Cerita Dewasa - Cerita Seks - Cerita panas - Sambungan dari bagian Gairah Ibu dan Anaknya
Persetubuhan dan hubungan kami berjalan lancar selama dua tahun tanpa ada yang curiga atau mengetahuinya. Sampai suatu hari, bulan Oktober 2000 ibuku telah berumur 41 tahun tapi tubuh dan wajahnya masih tetap fit, dan seksi, walaupun ada sedikit keriput dan lipatan kecil di wajahnya, namun semua itu malah menjadikan ibuku makin sensual dan dewasa. Sedangkan aku berumur 20 tahun. Suatu hari aku dan ibuku mulai merasakan getara-getaran dan keinginan untuk bercinta lagi. Malam itu pembantu kami pulang ke kampungnya dan adik perempuanku belum pulang. Aku yang merasa bebas mulai merayu dan menggoda ibuku, dan ibu pun menanggapi rayuanku dengan sensualitas yang ibu punya. Kami kemudian telah berpelukan mesra dan berciuman dengan hotnya, sambil berciuman kami membuka pakaian kami dan tanpa sadar kami telah telanjang. Setelah melakukan oral seks yang ibuku sangat senangi, aku mulai menusuk lubang kemaluan ibuku dengan batang kejantananku yang menurut ibu makin nikmat.
Aku terus menggoyang pingulku naik turun dan ibu mengimbanginya dengan goyangan pinggulnya, setelah beberapa saat ibuku mencapai orgasmenya yang kedua setelah pada oral seks tadi ibu telah orgasme. Saat itu posisiku sedang menindih tubuh ibuku yang kelelahan karena ibuku baru orgasme, aku terus menggoyang pinggulku mengocok batang kemaluanku di dalam lubang kemaluan ibu, dan mungkin karena staminanya yang mulai berkurang ibuku hanya pasrah, aku mengocok terus dan membiarkan aku menusuk lubang kemaluannya dengan batang kemaluanku yang besar. Tanpa aku sadari ibuku melirik ke arah pintu kamar dan ternyata di situ telah berdiri asyik perempuan yang sedang memperhatikan kegiatan kami. Aku kaget tapi nafsuku masih mengalahkan rasa kagetku dengan kenikmatan lubang kemaluan ibuku yang masin basah. Ibuku menyuruhku memperlambat tusukanku dan dengan masih pada posisiku menindih tubuhku ibu bilang, “Sayang.. tuh ada Vika kalau dia mau kamu terusin aja sama Vika, Mami mau istirahat dulu,” aku masih menggoyang pinggulku namun sekarang dengan perlahan. Ibuku bilang, “Vika sayang, sini kita gabung aja sekalian…” ajak ibuku pada adikku. Aku pun seperti mendapat angin bilang pada asyikku, “Vik.. kalo enggak mau aku habiskan sama Mami aja…” sambil mengerang kenikmatan. Seperti dihipnotis adiku Vika yang baru masuk kuliah berjalan menuju ke arah kami berdua, dan ibu menyuruhku agar aku mencabut batang kemaluanku dari lubang kemaluannya. Saat aku cabut batang kemaluanku berdenyut karena sedang enak-enaknya dijepit, harus dicabut. Ibuku kemudian menuju Vika yang sudah berada di samping tempat tidur, kemudian menciumnya dan meremas payudara adikku itu, dan sepertinya Vika setuju dan kemudian dia naik ke ranjang dan aku pun mencium bibir Vika. Hangat dan penuh sensasi saat kucium bibir adikku.
Aku mencoba meremas payudaranya yang agak kecil dibanding ibuku tapi terasa payudara Vika lebih kencang dan padat. Aku meminta dia membuka kaos ketatnya, memang Vika adalah gadis masa kini, wajahnya cantik dengan kulit yang halus dan mulus, juga putih dan bersih. Rambutnya hitam sepunggung dan tubuhnya yang tinggi semampai, lebih tinggi dari ibuku dan pinggul yang tidak terlalu besar, tapi mempunyai payudara yang serasi dengan tubuhnya yang seksi. Ukuran bra-nya mungkin 34B karena terlihat saat dia melepaskan kaosnya dan terlihat dadanya yang busung ke depan dan terlihat sangat indah. Vika tersenyum saat melihat batang kemaluanku yang besar dan berdenyut, aku mengira Vika sudah tidak perawan lagi, karena saat dia mulai menghisap batang kemaluanku dia terlihat tidak kaku dan sangat profesional. Bibir dan mulutnya yang kecil seakan tidak muat untuk melahap batang kemaluanku yang besar, hisapannya kuat dan nikmat walau tidak sekuat dan senikmat hisapan ibuku, Vika terus mengocok dan menghisap batang kemaluanku sementara aku mendesah dan meringis keenakan menikmati sedotan adikku, dan sambil kubelai rambutnya.
Setelah Vika puas, aku kemudian membaringkan tubuhnya di sebelah ibuku yang hanya memperhatikan kedua anaknya berhubungan seks. Aku membuka bra Vika, dan keluarlah gunung kembar Vika yang putih dan kencang dengan puting yang masih merah segar. Kuremas gemas payudara Vika sambil kuhisap putingnya, adikku hanya melenguh dan mendesah pelan saat kuhisap dan gigit kecil puting susunnya. Aku jadi bingung, dia mau tidak kalau aku setubuhi. Aku yang tadi hampir orgasme di lubang kemaluan ibuku sudah tidak sabar lagi untuk masuk ke lubang kemaluan Vika. Dengan agak kasar kubuka celana panjangnya dan CD-nya sekaligus, Vika menjerit kecil dan ibu mengingatkanku agar tidak kasar pada adikku. Aku melihat pemandangan yang sangat indah tidak kalah indahnya saat aku pertama kali melihat pemandangan indah selangkangan milik ibuku dulu. Lubang kemaluan adikku dipenuhi bulu-bulu halus yang lebat tapi tertata rapi. Aku sudah tidak tahan lagi, kuhisap dan kujilat lubang kemaluan milik adikku itu, Vika mengejang dan bergetar saat kujilat klitorisnya, dia mulai mendesah kenikmatan, dan ternayata Vika lebih cepat orgasme dibanding ibuku. Terlihat saat kujilat dan kuhisap lubang kemaluannya, lubang kemaluannya mengeluarkan cairan kental hangat yang langsung kuhisap habis.
Setelah kuhisap semua cairan lubang kemaluan adikku, aku bangun dan kemudian berlutut tepat di selangkangan Vika, aku mengangkat pinggul Vika sedikit dan dengan agak berjongkok dengan tumpuan di lututku pantat Vika, kusimpan di dadaku hingga lubang kemaluan Vika tepat berada di depan batang kemaluanku yang terus berdenyut. Dengan sedikit seret dan dorongan yang agak keras, kumasukkan batang kemaluanku ke dalam lubang kemaluan adikku yang masih terasa seret dan menggigit, kenikmatan otot lubang kemaluan dan seretnya liang senggama Vika memang lebih nikmat dari lubang kemaluan ibuku, namun aku merasakan sensasi yang lebih dasyat saat aku menyetubuhi ibuku. Ternyata Vika yang saat aku “garap” tubuhnya hanya diam dan mendesah kecil, saat batang kemaluanku penuh mengisi lubang kemaluannya, Vika mulai menggila. Desahannya malah semakin keras dan sensual. Tubuhnya bergoyang seperti penari ular, dan goyangan pinggulnya bergoyang sangat dasyat. Aku yang tadi akan menguasai “permainan” hampir kalah dan dikuasai oleh Vika.
Beberapa saat Vika menguasai permainan kami. Dengan posisi yang sama saat kutusuk batang kemaluanku ke dalam lubang kemaluan Vika, Vika langsung menguasai permainan, pahanya dijepitkan ke pinggangku, pinggulnya berputar membuat batang kemaluanku yang ada dalam lubang kemaluan Vika seperti dipilin-pilin nikmat. Akh… gila juga adikku ini. Aku terus memompa pinggulku meladeni putaran pinggul Vika, dan tangannku mulai beroperasi, payudara Vika yang terus bergoyang kuremas dan kumainkan puting susu Vika dengan jariku. Vika mendesah dan terus menjerit kecil saat permainan mulai kukuasai kembali, sambil kukocok batang kemaluanku di lubang kemaluan Vika, tanganku meremas dan memainkan putin Vika. Sementara kuhisap dan ciumi biibir Vika yang sensual, tipis dan merah menantang. Sesekali kuhisap putingnya yang membuat dia merem-melek, dan posisi itu berubah dengan Vika menungging dan aku menusuk dari belakang. Dengan posisi ini aku lebih leluasa meremas payudara Vika yang menggantung, pinggulnya kembali berputar dan maju-mundur mengimbangi kocokan batang kemaluanku di dalam lubang kemaluannya yang makin basah dan nikmat. Kemudian gerakan Vika makin cepat, erangan dan desahan Vika makin kuat dan keras. Vika meraih tanganku dan meletakannya di payudaranya agar aku meremasnya dan dengan goyangan pinggul yang dasyat tubuh Vika mengejang dan bergetar, dan dia memekik tertahan dan kurasakan cairan hangat membanjiri lubang kemaluan Vika dan membasahi batang kemaluanku tanda Vika sedang orgasme, dan tiba-tiba tubuhnya yang tadi liar tergeletak lunglai. Aku melihat mata Vika terpejam saat kucium lehernya, sedangkan goyanganku pun aku perlambat agar Vika merasakan semua kenikmatan yang dia baru rasakan. Kubelai pinggangnya dan pinggulnya, dan dengan sekali gerakan kuputar tubuh Vika sehingga posisi kami kembali berhadapan tanpa aku mencabut batang kemaluanku di dalam lubang kemaluan Vika. Aku merasakan jepitan yang sangat nikmat saat kuputar tubuh adikku tadi.
