta tolong?”
“Bisa, Tante mau apa?”
Martha menghampiri Tante Lis yang sedang menurunkan pakaian senamnya sehingga sekarang punggungnya terbuka.
“Tolong taburkan bedak talk ini ke punggungku dan gosokkan sekalian.”
Martha menerima bedak talk kemudian menaburkannya ke punggung Tante Lis. Dia lalu menggosoknya dengan biasa saja.
“Aaahhh…”
“Kenapa Tante?”
“Tidak apa-apa. Kamu mau tidak menggosok bagian depan?”
“Mau Tante. Tetapi jangan di sini. Nanti ketahuan orang lain.”
“Cuek saja.”
Martha ingin menolak. Tetapi terlambat. Tante Lis sudah membalikkan tubuhnya. Kedua payudaranya yang menantang membuat Martha langsung menaburi bedak talk ke kedua payudara Tante Lis. Digosoknya kedua payudara Tante Lis dengan kedua tangannya. Diremasnya kedua payudara Tante Lis.
“Aaahhh… aaahhh… aaahhh…”
“Mbak mau?” tawar Tante Lis.
Tanpa menunggu persetujuan Martha, Tante Lis sudah menurunkan pakaian senam yang dipakaiMartha. Dilihatnya kedua payudara Martha yang hanya terdiam sambil menyerahkan bedak talk. Tante Lis menerima bedak talk tersebut dan didorongnya Martha ke tembok. Martha disandarkan ke tembok dan mulut Tante Lis sudah menjilati payudara kiri Martha. Sedangkan tangan kirinya mengusapkan bedak talk ke payudara kanan Martha. “Ehmmm… ehmmm… ehmmm…”
Hanya itu yang keluar dari mulut Martha. Tangannya meraih tangan kiri Tante Lis dan melepaskan bedak talk yang dipegangnya. Dibimbingnya tangan kiri Tante Lis untuk membelai payudara kanan Martha. Tante Lis tidak hanya membelai tetapi juga memilin-milin puting payudara kanan Martha.”Aaahhh… aaahhh… aaahhh…”Mendengar suara itu Tante Lis semakin bergairah untuk mencumbui Martha. Dilepaskannya pakaian senam yang dipakai Martha yang masih menutupi bagian bawah tubuhnya sambil tetap memainkan kedua payudara Martha. Mulutnya turun ke bawah. Mulutnya tepat pada kemaluan Martha. Lidahnya dikeluarkan. Disentuhkannya ujung lidahnya ke kemaluan Martha berulang-ulang.
Sekarang Tante Lis sudah menjilati kemaluan Martha sambil jari telunjuk tangan kanannya membuka lubang kemaluan Martha dan tangan kirinya masih menikmati permainan kedua payudara Martha. Lidahnya dimasukkan ke dalam celah lubang kemaluan Martha. Lidah Tante Lis sudah merasa puasbermain-main di kemaluan Martha. Sekarang jari-jarinya dikeluar-masukkan ke dalam liang kemaluannya. Dikocoknya pelan-pelan. Mulut Tante Lis rupanya belum puas dan ikut membantu jari-jari Tante Lis dalam mempermainkan kemaluan Martha. Berkali-kali Martha mendesah. “Aaahhh… aaahhh… aaahhh…” Tante Lis menghentikan permainannya sebentar. Dia melepaskan apa yang masih menutupi tubuhnya. Kemudian dengan bantuan jari-jari pada kedua tangannya Tante Lis menempelkan kemaluannya ke kemaluan Martha.
“Aaahhh… aaahhh… aaahhh…” Suara yang keluar dari mulutnya dan mulut Martha disambut dengan menempelnya kedua payudara Tante Lis pada kedua payudara Martha. “Ouohhh…” Lagi-lagi suara yang keluar dari mulut mereka berdua disambut dengan menempelnya kedua bibir mereka. Mereka berciuman dengan saling berebutan untuk menjilati lidah. Tante Lis menggerak-gerakkan tubuhnya. Kedua payudaranya dan kedua payudara Martha saling bergesekan. Begitu juga dengan kedua kemaluan mereka. Setelah beberapa saat Tante Lis menghentikan permainan itu. Dia melepaskan tubuhnya pada tubuh Martha. Dia berbalik dan membungkuk mengambil pakaiannya. Ketikadia berdiri, dari belakang Martha memeluknya.