Kini kaki Vika kusandarkan di bahuku hingga dia benar-benar mengangkang dan dengan leluasa kuhabiskan sisa-sisa tenagaku untuk menghabisinya di dalam lubang kemaluan adikku, dan tidak lama dalam batang kemaluanku ada desakan dari dalam dan… “Cret… cret.. creet..” air maniku tumpah di dalam lubang kemaluan Vika, saat itu aku mendesah dan mengerang keenakan. Lalu kurebahkan tubuhku di atas tubuh Vika dan sambil menikmati sisa-sisa kenikmatan itu kucium lembut dan mesra bibir Vika dan Vika pun membalas ciumanku dan kami berciuman dengan mesra. Keringat kami membasahi tempat tidur dan kemudian ada suara, “Aduh ini anak Mami, keasyikan main sampai Mami dilupain gini…” sahut mami menggoda kami berdua yang memang dari tadi lupa kalau di sebelah kami berdua ada mami yang masih telanjang dan menonton aksi kami kakak-adik bertempur. Aku langsung mencabut batang kemaluanku dari lubang kemaluan Vika yang basah kuyub, dan kemudian ibu mengulum batang kemaluanku membersihkan cairan maniku dan cairan lubang kemaluan Vika. Aku dan Vika tersenyum pada mami, dan kami kemudian berbaring di satu ranjang, dengan aku di tengah mereka. “Vik… ternyata kamu kuda liar juga, padahal waktu gue garap body lo, lo diem aja…” godaku pada adikku, Vika hanya tersenyum dan bilang, “Mam.. makasih udah ngajak Vika gabung, kalo enggak rugi Vika enggak tau kalau Kak Bobi dasyat banget…” Kami bertiga pun tertawa, lalu ibuku bilang, “Bob, kalau Mami capek atau kalau ada Papi, kamu tidur sama Vika saja, asal jangan ribut banget saja kayak tadi…” Aku cuma senyum kecil sambil kucium adikku. “Dan kalo enggak ada Papi kita tidur bertiga aja…” ajak Vika. Aku sangat setuju dengan ajakan Vika.
Kami bertiga tidur seranjang hingga pagi, dan pagi hari kami main lagi bertiga di dapur, dan mulai saat itu kami terus melakukannya sampai sekarang, dimana kami mau dan kapan kami mau kami pasti melakukannya, dengan motto kapan saja, dimana saja kami bermain. Sekitar dua bulan setelah aku main pertama kali dengan Vika, dan saat kami bersetubuh, Vika bilang kalau dia lagi hamil dua bulan, dan dia bilang dia hamil sama aku, soalnya dulu waktu pertama kali berhubungan dia itu lupa bilang kalau dia biasa main sama cowoknya, cowoknya harus pakai kondom, sedangkan dulu aku “muncratin” maniku di dalam lubang kemaluan Vika. Jadi, pertama aku hamili ibuku yang digugurkan, sekarang aku hamili adikku dan dia bilang mau digugurkan dan aku setuju sekali, soalnya aku tidak mau punya anak dari adikku dan Vika tidak mau punya anak dari aku, kakaknya. Gila!
TAMAT
Friday, March 30, 2012
Gairah Ibu dan Anaknya 01
Cerita Dewasa - Cerita Seks - Cerita panas - Ibu Ambar berusia 47 tahun, pekerjaannya sebagai karyawan perusahaan asuransi di kota Jakarta. Penampilannya sangat menarik. Wajah ayu karena ia adalah seorang peranakan Arab-Sunda-Jawa. Postur tubuhnya tinggi, montok dan berisi. Payudaranya besar, mengkal, meski agak turun menyerupai buah kelapa. Pinggangnya ramping dan makin ke bawah pinggulnya membesar seperti gentong besar. Bokongnya bulat, besar, dan kencang mendongak seperti bebek yang megal-megol bila ia berjalan. Kakinya panjang indah menyerupai kaki belalang. Betis halus mulus berbentuk bulir padi yang berisi ditumbuhi bulu-bulu halus yang kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih. Pahanya makin ke atas makin membesar dan bulu halus itupun makin ke atas makin jelas menghiasinya. Gerak-geriknya lembut keibuan dan tenang penuh kematangan. Suaranya merdu agak mendesah dan menggairahkan.
Suaminya bernama Pak Widyo, berumur 53 tahun dan bekerja di perusahaan minyak asing. Dari perkawinan mereka, dikaruniai 3 orang anak. Dua orang anaknya meninggal karena kecelakaan mobil sewaktu mereka kecil, sedangkan yang masih hidup cuma Rudi yang sudah berusia 18 tahun dan duduk di bangku SMU. Keinginan untuk memiliki anak sudah tidak memungkinkan lagi karena rahim Bu Ambar sudah diangkat karena adanya gejala kanker rahim. Karenanya perhatian mereka terhadap Rudi sangatlah berlebihan. Sejak kecil mereka selalu memanjakan Rudi dan memenuhi semua permintaannya apapun itu. Bila Rudi masuk angin sedikit saja mereka akan dibuatnya kalang kabut.
Kejadian diawali ketika Pak Widyo tugas meninjau ladang minyak baru di lepas pantai. Di rumah cuma ditunggui oleh Bu Ambar, Rudi dan seorang pembantu setengah baya Mbok Inah namanya. Seperti biasa, pada malam hari Rudi sedang belajar untuk menghadapi Ebtanas minggu depan. Ia tengah sibuk berkutat dengan soal-soal latihan ketika ibunya datang membawa makanan kecil untuknya sambil menenteng majalah.
“Rud, ini ada oleh-oleh dari Bogor tadi siang untuk menemani kamu belajar,” kata ibunya sambil meletakkannya di atas meja belajar Rudi.
“Kapan Ibu datang, kok suara mobilnya tidak kedengaran,” tanya Rudi sambil tetap memelototi soal-soal sulit di depannya.
“Baru saja Rud, ini ibu sudah pakai baju mandi mau mandi,” jawab ibunya.
“Sambil menunggu air panasnya Ibu mau membaca majalah dulu di kamarmu,” sambung ibunya sambil merebahkan diri di ranjang yang membelakangi meja belajar Rudi.
“Ya, boleh saja tapi jangan sampai ketiduran nanti malah nggak jadi mandi,” timpal Rudi.
Singkat cerita Rudi kemudian berkonsentrasi lagi dengan belajarnya. Akhirnya setelah hampir 1 jam ia merasakan matanya mulai lelah, ia memutuskan untuk tidur saja. Sewaktu Rudi beranjak dari kursinya dan membalikkan badannya, tatapannya terpaku pada sosok tubuh montok yang teronggok di atas ranjangnya. Rupanya karena terlalu kelelahan, ibunya ketiduran. Posisi tidurnya tidak karuan. Tangannya telentang sementara kakinya mengangkang lebar seperti orang yang sedang melahirkan. Baju mandi ibunya yang panjangnya selutut nampak tersingkap sehingga paha putih mulus ibunya bisa terlihat jelas. Rudi bingung, apakah harus membangunkan ibunya atau menikmati pemandangan indah dan langka ini dulu. Sebelumnya ia tidak pernah berpikiran kotor terhadap ibunya sendiri tapi entah kenapa dan setan mana yang merasuki dirinya sehingga ia merasakan rangsangan ketika melihat paha ibunya yang tersingkap.
Perlahan didekatinya tepian ranjang dengan hati berdebar-debar. Diperhatikan dengan seksama tubuh ibunya yang montok dan wajahnya yang ayu keibuan dari ujung kaki sampai ujung kepala. Rudi menyadari ternyata ibunya sangat cantik dan menggairahkan. Kemudian dengan tangan gemetaran diberanikannya dirinya mengelus-elus kaki ibunyna sampai ke paha. Begitu halus, lembut dan hangat kulit ibunya ia rasakan. Ketika menyentuh paha yang ditumbuhi bulu-bulu halus, Rudi merasakan kehangatan yang makin terasa mengalir ke telapak tangannya. Kemaluannya menjadi menegang keras dan membuat celananya terasa sesak dan ketat. Jantungnya makin berdegup kencang ketika ia meneruskan belaian tangannya makin jauh ke arah pangkal kaki yang masih tertutupi baju mandi ibunya. Kulit tangannya merasakan hawa yang makin hangat dan lembab ketika tangannya makin jauh menggerayangi pangkal kaki ibunya yang bak belalang itu. Gerakannya terhenti ketika ia merasa telah meraba bulu-bulu halus yang lebat sekali dan menyentuh gundukan daging yang begitu lunak dan hangat. Beberapa saat ia meraba-raba gundukan daging lunak hangat itu.
Akhirnya dengan rasa penasaran ia singkapkan baju mandi ibunya ke atas. Sehingga kini di depan matanya teronggok bagian selangkangan dan pinggul ibunya yang besar dan montok. Bulu-bulu halus yang sangat lebat nampak tumbuh di sekitar anus, kemaluan sampai perut bagian bawah. Begitu panjang-panjang dan lebatnya bulu kemaluan ibunya sampai kemaluan ibunya agak tertutupi. Kemudian dengan tangannya ia sibakkan bulu-bulu kemaluan di sekitar kemaluan ibunya. Sehingga kini kemaluan ibunya nampak jelas terlihat. Gundukan daging yang memanjang membujur di selangkangan kelihatan empuk dan menggunung berwarna agak kegelapan. Bila diperhatikan bentuknya mirip mulut monster berkerut-kerut. Ini pasti yang namanya labium mayora (bibir besar) seperti dalam atlas anatomi, batin Rudi. Dari celah atas bibir monster yang besarnya setempurung kelapa itu tampak menonjol keluara bulatan daging sebesar kacang tanah yang berwarna kemerah-merahan. Kalau yang ini pasti yang namanya kelentit, pikir Rudi lagi sambil mengusap-usap tonjolan liat itu.