Bersambung ke bagian 02

Pesta ^Assoy^ 01

Cerita Dewasa - Cerita Seks - Cerita panas  - Aku dan kedua temanku, Joe dan Dani makan siang di Citraland Mall sambil ngobrol-ngobrol karena memang cukup lama kami tidak bertemu, tepatnya setelah Dani menikah lima bulan yang lalu. Saat kuliah dulu, kami berlima bersama istri Joe dan istriku adalah sahabat kental yang selalu bersama-sama.
Setelah ngobrol tidak menentu cukup lama, tiba-tiba saja Joe bertanya pada Dani, “Dan, gimana istri loe? Asyik ngga?”
Ditanya begitu, Dani malah menjawab, “Ya lumayan deh. Tapi ngga seseksi Ami, sih!”
Aku dan Joe tertawa saja.
Dulu Ami, istri Joe memang jadi idola kami bertiga. Maklum saja karena Ami memang cantik sekali, seksi, dan energik. Tapi akhirnya Joe lah yang berhasil mendapatkannya. Sahabat kami yang lainnya, Fay, akhirnya menjadi istriku.
“Hahaha… masih ada hati ama Ami loe, ya!” aku menimpali.
“Yeeh… loe juga ngebet ama dia kan?” balas Dani.
Aku hanya nyengir saja mendengarnya, lalu membalas, “Dulu sih iya.., tapi kalo sekarang gue pilih Fay deh…”
Tiba-tiba Joe memotong, “Eh, denger omongan loe tadi, gue punya ide nih.”"Ide apaan? Pasti ide gila nih.. dari dulu ide loe ngga pernah bener!” komentarku bercanda.”Bisa dibilang gitu sih..” jawab Joe.Aku dan Dani heran mendengar jawabannya. Kami berdua hanya terbengong tanpa merespon.
Joe langsung menjelaskan, “Gini.., Senin depan libur kan? Nah, loe berdua mau ngga nginep di rumah gue..?”
“Hah? Istri gue gimana..?” potong Dani heran.
“Bilang aja ama dia kalo loe mau nginep di rumah gue. Kan udah lama ngga ketemu!” timpal Joe, sedikit kesal.
“Nanti disana, kita pesta ‘assoy’.”
“Pesta seks? Gila loe! Jangan macem-macem deh!” sungut Dani.
Aku sendiri sebenarnya tertarik dengan ide Joe itu.
“Kenapa ngga? Pasti asik deh…” pancing Joe.
“Gue sih mau aja,” jawabku. “Tapi si Dani mau ngga?”
Dani terlihat berpikir. Tidak lama dia bicara, “Loe udah rencanain mateng Joe? Terus, si Ami gimana?”
“Hahaha… pokoknya beres deh! Everything is under control. Ceweknya dijamin yahuud dan bebas penyakit!” balas Joe.
Akhirnya Dani setuju. Maka rencana gila Joe itu akhirnya diterima secara bulat.
Di rumah, aku bicara pada Fay kalau aku mau menginap di rumah Joe Senin depan.
Mulanya dia diam saja, tapi kemudian dia tanya, “Ivan ngapain disana?”
“Ya… kan udah lama ngga ketemu. Boleh dong nginep sekali-sekali…” jawabku.
Fay diam sebentar… mikir dia, “Disana mau macem-macem ya?”
“Macem-macem gimana?”
“Main cewek misalnya..”
“Nggaaak…”
“Bo’ong nih!”
“Bo’ong juga ngga ketauan koq!” jawabku asal.
Fay hanya mencibir, lalu balik badan membelakangiku, dan langsung tidur.
Sebagai info, Fay ini badannya mungil. Tidak sampai sepundakku tingginya. Jelas dia cakep, walaupun kalah dari Ami. Bodinya cukup bagus, pinggangnya ramping, kulitnya bersih dan mulus karena dia rajin merawat badan. Kami menikah baru sekitar setahun yang lalu.
Pada hari yang ditentukan, aku menuju rumah Joe. Fay kutinggal di rumah bersama pembantuku, si bibik. Sampai di rumah Joe, ternyata Dani sudah ada disana. Kami dijamu makan siang, oleh Joe dan Ami. Hmm… si Ami ini masih tetap cantik dan seksi sekali bodinya. Sayang kulitnya kalah bagus dibanding Fay. Setelah makan, kami ngobrol dan istirahat. Lalu sorenya kami bermain badminton di halaman rumah Joe yang luas. Dan pada saat itulah tiba-tiba datang dua orang cewek yang lumayan menarik. Ternyata mereka teman Ami.
Setelah keduanya masuk ke dalam untuk bertemu Ami, Joe mendekati kami dan berbisik, “Gimana menurut loe berdua cewek-cewek itu?”"Boleh juga,” jawabku, “Tapi Fay lebih oke!”
“Yee… loe ini..,” Joe sebal. “Makan tuh si Fay..!”
“Cakep koq..” komentar Dani.
“Naah… itu dia hidangan pesta nanti malem..” Joe menjelaskan sambil nyengir mesum.
“Hah? Gila loe! Mereka kan temennya Ami?”
“Justru Ami ngundang mereka ke sini buat ‘begitu’!”
“Yang bener loe?” timpal Dani takjub. “Si Ami ikut juga pesta nanti malem?”
“Liat nanti aja deh,” jawab Joe membuat aku dan Dani penasaran bercampur nafsu.
Jelas saja, kalau Ami ikut pasti benar-benar ‘assoy’.
Malamnya, selesai makan dan sikat gigi serta tidak lupa meminum obat kuat, Joe mengajak kami berkumpul di ruang tengah. Disana aku melihat Ami bersama dua orang temannya memakai baju yang benar-benar seksi. Wah, lihat saja si Dani! Sampai melotot matanya.
Ami memperkenalkan kedua temannya pada kami. Yang satu namanya Lia. Wajahnya oke juga. Tubuhnya cukup seksi, apalagi jika memakai baju seperti itu, dengan hanya mengenakan celana dalam serta kaos yang bawahnya buntung tepat di dada, sehingga memperlihatkan sekitar 25% buah dadanya, bagian bawah. Bahkan aku dapat melihat sedikit bagian lingkar putingnya. Nilai 7,5 buat cewek yang ini. Sedangkan yang seorang lagi, lebih cantik dari Lia, Rinda namanya. Bodinya juga lumayan oke, walaupun tidak sebagus Lia. Bajunya itu lho… tepatnya bukan baju, tapi semacam kain yang melintang hanya menutupi tengah buah dada dan puting, ditambah celana super pendek. Seksinya.., nilai 7,5 juga buat dia.
Sedangkan Ami sendiri hanya mengenakan semacam bikini yang bagian atasnya terlalu ketat, sehingga ‘buah-buahan’ miliknya yang memang montok itu seperti akan keluar. Ooh… inginnya aku meremas buah itu. Jelas dia pantas dapat nilai 9. Joe lalu menyetel musik disco dan mengajak kami berjoget. Joget yang hot! Aku berpasangan dengan Lia, Dani berpasangan dengan Rinda. Gerakan joget ketiga cewek itu memang sangat merangsang. Apalagi dengan baju seperti itu, membuat buah dada mereka berguncang-guncang secara liar, sehingga batang milikku menjadi tegang. Tanganku beberapa kali menyentuh bagian bawah buah dada Lia yang terbuka. Bahkan terkadang Lia dengan santainya mendekap tanganku ke dadanya, membuat darahku berdesir merasakan kekenyalan payudara tersebut.
Ditengah keasyikan tersebut, tiba-tiba bel berdering, sehingga kami menghentikan kegiatan. Aku, Dani dan Joe keluar untuk melihat siapa yang datang. Ternyata salah seorang teman kami semasa kuliah dulu, Feby. Seingatku dia cukup akrab dengan Fay dan Ami. Kami heran, ada urusan apa dia datang?