Kemudian jarinya ia gerakkan ke bawah menyentuh lipat-lipat daging yang memanjang yang mirip daging pada kantong buah pelir laki-laki. Wah, ternyata labium minora Ibu sudah memble begini, pasti karena terlalu sering dipakai Bapak dan untuk melahirkan, batin Rudi. Hidungnya lalu disorongkan ke muka kemaluan sebesar mangkok bakso itu. Sambil membelai-belai bebuluan yang mengitari kemaluan ibunya itu, Rudi menghirup-hirup aroma harum khas kemaluan yang menyengat dari kemaluan ibunya itu. Tak puas dengan itu, ia meneruskan dengan jilatan keseluruh sudut selangkangan ibunya. Sehingga kini kemaluan di hadapannya basah kuyup oleh air liurnya. Dijulurkannya panjang-panjang lidahnya ke arah klitorisk dan menggelitik bagian itu dengan ujung lidahnya. Sementara tangan satunya berusaha melepaskan ikatan tali baju mandi, dan setelah lepas menyingkapkan baju itu sehingga kini tubuh montok ibunya lebih terbuka lagi. Muka Rudi sampai terbenam seluruhnya dalam kemaluan ibunya yang sangat besar itu, ketika dengan gemas ia menempelkan mukanya ke permukaan kemaluan ibunya agar lidahnya bisa memasuki celah bibir monster itu. Usahanya tidak berhasil karena bibir itu terlalu tebal menggunung sehingga ujung lidahnya hanya bisa menyapu sedikit ke dalam saja dari celah bibir monster itu. Ia merasakan gundukan daging itu sangat empuk, hangat dan agak lembab.
Sementara itu Bu Ambar masih tetap lelap dalam mimpinya dan tidak menyadari sedikitpun apa yang dilakukan anak yang sangat disayanginya terhadap dirinya. Tampaknya ia benar-benar kelelahan setelah seharian tadi pergi keluar kota menghadiri resepsi pernikahan kerabat jauhnya. Dengkurannya malah makin keras terdengar. Sambil tetap membenamkan mukanya ke kemaluan besar itu, Rudi meraih payudara ibunya yang sebesar buah kelapa dengan tangannya. Diremas-remasnya perlahan payudara mengkal yang putih mulus itu. Rasanya hangat dan kenyal. Lalu tangannya berpindah di sekitar puting susu gelap kemerahan yang dilingkari bagian berwarna samar yang berdiameter lebar. Ketika tangannya memijit-mijit puting susu itu dengan lembut, ia merasakan payudara ibunya bertambah kencang terutama di bagian puting tersebut. Denyutan-denyutan di celah kemaluan ibunya juga terasa oleh bibirnya. Sementara itu dalam tidurnya ibunya terlihat bernapas dengan berat dan mengerang perlahan seperti orang yang sedang sesak napas.
Melihat ekspresi muka ibunya yang seperti orang sedang orgasme dalam film-film porno yang pernah ditontonnya, Rudi makin gemas. Sehingga sambil lidahnya menggelitik klitoris ibunya, ia menusuk-nusukkan jari tangannya ke dalam celah kemaluan itu. Makin ke dalam rasanya makin hangat, lembab dan lunak. Ada pijitan-pijitan lembut dari lubang vagina ibunya yang membuat jari tangannya seperti dijepit-jepit. Makin lama lubang itu makin basah oleh cairan bening yang agak lengket, sehingga ketika jari tangannya ditarik terlihat basah kuyup. Ibunya kini makin keras mengerang dan terengah-engah dalam tidurnya. Rupanya ia merasakan kenikmatan dalam mimpi, ketika kemaluan dan payudaranya dijadikan barang mainan oleh anaknya. Pinggulnya mulai menggeliat-geliat dan kakinya ikut menendang-nendang kasur.
Melihat tingkah ibunya yang sangat menggoda itu, Rudi tanpa banyak berpikir lagi segera melepaskan kaos dan celananya. Sehingga kini ia berdiri di depan tubuh bugil ibunya dengan keadaan bugil pula. Badannya terlihat besar dan kekar serta penisnya mencuat kokoh dan besar ke atas. Urat-urat penis itu tampak beronjolan seperti ukiran yang mengelilingi penisnya yang berukuran panjang 20 cm dan diamerer batang 5 cm. Kepala penisnya yang sebesar bola tenis terlihat kemerah-merahan dan mengangguk-angguk seperti terlalu besar untuk dapat disangga oleh batang kemaluannya. Ia ingin menusukkan batang penisnya ke dalam kemaluan ibunya, tapi ia ragu-ragu apakah lubangnya tadi cukup. Ia kini membandingkan ujung penisnya dengan kemaluan ibunya yang sebesar mangkuk bakso. Sepertinya bisa jika dipaksakan, pikirnya kemudian. Lalu ia naik ke atas ranjang dan menekuk kakinya di antara kangkangan lebar kaki ibunya. Ditempelkannya ujung penisnya ke celah mulut “monster” yang hangat dan lunak itu. Dengan diarahkan satu tangannya ia berusaha menusukkankan penisnya ke mulut vagina yang berwarna kemerahan setelah sebelumnya celah bibir itu dikuakkan lebar-lebar dengan tangan satunya lagi.
Bersambung.............
Suaminya bernama Pak Widyo, berumur 53 tahun dan bekerja di perusahaan minyak asing. Dari perkawinan mereka, dikaruniai 3 orang anak. Dua orang anaknya meninggal karena kecelakaan mobil sewaktu mereka kecil, sedangkan yang masih hidup cuma Rudi yang sudah berusia 18 tahun dan duduk di bangku SMU. Keinginan untuk memiliki anak sudah tidak memungkinkan lagi karena rahim Bu Ambar sudah diangkat karena adanya gejala kanker rahim. Karenanya perhatian mereka terhadap Rudi sangatlah berlebihan. Sejak kecil mereka selalu memanjakan Rudi dan memenuhi semua permintaannya apapun itu. Bila Rudi masuk angin sedikit saja mereka akan dibuatnya kalang kabut.
Kejadian diawali ketika Pak Widyo tugas meninjau ladang minyak baru di lepas pantai. Di rumah cuma ditunggui oleh Bu Ambar, Rudi dan seorang pembantu setengah baya Mbok Inah namanya. Seperti biasa, pada malam hari Rudi sedang belajar untuk menghadapi Ebtanas minggu depan. Ia tengah sibuk berkutat dengan soal-soal latihan ketika ibunya datang membawa makanan kecil untuknya sambil menenteng majalah.
“Rud, ini ada oleh-oleh dari Bogor tadi siang untuk menemani kamu belajar,” kata ibunya sambil meletakkannya di atas meja belajar Rudi.
“Kapan Ibu datang, kok suara mobilnya tidak kedengaran,” tanya Rudi sambil tetap memelototi soal-soal sulit di depannya.
“Baru saja Rud, ini ibu sudah pakai baju mandi mau mandi,” jawab ibunya.
“Sambil menunggu air panasnya Ibu mau membaca majalah dulu di kamarmu,” sambung ibunya sambil merebahkan diri di ranjang yang membelakangi meja belajar Rudi.
“Ya, boleh saja tapi jangan sampai ketiduran nanti malah nggak jadi mandi,” timpal Rudi.
Singkat cerita Rudi kemudian berkonsentrasi lagi dengan belajarnya. Akhirnya setelah hampir 1 jam ia merasakan matanya mulai lelah, ia memutuskan untuk tidur saja. Sewaktu Rudi beranjak dari kursinya dan membalikkan badannya, tatapannya terpaku pada sosok tubuh montok yang teronggok di atas ranjangnya. Rupanya karena terlalu kelelahan, ibunya ketiduran. Posisi tidurnya tidak karuan. Tangannya telentang sementara kakinya mengangkang lebar seperti orang yang sedang melahirkan. Baju mandi ibunya yang panjangnya selutut nampak tersingkap sehingga paha putih mulus ibunya bisa terlihat jelas. Rudi bingung, apakah harus membangunkan ibunya atau menikmati pemandangan indah dan langka ini dulu. Sebelumnya ia tidak pernah berpikiran kotor terhadap ibunya sendiri tapi entah kenapa dan setan mana yang merasuki dirinya sehingga ia merasakan rangsangan ketika melihat paha ibunya yang tersingkap.
Perlahan didekatinya tepian ranjang dengan hati berdebar-debar. Diperhatikan dengan seksama tubuh ibunya yang montok dan wajahnya yang ayu keibuan dari ujung kaki sampai ujung kepala. Rudi menyadari ternyata ibunya sangat cantik dan menggairahkan. Kemudian dengan tangan gemetaran diberanikannya dirinya mengelus-elus kaki ibunyna sampai ke paha. Begitu halus, lembut dan hangat kulit ibunya ia rasakan. Ketika menyentuh paha yang ditumbuhi bulu-bulu halus, Rudi merasakan kehangatan yang makin terasa mengalir ke telapak tangannya. Kemaluannya menjadi menegang keras dan membuat celananya terasa sesak dan ketat. Jantungnya makin berdegup kencang ketika ia meneruskan belaian tangannya makin jauh ke arah pangkal kaki yang masih tertutupi baju mandi ibunya. Kulit tangannya merasakan hawa yang makin hangat dan lembab ketika tangannya makin jauh menggerayangi pangkal kaki ibunya yang bak belalang itu. Gerakannya terhenti ketika ia merasa telah meraba bulu-bulu halus yang lebat sekali dan menyentuh gundukan daging yang begitu lunak dan hangat. Beberapa saat ia meraba-raba gundukan daging lunak hangat itu.
Akhirnya dengan rasa penasaran ia singkapkan baju mandi ibunya ke atas. Sehingga kini di depan matanya teronggok bagian selangkangan dan pinggul ibunya yang besar dan montok. Bulu-bulu halus yang sangat lebat nampak tumbuh di sekitar anus, kemaluan sampai perut bagian bawah. Begitu panjang-panjang dan lebatnya bulu kemaluan ibunya sampai kemaluan ibunya agak tertutupi. Kemudian dengan tangannya ia sibakkan bulu-bulu kemaluan di sekitar kemaluan ibunya. Sehingga kini kemaluan ibunya nampak jelas terlihat. Gundukan daging yang memanjang membujur di selangkangan kelihatan empuk dan menggunung berwarna agak kegelapan. Bila diperhatikan bentuknya mirip mulut monster berkerut-kerut. Ini pasti yang namanya labium mayora (bibir besar) seperti dalam atlas anatomi, batin Rudi. Dari celah atas bibir monster yang besarnya setempurung kelapa itu tampak menonjol keluara bulatan daging sebesar kacang tanah yang berwarna kemerah-merahan. Kalau yang ini pasti yang namanya kelentit, pikir Rudi lagi sambil mengusap-usap tonjolan liat itu.