Dan kami sangat terkejut ketika dia bertanya, “Loe semua lagi pesta kan? Gue diundang Ami kesini.”
“Oh.. ya udah, masuk aja deh..” Joe mempersilakan.
Dalam hati aku bersorak. Tambah lagi cewek yang ikut. Bisa puas berat nih.
Sampai di dalam, Ami sendiri kaget melihat Feby.
Feby hanya tersenyum, “Lagi pesta apa nih? Koq bajunya pada minim begitu?”
“Eh.. eng… ngga koq…” Jawab Ami grogi. “Loe… ada apa ke sini Feb?”
Kami kaget juga, karena ternyata Feby bukan diundang oleh Ami. Bisa gawat ini urusannya.
“Kebetulan aja… tapi gue rasa loe semua mau pesta seks ya? Gue boleh ikut ngga?”
Ha? Mana mungkin kami menolak? Perduli amat dia kebetulan datang atau tidak.
Hehehe…. Feby lumayan oke, wajahnya manis dan tinggi langsing. Tanpa basa-basi Feby langsung melepaskan bajunya, sehingga dia tinggal mengenakan pakaian dalamnya yang semi transparan. Joe kembali menyalakan musik. Bahkan kali ini Joe menyalakan televisi besar yang ada di ruangan tersebut, dan menyetel film biru yang menambah panas suasana.
“Hai, para cowok buka bajunya doong! Masa kalah sama gue sih?” tiba-tiba Feby menantang sambil melepas bra dan melemparkannya ke arahku, lalu kembali berjoget dengan hot.
Aksi Feby tersebut diikuti oleh Ami, Lia, dan Rinda. Tentu saja kami tidak mau ketinggalan. Kami bertiga melepas seluruh baju kami, menyisakan celana dalam saja. Jadilah kami bertujuh hanya tinggal mengenakan celana dalam sambil berjoget.
Rinda mendekati Dani, dan kemudian tangannya melepaskan celana dalam Dani sehingga batang kejantanannya yang sudah keras itu mengacung tanpa tertutup. Rinda turut melepas celana dalamnya, dan merapatkan tubuhnya pada tubuh Dani. Kemudian mereka berdua saling menggesekkan alat kelamin mereka secara berirama. Rinda sampai mendesah-desah keenakan. Aku sendiri langsung mendekap tubuh Lia dari belakang, dan meraih kedua buah dadanya yang terbuka. Payudara yang lembut dan kenyal itu kuremas-remas, putingnya kucubit perlahan dan kupuntir membuat pemiliknya merem-melek keenakan.
Kemudian tangan kananku menyusup ke balik celana dalamnya, dan menjelajahi daerah kewanitaanya. Aku merasakan bulu-bulu keriting halus disana. Lia merintih perlahan saat aku menggesek-gesekkan jariku pada gundukan daging yang ada disana. Sementara itu Feby melepas celana dalamku, dan tangannya yang halus terasa nikmat menyentuh batang milikku, menggosok-gosok dan membelai batangku.
Tidak lama kemudian aku merasa hangat dan basah pada batangku, dan ternyata Feby telah mengulumnya. Mataku sampai terpejam saat Feby mulai menyedot maju mundur sambil memainkan “telur”-ku dengan jari-jarinya. Ah… nikmat sekali. Remasanku pada buah dada Lia menjadi semakin kuat, dan jariku kumasukkan untuk mengorek liang vaginanya, sehingga Lia mengeluarkan suara, “Ouhh… ahh….”
Ami yang saat itu sudah telanjang bulat, mendekat dan menjilati vagina Feby yang saat itu tengah berjongkok mengulum kemaluanku. Tangan Ami menggerayangi kedua payudara Feby. Sementara Joe menggunakan kesempatan ini dengan menusuk kemaluan istrinya yang terbuka lebar, karena Ami mengangkang. Joe menyodok dengan dahsyat, sehingga tubuh Ami berguncang keras dan kedua gumpalan daging di dadanya bergerak seiring. Aku akhirnya tidak tahan untuk tidak mencicipi buah dada Lia. Kubalikkan tubuh Lia menghadapku. Kedua buah dadanya yang montok kusedot, kucubit dan kuremas bergantian, membuat Lia mengeluarkan teriakan tertahan.