Kemudian jarinya ia gerakkan ke bawah menyentuh lipat-lipat daging yang memanjang yang mirip daging pada kantong buah pelir laki-laki. Wah, ternyata labium minora Ibu sudah memble begini, pasti karena terlalu sering dipakai Bapak dan untuk melahirkan, batin Rudi. Hidungnya lalu disorongkan ke muka kemaluan sebesar mangkok bakso itu. Sambil membelai-belai bebuluan yang mengitari kemaluan ibunya itu, Rudi menghirup-hirup aroma harum khas kemaluan yang menyengat dari kemaluan ibunya itu. Tak puas dengan itu, ia meneruskan dengan jilatan keseluruh sudut selangkangan ibunya. Sehingga kini kemaluan di hadapannya basah kuyup oleh air liurnya. Dijulurkannya panjang-panjang lidahnya ke arah klitorisk dan menggelitik bagian itu dengan ujung lidahnya. Sementara tangan satunya berusaha melepaskan ikatan tali baju mandi, dan setelah lepas menyingkapkan baju itu sehingga kini tubuh montok ibunya lebih terbuka lagi. Muka Rudi sampai terbenam seluruhnya dalam kemaluan ibunya yang sangat besar itu, ketika dengan gemas ia menempelkan mukanya ke permukaan kemaluan ibunya agar lidahnya bisa memasuki celah bibir monster itu. Usahanya tidak berhasil karena bibir itu terlalu tebal menggunung sehingga ujung lidahnya hanya bisa menyapu sedikit ke dalam saja dari celah bibir monster itu. Ia merasakan gundukan daging itu sangat empuk, hangat dan agak lembab.
Sementara itu Bu Ambar masih tetap lelap dalam mimpinya dan tidak menyadari sedikitpun apa yang dilakukan anak yang sangat disayanginya terhadap dirinya. Tampaknya ia benar-benar kelelahan setelah seharian tadi pergi keluar kota menghadiri resepsi pernikahan kerabat jauhnya. Dengkurannya malah makin keras terdengar. Sambil tetap membenamkan mukanya ke kemaluan besar itu, Rudi meraih payudara ibunya yang sebesar buah kelapa dengan tangannya. Diremas-remasnya perlahan payudara mengkal yang putih mulus itu. Rasanya hangat dan kenyal. Lalu tangannya berpindah di sekitar puting susu gelap kemerahan yang dilingkari bagian berwarna samar yang berdiameter lebar. Ketika tangannya memijit-mijit puting susu itu dengan lembut, ia merasakan payudara ibunya bertambah kencang terutama di bagian puting tersebut. Denyutan-denyutan di celah kemaluan ibunya juga terasa oleh bibirnya. Sementara itu dalam tidurnya ibunya terlihat bernapas dengan berat dan mengerang perlahan seperti orang yang sedang sesak napas.
Melihat ekspresi muka ibunya yang seperti orang sedang orgasme dalam film-film porno yang pernah ditontonnya, Rudi makin gemas. Sehingga sambil lidahnya menggelitik klitoris ibunya, ia menusuk-nusukkan jari tangannya ke dalam celah kemaluan itu. Makin ke dalam rasanya makin hangat, lembab dan lunak. Ada pijitan-pijitan lembut dari lubang vagina ibunya yang membuat jari tangannya seperti dijepit-jepit. Makin lama lubang itu makin basah oleh cairan bening yang agak lengket, sehingga ketika jari tangannya ditarik terlihat basah kuyup. Ibunya kini makin keras mengerang dan terengah-engah dalam tidurnya. Rupanya ia merasakan kenikmatan dalam mimpi, ketika kemaluan dan payudaranya dijadikan barang mainan oleh anaknya. Pinggulnya mulai menggeliat-geliat dan kakinya ikut menendang-nendang kasur.
Melihat tingkah ibunya yang sangat menggoda itu, Rudi tanpa banyak berpikir lagi segera melepaskan kaos dan celananya. Sehingga kini ia berdiri di depan tubuh bugil ibunya dengan keadaan bugil pula. Badannya terlihat besar dan kekar serta penisnya mencuat kokoh dan besar ke atas. Urat-urat penis itu tampak beronjolan seperti ukiran yang mengelilingi penisnya yang berukuran panjang 20 cm dan diamerer batang 5 cm. Kepala penisnya yang sebesar bola tenis terlihat kemerah-merahan dan mengangguk-angguk seperti terlalu besar untuk dapat disangga oleh batang kemaluannya. Ia ingin menusukkan batang penisnya ke dalam kemaluan ibunya, tapi ia ragu-ragu apakah lubangnya tadi cukup. Ia kini membandingkan ujung penisnya dengan kemaluan ibunya yang sebesar mangkuk bakso. Sepertinya bisa jika dipaksakan, pikirnya kemudian. Lalu ia naik ke atas ranjang dan menekuk kakinya di antara kangkangan lebar kaki ibunya. Ditempelkannya ujung penisnya ke celah mulut “monster” yang hangat dan lunak itu. Dengan diarahkan satu tangannya ia berusaha menusukkankan penisnya ke mulut vagina yang berwarna kemerahan setelah sebelumnya celah bibir itu dikuakkan lebar-lebar dengan tangan satunya lagi.
Bersambung.............
Sri, Wanita Setengah Perawan
Cerita Dewasa - Cerita Seks - Cerita panas - Ini merupakan pengalaman pertamaku. Tapi bukan berarti baru pertama kali aku melakukan senggama, tapi pertama dalam arti mendapatkan wanita dengan status setengah perawan. Lho kok bisa setengah perawan, barangkali itu yang menjadi pemikiran para pembaca budiman. Setengah perawan itu dengan pengertian, tidak pernah disetubuhi laki-laki, tapi kemaluannya pernah dijilati pacarnya dan dimasuki jari tangan sehingga perawannya jebol, tapi masih perawan karena tidak pernah dimasuki kemaluan lelaki. Ini yang disebut setengah perawan.
Aku mendapatkan Sri secara kebetulan. Ketika itu, aku yang senang naik bus kota karena banyak bertemu dengan karyawati, sedang menunggu di halte bus kawasan Slipi. Ketika sedang duduk-duduk menanti bus, seorang gadis dengan wajah tidak terlalu cantik dan tidak jelek, berkulit putih dengan payudara yang tidak terlalu besar (seperti kesukaanku), berjalan ke arahku dan langsung duduk di sebelahku. Perilakunya terkesan cuek, seperti pada umumnya cewek Jakarta. Aku mencari akal, bagaimana cara untuk mengajak ngomong cewek ini. Aku punya pikiran untuk minta maaf karena akan merokok. Ketika aku minta ijin merokok, Sri dengan senyum manisnya menyatakan tidak keberatan. Selanjutnya obrolan kian akrab dan saling tukar nomor handphone. Aku dan Sri kemudian berpisah karena tujuan kami berbeda. Aku mau ke Blok M sedang Sri mau ke Kampung Melayu, rumah temannya.
Malam harinya, aku sudah tidak sabar untuk menghubungi telepon selulernya. Obrolan pun terjadi, cukul lama. Hampir setiap hari aku telepon. Obrolannya pun mulai mengarah ke masalah pacaran. Dia mengaku baru saja putus dengan pacarnya karena menghamili gadis lain. Pura-pura sok suci, aku pun menasehatinya untuk tabah dan tawakal karena memang bukan jodohnya. Hubungan via telepon ini cukup lama, sekitar dua minggu dan hampir setiap hari aku selalu menghubunginya. Menginjak minggu ketiga, aku memberanikan diri mengajak untuk jalan-jalan. Karena aku belum lama di Jakarta, aku minta diantar ke Ancol, ternyata Sri tidak keberatan.
Malam Minggu, aku dan Sri dengan naik sepeda motor pergi ke Ancol. Aku berpura-pura alim dan bercerita tentang masa laluku, dan cerita itu kubuat sedemikian rupa sehingga terkesan aku ini punya sifat terbuka. Dia juga menceritakan masa lalunya, termasuk tentang dirinya yang sudah setengah perawan. Di Ancol, aku juga menghindari untuk menciumnya. Ternyata sikapku yang sok suci ini membuat dia jatuh hati.
Memasuki minggu keempat, dia mengajakku untuk pergi jalan-jalan. Dia minta ke puncak dan berangkat minggu pagi. Usulnya kuterima dengan alasan aku juga belum pernah ke sana (padahal, di kawasan dingin itulah, aku sering membawa cewek-cewek Jakarta). Sekitar pukul 06.00, aku sampai di Terminal Rambutan dan tidak lama kemudian dia juga sampai di satu titik yang telah ditetapkan bersama. Singkat cerita, sekitar pukul 08.30, aku dan dia sampai di Puncak. Setelah sarapan, kita kemudian mencari tempat untuk melihat-lihat pemandangan. Di puncak, aku melihat Sri mulai aktif dengan menggandeng tanganku. Aku berpikir, inilah saatnya untuk mengeluarkan jurus terampuh, apalagi Sri ini termasuk wanita terlama yang aku minta menyerahkan barangnya (sekitar sebulan).
Setelah mendapatkan tempat duduk, aku dan Sri kemudian terlibat pembicaraan hangat. Saat itu, mendung semakin tebal. Aku kemudian bilang sama Sri untuk mencari tempat karena hujan lebat tidak lama lagi akan turun. Tanpa kuduga, Sri menerima karena dia mengaku senang dengan sifat keterbukaanku dan berharap aku bisa jadi suaminya. Itulah kelemahan wanita, yang cepat percaya, yang akhirnya akan jadi korban lelaki.
Aku dan Sri kemudian mencari tempat dan tidak terlalu sulit untuk mendapatkannya. Singkat cerita, aku dan Sri sudah masuk ke kamar. Dengan sikap jantan dan tidak tergesa-gesa, aku dan Sri kemudian menonton televisi sambil ngobrol-ngobrol dan sekali-kali menyinggung tentang seks, terutama ketika kemaluannya dicium oleh pacarnya dulu. Pertanyaanku ini ternyata membuatnya bersalah dan berjanji tidak akan mengulangi lagi, kecuali pada calon suaminya. Dengan rayuan gombal, Sri tampak percaya sekali kalau aku merupakan calon suaminya.
Kemudian kucium pipinya dan Sri diam saja sambil menutup matanya. Setelah itu, dengan gaya halus, aku minta ijin untuk mencium bibirnya. Tanpa ada jawaban, Sri langsung menyosor bibirku, dan tanpa dikomando bibirnya segera kulumat dan tanganku menggerayangi payudaranya yang tidak terlalu besar. Ketika putingnya kuraba, dia mulai melenguh. Dengan gerakan halus, aku mulai membuka pengait BH-nya sehingga terbukalah bukit kembar miliknya. Sementara bibirku sudah beralih, tidak lagi di bibirnya tapi sudah menjilati telinga, dan lehernya. Karena buah dadanya sudah terbuka, mulutku pun bergeser ke puting susunya yang sudah menegang. Ketika kumainkan dengan lidahku, lenguhannya semakin panjang. Tangankupun tidak tinggal diam, retsleting celana panjangnya kubuka dan tanganku menerobos masuk dan dia tampaknya diam saja.
Sambil memainkan clitorisnya, aku terus menjilati kedua payudaranya. Ketika aku merasakan kemaluannya sudah sangat basah, aku coba membuka celana panjangnya, ternyata dia mengangkat pantat sehingga memudahkan aku melepas celana panjang sekaligus celana dalamnya. Setelah terlepas, tanganku pun membuka baju kaos dan BH-nya. Dalam waktu singkat, Sri sudah telanjang bulat sedang aku masih berpakaian rapi. Melihat ini, Sri pun protes dan segera membuka T-Shirt warna putih milikku. Bersamaan itu pula, aku melepas celana panjang dan celana dalamku sehingga aku dan dia sama-sama telanjang bulat. Dalam keadaan begitu, aku kemudian mengajaknya masuk ke kamar dan dia tampak setuju atas ajakanku. Begitu duduk di pinggir kasur, aku langsung menyerang bibirnya dan tangannya kubimbing untuk memijit-mijit penisku yang sudah menegang berat. Sedang tanganku kembali ke vaginanya yang sudah becek.
Tak lama kemudian, aku mendorongnya jatuh ke kasur. Mulutkupun segera menyusuri bukit kembarnya. Sri terus-menerus melenguh dan tampak sudah pasrah. Ketika aku minta supaya penisku dimasukkan, dia tak menjawab dan hanya tangannya merangkul leherku erat-erat. Inilah tanda-tandanya dia sudah tidak kuat. Aku pun segera menindihnya dan tanganku mengarahkan penisku ke liang vaginanya. Ketika kudapati lubang kenikmatan, segera penisku kutekan. Tapi tidak segampang wanita lain yang pernah kuajak bersenggama, lobang vagina Sri sangat sempit sekali. Berkali-kali kucoba untuk menekannya, masih tak berhasil menembus juga. Setelah lama dengan keringat membasahi tubuh, kepala penisku akhirnya dapat masuk, tapi setelah itu seperti lubangnya buntu. Karena aku sudah capek, babak pertama dengan tanpa hasil itu kuhentikan. Aku dan dia kemudian tiduran sambil tanganku memainkan puting susunya. Selang beberapa saat kemudian, aku dan Sri tertidur.
Sekitar satu jam kemudian, aku terbangun karena kedinginan dan penisku tegak kembali. Aku kemudian mencium kening Sri hingga terbangun. Setelah itu, aku langsung melumat bibirnya yang cukup sensual. Tanganku kembali bermain di vaginanya hingga basah. Melihat kenyataan ini, aku kembali menindihnya dan mencoba memasukkan penisku dan ternyata kembali gagal, hanya kepala penisku yang masuk. Karena berkali-kali gagal, aku kemudian mengangkat kakinya yang kecil mulus ke atas hingga belahan vaginanya terlihat jelas. Dalam posisi ini, aku mencoba memasukkan penisku dan lagi-lagi hanya kepalanya saja yang masuk.
Aku kemudian berpikir bahwa Sri barangkali tegang hingga otot-otot vaginanya ikut tegang sehingga elastisitas vaginanya menjadi berkurang. Karena itu, aku kemudian mendiamkan saja kepala penisku terbenam di liang vaginanya dan aku kemudian membisikkan kata-kata gombal kepadanya.
Tampaknya, rayuanku mengena sehingga kurasakan otot-otot vaginanya mulai melemas dan kesempatan itu kugunakan untuk kembali menggenjot penisku dan berhasil masuk setengah, setelah itu vagina Sri kembali mengeras. Melihat ini, aku membiarkan penisku terbenam tanpa berusaha kucabut. Rayuanku pun tak berhenti. Selang beberapa waktu kemudian, aku kembali merasakan otot vaginanya melemas dan kembali kutekan penisku hingga masuk dan total sekitar tiga perempat. Setelah itu, otot vaginanya kembali kaku dan tidak melemas meski sudah kurayu atau kubisikkan supaya tidak tengang dan menerima saja keadaan ini karena sudah telanjur masuk.
Karena buntu, aku berusaha mencabut penisku. Ketika akan kutekan lagi, ternyata buntu. Aku kemudian memintanya untuk rileks dan akhirnya penisku bisa masuk tiga perempat seperti semula. Aku kemudian mencabut penisku dengan perlahan, begitu keluar aku kembali memasukkannya, ternyata buntu lagi. Terus terang aku menjadi keki juga. Aku lantas bilang untuk rileks saja, dan kalau dia rileks maka penisku bisa masuk tiga perempatnya.
Karena pengalamanku dua kali, aku tak mau mencabut tapi langsung memutar-mutarkan penisku, dan terlihat olehku bibirnya menyeringai dan sesekali dia melenguh panjang. Kurasakan, vaginanya sangat basah. Ketika kutanya apakah sakit, dia ternyata diam saja maka penisku kembali kuputar-putar dan lama-lama menjadi cepat, ketika itu pula dia melenguh panjang dan tangannya mencengkeram punggungku. Ketika itulah, dia menjerit panjang sambil mengatakan, “Aduh Mas, enak Mas..”. Mendengar ini, putaranku semakin cepat dan selang beberapa lama dia menjerit dengan mengatakan hal yang sama. Ketika aku merasakan vaginanya sudah sangat basah, kucoba untuk mencabut penisku dari liang vaginanya, begitu aku menekan lagi ternyata buntu lagi. Sungguh, aku sangat heran dan baru pertama kali ini aku menemukan vagina seperti ini.
Karena sudah keki, aku minta dia supaya menjilati penisku. Awalnya, dia menolak karena tidak biasa dan jijik. Tapi setelah kurayu dan aku janji akan menjilati vaginanya, dia pun setuju. Setelah aku mencuci penisku, dia mulai menjilati. Awalnya, jilatannya tidak terasa karena masih merasa jijik. Tapi lama kelamaan jilatannya menggairahkan dan Sri mau memasukkan penisku ke mulutnya. Gerakannya pun makin lama makin kuat. Karena aku sudah terangsang dan sejak tadi begitu lama berjuang untuk mengebor vaginanya, akupun merasa penisku mulai berdenyut-denyut. Tanpa harus kutahan (daripada tambah pusing) aku pun mengeluarkan spermaku ke mulutnya. Merasa ada cairan masuk ke mulutnya, Sri melepas kulumannya dan memuntahkan sperma. Sri lantas seperti orang mual mau muntah. Aku tak peduli dan tanganku mengocok-ngocok penisku hingga spermaku banyak yang tumpah di kasur dan tubuhnya.
Setelah aku dan Sri mencuci kemaluan masing-masing, kemudian kami tiduran di kasur. Selang beberapa lama, Sri memintaku untuk menjilati vaginanya. Meski aku di kantor terkenal dengan julukan penjahat kelamin, tapi aku belum pernah menyosor barang milik perempuan, karena aku yakin wanita yang kutiduri selalu puas dengan permainan ranjangku. Permintaan itupun kutolak halus dengan alasan lemas dan mengantuk. Aku dan Sri pun akhirnya tertidur lagi karena kecapaian.
TAMAT
Aku mendapatkan Sri secara kebetulan. Ketika itu, aku yang senang naik bus kota karena banyak bertemu dengan karyawati, sedang menunggu di halte bus kawasan Slipi. Ketika sedang duduk-duduk menanti bus, seorang gadis dengan wajah tidak terlalu cantik dan tidak jelek, berkulit putih dengan payudara yang tidak terlalu besar (seperti kesukaanku), berjalan ke arahku dan langsung duduk di sebelahku. Perilakunya terkesan cuek, seperti pada umumnya cewek Jakarta. Aku mencari akal, bagaimana cara untuk mengajak ngomong cewek ini. Aku punya pikiran untuk minta maaf karena akan merokok. Ketika aku minta ijin merokok, Sri dengan senyum manisnya menyatakan tidak keberatan. Selanjutnya obrolan kian akrab dan saling tukar nomor handphone. Aku dan Sri kemudian berpisah karena tujuan kami berbeda. Aku mau ke Blok M sedang Sri mau ke Kampung Melayu, rumah temannya.
Malam harinya, aku sudah tidak sabar untuk menghubungi telepon selulernya. Obrolan pun terjadi, cukul lama. Hampir setiap hari aku telepon. Obrolannya pun mulai mengarah ke masalah pacaran. Dia mengaku baru saja putus dengan pacarnya karena menghamili gadis lain. Pura-pura sok suci, aku pun menasehatinya untuk tabah dan tawakal karena memang bukan jodohnya. Hubungan via telepon ini cukup lama, sekitar dua minggu dan hampir setiap hari aku selalu menghubunginya. Menginjak minggu ketiga, aku memberanikan diri mengajak untuk jalan-jalan. Karena aku belum lama di Jakarta, aku minta diantar ke Ancol, ternyata Sri tidak keberatan.
Malam Minggu, aku dan Sri dengan naik sepeda motor pergi ke Ancol. Aku berpura-pura alim dan bercerita tentang masa laluku, dan cerita itu kubuat sedemikian rupa sehingga terkesan aku ini punya sifat terbuka. Dia juga menceritakan masa lalunya, termasuk tentang dirinya yang sudah setengah perawan. Di Ancol, aku juga menghindari untuk menciumnya. Ternyata sikapku yang sok suci ini membuat dia jatuh hati.