Sementara kulihat Dani sudah memasukkan batangnya ke dalam vagina Rinda dari arah belakang. Posisi Rinda yang menungging membuat kedua payudaranya berjuntai liar. Lia meminta Feby untuk menghentikan kulumannya di kemaluanku.
“Feb, gue udah ngga tahan nih… loe udahan yach?”
Feby pun melepaskan mulutnya dari kemaluanku. Lia mendorongku hingga posisiku telentang, kemudian dia menggenggam batang kemaluanku dan diarahkan ke liang sanggamanya.
“Siap ya, Van. Kita mulai…” kata Lia sambil duduk di atas kemaluanku dan kemaluanku amblas ditelan oleh vaginanya.
Lia mendesah sesaat ketika seluruh batangku berada dalam kehangatan vaginanya, dan kemudian mulai bergerak naik turun. Amboi… alat kelaminku terasa disedot oleh vaginanya yang hangat, basah dan legit. Gesekan yang terjadi antara dinding vaginanya dengan kemaluanku membuatku seperti melayang-layang keenakan. Apalagi dengan posisi seperti ini aku dapat melihat jelas ekspresi kenikmatan di wajahnya serta buah dadanya yang membulat kencang.
Tiba-tiba Ami datang dan menyodorkan buah dadanya yang montok itu ke wajahku seraya berkata, “Van, nyusu dulu ya?”
Aku segera meraih buah dadanya yang indah itu dan mengulum putingnya.
“Ahhh… isep yang kuat, Van..!” pinta Ami.
Aku menggigit putingnya dan memainkan lidahku pada ujung putingnya. Kukulum puting itu dengan bernafsu, sementara kulihat Dani mengarahkan batangnya yang berkilat-kilat ke arah selangkangan Ami, dan… “Aaaahhhhhhh…..” Ami mendesah panjang saat batang kejantanan Dani memasuki rahimnya, dan Dani langsung beraksi menyodok-nyodok.
Di lain pihak, Rinda sedang melumat kemaluan Joe dengan mulutnya, sedangkan Joe sendiri tengah asyik menyusu pada Feby. Rintihan dan erangan kenikmatan bercampur baur saat itu diiringi dengan musik, membuat gairah kami semakin memuncak. Lia semakin mempercepat gerakan naik turunnya, menambah dahsyat kenikmatan yang kurasakan dari gesekan dengan dinding kemaluannya. Kedua tangannya meraih tanganku dan membimbing ke arah payudaranya yang bebas. Lalu dia meremas kedua payudaranya sendiri dengan kuat menggunakan tanganku.
“Aaahh… Ssh.. e.. nak banget, Van.. ahss..” Lia mendesis.
Aku pun merasa sangat nikmat dengan daging payudara wanita di kedua tanganku serta di mulutku. Lia semakin cepat naik turun sampai akhirnya dia mengejang karena orgasmenya dengan melepas sebuah teriakan kenikmatan. Lia terkulai di atas tubuhku. Aku melepaskan hisapanku dari puting susu Ami dan memeluk Lia. Sayangnya aku belum puas, pasti karena aku minum obat kuat. Lia bangkit dan kemudian duduk di sofa, untuk beristirahat. Namun Joe menghampirinya, dan membuka kaki Lia ke kanan dan kekiri sehingga mengangkang, kemudian siap menusukkan batangnya pada liang kenikmatan Lia.
“Aduhh.. Joe, nanti dulu dong, gue masih lemes nih…” pinta Lia memelas.
Tapi Joe tidak memperdulikannya dan menghunjamkan batangnya. Kasihan juga si Lia. Aku melihat berkeliling. Sebenarnya aku ingin mencicipi lubang milik Ami. Saat itu kulihat Ami baru saja selesai orgasme, sementara Dani masih kelihatan bernafsu. Aku pun menghampiri Ami dan tanpa basa basi kukatakan ingin menyetubuhinya.
“Mi, gue mau ama loe nih. Gue masukin punya gue ya?” Ami mengangguk pelan.

Bersambung.......