Memasuki minggu keempat, dia mengajakku untuk pergi jalan-jalan. Dia minta ke puncak dan berangkat minggu pagi. Usulnya kuterima dengan alasan aku juga belum pernah ke sana (padahal, di kawasan dingin itulah, aku sering membawa cewek-cewek Jakarta). Sekitar pukul 06.00, aku sampai di Terminal Rambutan dan tidak lama kemudian dia juga sampai di satu titik yang telah ditetapkan bersama. Singkat cerita, sekitar pukul 08.30, aku dan dia sampai di Puncak. Setelah sarapan, kita kemudian mencari tempat untuk melihat-lihat pemandangan. Di puncak, aku melihat Sri mulai aktif dengan menggandeng tanganku. Aku berpikir, inilah saatnya untuk mengeluarkan jurus terampuh, apalagi Sri ini termasuk wanita terlama yang aku minta menyerahkan barangnya (sekitar sebulan).
Setelah mendapatkan tempat duduk, aku dan Sri kemudian terlibat pembicaraan hangat. Saat itu, mendung semakin tebal. Aku kemudian bilang sama Sri untuk mencari tempat karena hujan lebat tidak lama lagi akan turun. Tanpa kuduga, Sri menerima karena dia mengaku senang dengan sifat keterbukaanku dan berharap aku bisa jadi suaminya. Itulah kelemahan wanita, yang cepat percaya, yang akhirnya akan jadi korban lelaki.
Aku dan Sri kemudian mencari tempat dan tidak terlalu sulit untuk mendapatkannya. Singkat cerita, aku dan Sri sudah masuk ke kamar. Dengan sikap jantan dan tidak tergesa-gesa, aku dan Sri kemudian menonton televisi sambil ngobrol-ngobrol dan sekali-kali menyinggung tentang seks, terutama ketika kemaluannya dicium oleh pacarnya dulu. Pertanyaanku ini ternyata membuatnya bersalah dan berjanji tidak akan mengulangi lagi, kecuali pada calon suaminya. Dengan rayuan gombal, Sri tampak percaya sekali kalau aku merupakan calon suaminya.
Kemudian kucium pipinya dan Sri diam saja sambil menutup matanya. Setelah itu, dengan gaya halus, aku minta ijin untuk mencium bibirnya. Tanpa ada jawaban, Sri langsung menyosor bibirku, dan tanpa dikomando bibirnya segera kulumat dan tanganku menggerayangi payudaranya yang tidak terlalu besar. Ketika putingnya kuraba, dia mulai melenguh. Dengan gerakan halus, aku mulai membuka pengait BH-nya sehingga terbukalah bukit kembar miliknya. Sementara bibirku sudah beralih, tidak lagi di bibirnya tapi sudah menjilati telinga, dan lehernya. Karena buah dadanya sudah terbuka, mulutku pun bergeser ke puting susunya yang sudah menegang. Ketika kumainkan dengan lidahku, lenguhannya semakin panjang. Tangankupun tidak tinggal diam, retsleting celana panjangnya kubuka dan tanganku menerobos masuk dan dia tampaknya diam saja.
Sambil memainkan clitorisnya, aku terus menjilati kedua payudaranya. Ketika aku merasakan kemaluannya sudah sangat basah, aku coba membuka celana panjangnya, ternyata dia mengangkat pantat sehingga memudahkan aku melepas celana panjang sekaligus celana dalamnya. Setelah terlepas, tanganku pun membuka baju kaos dan BH-nya. Dalam waktu singkat, Sri sudah telanjang bulat sedang aku masih berpakaian rapi. Melihat ini, Sri pun protes dan segera membuka T-Shirt warna putih milikku. Bersamaan itu pula, aku melepas celana panjang dan celana dalamku sehingga aku dan dia sama-sama telanjang bulat. Dalam keadaan begitu, aku kemudian mengajaknya masuk ke kamar dan dia tampak setuju atas ajakanku. Begitu duduk di pinggir kasur, aku langsung menyerang bibirnya dan tangannya kubimbing untuk memijit-mijit penisku yang sudah menegang berat. Sedang tanganku kembali ke vaginanya yang sudah becek.
Tak lama kemudian, aku mendorongnya jatuh ke kasur. Mulutkupun segera menyusuri bukit kembarnya. Sri terus-menerus melenguh dan tampak sudah pasrah. Ketika aku minta supaya penisku dimasukkan, dia tak menjawab dan hanya tangannya merangkul leherku erat-erat. Inilah tanda-tandanya dia sudah tidak kuat. Aku pun segera menindihnya dan tanganku mengarahkan penisku ke liang vaginanya. Ketika kudapati lubang kenikmatan, segera penisku kutekan. Tapi tidak segampang wanita lain yang pernah kuajak bersenggama, lobang vagina Sri sangat sempit sekali. Berkali-kali kucoba untuk menekannya, masih tak berhasil menembus juga. Setelah lama dengan keringat membasahi tubuh, kepala penisku akhirnya dapat masuk, tapi setelah itu seperti lubangnya buntu. Karena aku sudah capek, babak pertama dengan tanpa hasil itu kuhentikan. Aku dan dia kemudian tiduran sambil tanganku memainkan puting susunya. Selang beberapa saat kemudian, aku dan Sri tertidur.
Sekitar satu jam kemudian, aku terbangun karena kedinginan dan penisku tegak kembali. Aku kemudian mencium kening Sri hingga terbangun. Setelah itu, aku langsung melumat bibirnya yang cukup sensual. Tanganku kembali bermain di vaginanya hingga basah. Melihat kenyataan ini, aku kembali menindihnya dan mencoba memasukkan penisku dan ternyata kembali gagal, hanya kepala penisku yang masuk. Karena berkali-kali gagal, aku kemudian mengangkat kakinya yang kecil mulus ke atas hingga belahan vaginanya terlihat jelas. Dalam posisi ini, aku mencoba memasukkan penisku dan lagi-lagi hanya kepalanya saja yang masuk.
Aku kemudian berpikir bahwa Sri barangkali tegang hingga otot-otot vaginanya ikut tegang sehingga elastisitas vaginanya menjadi berkurang. Karena itu, aku kemudian mendiamkan saja kepala penisku terbenam di liang vaginanya dan aku kemudian membisikkan kata-kata gombal kepadanya.
Tampaknya, rayuanku mengena sehingga kurasakan otot-otot vaginanya mulai melemas dan kesempatan itu kugunakan untuk kembali menggenjot penisku dan berhasil masuk setengah, setelah itu vagina Sri kembali mengeras. Melihat ini, aku membiarkan penisku terbenam tanpa berusaha kucabut. Rayuanku pun tak berhenti. Selang beberapa waktu kemudian, aku kembali merasakan otot vaginanya melemas dan kembali kutekan penisku hingga masuk dan total sekitar tiga perempat. Setelah itu, otot vaginanya kembali kaku dan tidak melemas meski sudah kurayu atau kubisikkan supaya tidak tengang dan menerima saja keadaan ini karena sudah telanjur masuk.
Karena buntu, aku berusaha mencabut penisku. Ketika akan kutekan lagi, ternyata buntu. Aku kemudian memintanya untuk rileks dan akhirnya penisku bisa masuk tiga perempat seperti semula. Aku kemudian mencabut penisku dengan perlahan, begitu keluar aku kembali memasukkannya, ternyata buntu lagi. Terus terang aku menjadi keki juga. Aku lantas bilang untuk rileks saja, dan kalau dia rileks maka penisku bisa masuk tiga perempatnya.
Karena pengalamanku dua kali, aku tak mau mencabut tapi langsung memutar-mutarkan penisku, dan terlihat olehku bibirnya menyeringai dan sesekali dia melenguh panjang. Kurasakan, vaginanya sangat basah. Ketika kutanya apakah sakit, dia ternyata diam saja maka penisku kembali kuputar-putar dan lama-lama menjadi cepat, ketika itu pula dia melenguh panjang dan tangannya mencengkeram punggungku. Ketika itulah, dia menjerit panjang sambil mengatakan, “Aduh Mas, enak Mas..”. Mendengar ini, putaranku semakin cepat dan selang beberapa lama dia menjerit dengan mengatakan hal yang sama. Ketika aku merasakan vaginanya sudah sangat basah, kucoba untuk mencabut penisku dari liang vaginanya, begitu aku menekan lagi ternyata buntu lagi. Sungguh, aku sangat heran dan baru pertama kali ini aku menemukan vagina seperti ini.
Karena sudah keki, aku minta dia supaya menjilati penisku. Awalnya, dia menolak karena tidak biasa dan jijik. Tapi setelah kurayu dan aku janji akan menjilati vaginanya, dia pun setuju. Setelah aku mencuci penisku, dia mulai menjilati. Awalnya, jilatannya tidak terasa karena masih merasa jijik. Tapi lama kelamaan jilatannya menggairahkan dan Sri mau memasukkan penisku ke mulutnya. Gerakannya pun makin lama makin kuat. Karena aku sudah terangsang dan sejak tadi begitu lama berjuang untuk mengebor vaginanya, akupun merasa penisku mulai berdenyut-denyut. Tanpa harus kutahan (daripada tambah pusing) aku pun mengeluarkan spermaku ke mulutnya. Merasa ada cairan masuk ke mulutnya, Sri melepas kulumannya dan memuntahkan sperma. Sri lantas seperti orang mual mau muntah. Aku tak peduli dan tanganku mengocok-ngocok penisku hingga spermaku banyak yang tumpah di kasur dan tubuhnya.
Setelah aku dan Sri mencuci kemaluan masing-masing, kemudian kami tiduran di kasur. Selang beberapa lama, Sri memintaku untuk menjilati vaginanya. Meski aku di kantor terkenal dengan julukan penjahat kelamin, tapi aku belum pernah menyosor barang milik perempuan, karena aku yakin wanita yang kutiduri selalu puas dengan permainan ranjangku. Permintaan itupun kutolak halus dengan alasan lemas dan mengantuk. Aku dan Sri pun akhirnya tertidur lagi karena kecapaian.
TAMAT
Partner Lesbi
Cerita Dewasa - Cerita Seks - Cerita panas - Kejadian ini sudah lama sekali, tapi kadang aku juga sempet terbayang lagi pada saat aku bercinta dengan cewek lesbi, sebelum terjadinya peristiwa, coba baca “Tahun Baru yang Indah dan Keluarga yang Kesepian”.
*****
Kejadian ini berawal dari diperkenalkan oleh saudaraku kepada seorang cewek cantik, manis dan sexy lagi, yang pasti setiap cowok yang lihat dia akan melotot dan menelan ludah akan keindahan tubuhnya. Bibirnya yang merah sensual, payudara yang montok, kencang, dan sekel, pantatnya yang sexy serta tubuhnya yang sangat aduhai.
Pada suatu hari dia berkunjung kerumah aku dan suruh aku menemani dia dirumahnya, karena enggak ada siapa-siapa, orang tuanya lagi ada kepentingan. Mulanya dia mau mengajak temannya Desy yang juga teman aku, tapi dianya tak ada. Dari perbincangan aku dengan Wina akhirnya aku mau diajak ke rumahnya. Tak lama kemudian aku sudah berada dirumahnya yang mewah sekali maklum dia anak orang kaya dan anak satu-satunya jadi sangat dimanja sekali. Tak lama kemudian dia bertanya:
“Hey Dewa kamu dapat Bantu aku enggak ?” tanyanya,
“Bantu apa win..?” kataku.
“Ntar deh kamu pasti tahu ?,”
“Iya apa sih ?” tanyaku heran.
“Oke deh kita kekamarku aja yah ?” sambil dia menuntun aku ke kamarnya.
Pas dia buka pintu, aku sangat kaget yang luar bisa aku melihat ada cewek cantik bugil sekali sedang mendesah keenakan, dia sedang mansturbasi, meremas-remas payudaranya sendiri terus menusuk-nusuk vaginanya dengan tangan kanannya. Tiba dia berkata,
“Hey.. Win… Ko…? Lama banget sih datangnya ?”
“Maaf Linda sayang, aku tadi ke rumah temanku Desy (Desy ini teman baikku, aku juga heran kenapa dia enggak ada dirumahnya, apa ini mungkin sudah rencananya kali, gumamku dalam hati)”
“Ooo begituuu…?,” kata Linda (Linda ini adalah teman lesbinya Mbak Wina).
“Gimana kita mulai saja yah.. ?,” kata Mbak Wina, pada Linda yang rasanya ingin banget vaginanya dijilat.
Terus aku yang dari tadi diam hanya dapat menelan ludah, dengan nafasku yang tersenggal-senggal, apalagi di depan mataku sendiri Mbak Wina ikut-ikutan telanjang pula sampai tak sehelai benang pun melekatanya ditubuhnya. Makin cepat detak jantungku bergetar saking nafsu lihat cewek cantik bugil lagi lesbian, ditambah adik kecilku juga ikutan bangun dan rasanya ingin ikutan keluar dari celanaku untuk melihat pemandangan yang woww…!!!indah dan enak dipandang mata.
Lalu mereka berdua bercumbu, saling memadu kasih, saling cium, dan saling meremas.
“Ooohhh… Begini yah… Cewek lesbi lagi bercinta walaupun pernah kulihat di VCD porno tapi kali ini benar-benar melihat secara langsung,” dalam hatiku bicara.
“Kak Wina kita 69-an yukk… ,” kata Linda.
Tanpa ba.. Bi.. Bu… Be… Bo… Langsung aja mereka berdua merubah posisi, saling memakan vaginanya masing-masing.
“Ooohhh… Mmhhh… Aahh… Ttruus… Kaakkk… Yang.. Dalam… Jilat… Kritorisku… Ennnaaakkk… Sekaliii…,” suara erangan Linda.
Aku sunguh sangat terpesona melihat mereka berdua bergulat, aku akui memang Mbak Wina itu sudah mahir dan pandai sekali memainkan lidahnya.
“Mmhhh… Aahh.. Ooohh… Yyess… terus… Donnnggg… Linnn… Kamuuu… Harus banyaakk… Berlatih… Yang mantap jilatnya… Yaaa… ?”
“Iyah kakkk…?” timpal Linda.
“Kak sudah dong ahh… Rasanya vagina Linda sudah kepengen banget nih dimasukin penisnya Mas Dewa… En… Kak…? Tuh… Dewaa… Dari tadi penisnya sudah ngaceng banget… Kayaknya kak Wina, penis Dewa ingin masuk deh ama vagina-vagina kita, enggak apa-apa kan kak… ?” tanya Linda ke Mbak Wina sambil dia memohon agar ia diizinkan dirinya untuk dientot vaginanya.
Sebenarnya Kak Wina sangat keberatan sekali keinginan teman lesbinya itu, tapi apa daya, dia merenget minta dientot vaginanya oleh penisnya Mas Dewa, karena demi untuk keutuhan hubungan mereka maka kak Wina pun mengizinkannya, lagian kak Wina pun kelihatanya ingin juga vaginanya dimasukin penisku.
“Iyah… Iyah… Deh… Kalau itu mau mu dan buat kamu senang dan puas, kaka juga akan ikut gembira,” jawab Mbak Wina.
Lalu Linda bertanya lagi, “Kak sekali-sekali boleh dong yah…!! Kita ngerasain penis yang beneran?”
“Iyah nih..! Mbak juga kayaknya ingin banget penisnya Mas Dewa, kelihatannya enak banget,” timpal kak Wina.
Memang aku dari pertama lihat mereka, aku sudah bugil sekali sambil aku mengkocok-kocok penisku sendiri lihat mereja bedua bermain.
“Hey.. Dewaa… Kesini dong sayang… Bantu kakak yah cinta… ,” kata Mbak Wina merayuku, terus dia bertanya lagi, “Tadi kan kamu mau… Bantuan kakak. Nah… Sekarang saatnya… Kamu penuhi janjimu cintaa… Masukin tuhh… penis kamu ke vaginanya Linda… ” kata Mbak Wina sambil membimbingku mendekati Linda.
“Iyah… Yah…!!! ? Mbak Wina mempertegas agar aku benar-benar mau.
“Iyah nih Dewa cepet dong masukin penisnya,” kata Linda yang ikutan bicara,
“Tapi Kak Wina dan Linda enggak marah kan ama aku,” tanyaku.
“Ko…!!marah sih? Emangnya kamu salah apa ama kita-kita,”jawabnya.
“Aku.. kan ikutan main ama kalian terus aku masukin penisku, apa boleh itu?” tanyaku bertele-tele sambil aku juga meremas payudaranya Mbak Wina.
“Yah… Boleh-boleh aja sih, kamu ngentotin vaginanya kita-kita, siapa yang larang kecuali kalau ceweknya menjalin hubungan cinta kasih(pacaran) ama laki-laki, itu tak boleh sebab dia sudah punya pasangan dan berarti dia sudah mengkhianati temannya, gituu… ?” jawab Mbak Wina menerangkan secara singkat, tepat dan jelas.
Terus sambil kita ngobrol ama mereka, aku meraba-raba seluruh tubuh sexynya Mbak Wina sesekali aku mengelus-elus vaginanya yang sudah basah dan sedangkan Mbak Wina sendiri meremas-remas payudaranya Linda dan mengelus vaginanya Linda. Terus Linda bertanya,
“Mas Dewa kalau Mas bisa memuaskan kita berdua, vagina-vagina kita berdua ketagihan sama penisnya Mas Dewa, aku mau mengajak teman cewekku untuk ngentot sama Mas, asal aja Mas jangan mencoba menjalin hubungan (jadi sepasang kekasih ) sama mereka, tapi kalau hanya ngentotin aja dan bikin puas nafsunya, kenapa tidak? Iyah… Kan kak Wina.. ?” tanya Linda ama Mbak Wina.
“Yup…!! Kamu benar sekali,” jawab Mbak Wina tegas.
Maka mendengar Linda bicara begitu terus dipertegas oleh Mbak Wina, aku semakin bernafsu aja, aku terus mencium, menjilat, mengecup, mengelus tubuh mereka berdua, karena aku ingin mereka benar-benar puas dan orgasme berjali-kali. Dan tibalah saatnya yang aku nanti-nantikan, aku mencoba memasukkan penisku ke vagina meraka berdua, yang pertama aku masukin vaginanya Linda, sebab dari tadi dia yang paling ingin vaginanya dientotin.
Sambil membuka kedua kakinya lebar-lebar lalu diangkat ke atas dengan dipegang oleh kedua tangannya, sehingga terlihat lobang kenikmatan surga yang sudah basah dari tadi menunggu penisku masuk. Sedang Mbak Wina sedang berciuman dengan Linda sambil meremas-remas payudaranya Linda. Kemudian aku mencoba memasukan penisku yang akhir… Dengan lancarnya masuk juga penisku ini ke vaginanya.
“Bleesss.. blesss.. bleesss… aww… ohh… aahhh… mhh… Yesss.. ss… uhh…” erangan Linda
“Dewa… Puasin yah cinta… vagina Linda, yahh.. Yah…?” sambil dia kelihatannya mendesah keenakan karena aku mulai mendorong penis keluar masuk lubang vaginanya.
“Ssshh… Ooohhh… Aahh… Eennakkk Lliinn… Daaa… Ccaayyanggg…?” desahanku, akibat gesekan penisku sama vaginanya, yang ternyata masih seret juga.
“Dewaa… Cepetin kocokkannyaaa… please… Yang keras ngentotnyaaa… ?” ceracau Linda.
Yang akhirnya akibat aku dan Linda benar hebat goyangannya, aku merasa ada sesuatu yang maksa untuk keluar, tiba-tiba juga Linda, bicara…
“Ddewww… Wwaaa… Aakkuu… mau.. Keluar… Nihhh… Masukin.. penisnya semuanyaaa…?”
“Sama linn… Aku juga mau keluar nih…?” timpalku.
Ternyata dia sudah enggak kuat lagi nahan dan… Ccrrott… Crrottt… Cccrrrooottt… Air kenikmatannya keluar…
“Aaarrhhggg… Aarrgghh… Aaarrrgghhh… Uuuhh… Eennnaaakkk… Ssaayyaaannnggg… Penis… Kkamuuu… ?” ceracaunya disaat dia mencapai pintu surga kenikmatannya.
Dan selang beberapa menit aku mau keluar..
“Aaarrghh… Aarrgghh… Oohhh… Ohh… Yyeeaahhh… Enak… Enaakkk… vaginanya kamu Lindaaa… ?” dan aku keluarin didalam vaginanya yang ueennakk tenann.
Setelah beberapa menit aku ngentot lagi dan sekarang sasaran penisku adalah vaginanya Mbak Wina yang aku ingin banget masukin penisku ke dalam lobang vaginanya yang kayaknya enak sekali. Lalu kami bertiga mengambil posisi aku terlentang dan Mbak Wina mengulum, menjilat dan mengkocok penisku dengan mulutnya sementara Linda di belakang Mbak Wina sambil memakan dan memainkan vaginanya Mbak Wina dari belakang. Terus kak Wina pun naik ke atas tubuh aku dan memasukkan penisku ke lobang vaginanya dan akhirnya tenggelamlah penisku ke lobang surga kenikmatannya.
Bless… Bblleesss… Bblleeesss…
Dengan lancar penisku masuk kevaginanya. Lalu kak Wina pun mengoyangkan pinggulnya, ke atas dan ke bawah atau memutarkan lobang vaginanya, sesekali juga dia mengocok vaginanya sambil berciuman dengan aku, aku juga enggak tinggal diam aku pegang pantatnya untuk bantu kocokkannya.
“Ooohhh… Aaahhh… Mmbakhh… Eennakk… teruss… Dewaa… Bantuuu… Mmbbaakk… Ccintaaa… Puasin vagina kakak sayanggg… ?” ceracaunya.
Sementara Linda aku suruh duduk diatas kepalaku dan aku makan habis-habis vaginanya itu sambil tanganku juga meremas-remas payudaranya kak Wina.
“Ttrruus… Ttruuss… Dewaa… Makan… Maakkaannn… vagina Lindaaa… ,”
“Oohhh… Jiilaatt… Ampee… Puuaaass.. Aahhh.. Ssshhh… Ooohh… ” desahan Linda terus diiringi juga ama desahan, erangan kak Wina yang semakin gencarnya vaginanya memakan penisku.
Dan akhirnya aku ama kak Wina orgasme secara bersamaan.
“Aaarrgg.. Aarghh… Aaarrgghhh… Eeennakkk… Puaass… vagina… Kakakkk… DDewaa…”
Saat Kak Wina orgasme dan terjatuh di atas tubuhku.
“Sama kak Wina, Linda, kalian berdua, baik sekali… Terima kasih Kak…?” sambil aku membelai mereka berdua dengan penuh kasih sayang, kemesraan dan kelembutan. Terus mereka hampir secara bersamaan, “Sama Mas Dewa… Kamu juga baik sekali.. Ama kita berdua… Aku ama kak Wina baru sekarang ngentot ama cowok yang penuh dengan kasih sayang, iyah kan kak..?” tanya Linda.
“Iyah sayang…?” timpal kak Wina. Terus Mbak Wina pun ikut bicara,
“Sebenarnya kita berdua yang dibutuhkan bukan saja biologis, tapi hal paling penting adalah, rasa cinta, kasih sayang, kelembutan dan saling pengertian, dan kamu adalah orang yang telah kita berdua idam-idamkan, karena selain kamu dapat melayani biologis, kamu juga pandai sekali memberikan kepuasan lainnya yang sangat penting sekali, aku sangat banyak berterima kasih ama kamu Dewa… ?.
“Iyah sama-sama Kak,” jawabku.
Dan terakhir aku lakukan sekali lagi sama mereka berdua dengan cara, aku sedang ngentot vaginanya Linda. Lalu kak Wina ambil dildo, penis dari plastik… Yang diikat sebelumnya sama pinggang aku, jadi dipantat aku dipasang lagi semacam penis lalu Mbak Wina pun memasukkan ke dalam lobang vaginanya.
“Bleesss… Bleess…! ?”
Lalu menggenjotnya bersama, pasti pembaca dapat membayangkannya posisiku waktu itu, aku dihimpit diantara dua wanita yang baik hati dan cantik, terus aku geser tubuhku kesamping dan masih dalam posisiku sambil menggenjot vagina Linda, biar kak Wina bisa ngentot sambil berciuman sama Linda. Saling meremas, menjilat, mencium dengan penuh cinta kasih mereka berdua. Akhiranya kami bertiga lemas setelah pertarungan hebat tersebut.
“Makasih yah Dewa kamu mau ngentotin vagina aku dan Linda,” kata kak Wina.
“Aku juga sama kak, Kapan-kapan kalau kakak mau penisku lagi, call aku aja,” tanyaku
“Iyah deh cayang, enak yah kalau penis yang benerannya daripada dildo”.
“Iyah aku juga sama, makasih banyak,” kata Linda sama berbicara.
“Nah Linda kita sekarang selain kita lesbi kita juga bisek, yah kapan-kapan boleh kan ngerasin penis beneran, yah kalau enggak ada yah dildo lagi deh..,”
“Tapi enggak senikmat penis yang beneran loh!!,” timpalku…
“Iyah sih,” jawab mereka berdua hampir bersamaan…
“Tenang aja Dewa, kalau kamu ingin vagina cewek lainnya, ntar aku kenalin deh ama teman cewekku lagi, itu juga kalau teman kakak mau ? Barangkali mereka mau ama penis kamu, dan kalau kita atau teman cewek lesbiku bosan dengan dildo, aku pinjam yah penis kamu, buat muasin vagina-vagina kami semua..,” kata Mbak Wina.
“Yuup..!!. “jawabku
“Aku mau, Aduh kalian memang baik sekali,” timpalku.
“Tapi maaf!! Yah Mas Dewa, kamu jangan sekali-sekali menggoda mereka, karena mereka sudah mempunyai pasangannya masing-masing, oke!!,” kata Mbak Wina.
“Oke Mbak.. ?” jawabku tegas.
Maaf!! Kalau ada dari para pembaca cewek, yang sama cewek lesbi hubungi aku cepat, jangan khawatir rahasia sangat aku jamin dan aku jaga? Karena aku punya teman cewek lesbi yang baru ? Gimana mau enggak ? Oh yah bagi cewek-cewek/Mbak-Mbak/tante-tante yang ingin vaginanya dijilatin sama aku, boleh juga, entar aku kasih cara menjilat vagina yang baik dan benar serta tidak salah sasaran.
Dan kalau mau vagina kalian ingin dimasukin penisku, aku akan melayaninya demi memuaskan kalian semua dan buat senang serta ketagihan vaginanya. Salam kenal saja sama penulis ceweknya dari aku Dewa. Email fineste@yahoo.com kutunggu yah emailnya dari para pembaca khususnya para cewek jika benar serius ingin ngerasain pelayananku. Dan aku akan berusaha untuk dapat memuaskan vagina vagina kalian semuanya. Oke!! thanks banget yah yang telah menghubungiku.
END
*****
Kejadian ini berawal dari diperkenalkan oleh saudaraku kepada seorang cewek cantik, manis dan sexy lagi, yang pasti setiap cowok yang lihat dia akan melotot dan menelan ludah akan keindahan tubuhnya. Bibirnya yang merah sensual, payudara yang montok, kencang, dan sekel, pantatnya yang sexy serta tubuhnya yang sangat aduhai.
Pada suatu hari dia berkunjung kerumah aku dan suruh aku menemani dia dirumahnya, karena enggak ada siapa-siapa, orang tuanya lagi ada kepentingan. Mulanya dia mau mengajak temannya Desy yang juga teman aku, tapi dianya tak ada. Dari perbincangan aku dengan Wina akhirnya aku mau diajak ke rumahnya. Tak lama kemudian aku sudah berada dirumahnya yang mewah sekali maklum dia anak orang kaya dan anak satu-satunya jadi sangat dimanja sekali. Tak lama kemudian dia bertanya:
“Hey Dewa kamu dapat Bantu aku enggak ?” tanyanya,
“Bantu apa win..?” kataku.
“Ntar deh kamu pasti tahu ?,”
“Iya apa sih ?” tanyaku heran.
“Oke deh kita kekamarku aja yah ?” sambil dia menuntun aku ke kamarnya.
Pas dia buka pintu, aku sangat kaget yang luar bisa aku melihat ada cewek cantik bugil sekali sedang mendesah keenakan, dia sedang mansturbasi, meremas-remas payudaranya sendiri terus menusuk-nusuk vaginanya dengan tangan kanannya. Tiba dia berkata,
“Hey.. Win… Ko…? Lama banget sih datangnya ?”
“Maaf Linda sayang, aku tadi ke rumah temanku Desy (Desy ini teman baikku, aku juga heran kenapa dia enggak ada dirumahnya, apa ini mungkin sudah rencananya kali, gumamku dalam hati)”
“Ooo begituuu…?,” kata Linda (Linda ini adalah teman lesbinya Mbak Wina).
“Gimana kita mulai saja yah.. ?,” kata Mbak Wina, pada Linda yang rasanya ingin banget vaginanya dijilat.
Terus aku yang dari tadi diam hanya dapat menelan ludah, dengan nafasku yang tersenggal-senggal, apalagi di depan mataku sendiri Mbak Wina ikut-ikutan telanjang pula sampai tak sehelai benang pun melekatanya ditubuhnya. Makin cepat detak jantungku bergetar saking nafsu lihat cewek cantik bugil lagi lesbian, ditambah adik kecilku juga ikutan bangun dan rasanya ingin ikutan keluar dari celanaku untuk melihat pemandangan yang woww…!!!indah dan enak dipandang mata.
Lalu mereka berdua bercumbu, saling memadu kasih, saling cium, dan saling meremas.
“Ooohhh… Begini yah… Cewek lesbi lagi bercinta walaupun pernah kulihat di VCD porno tapi kali ini benar-benar melihat secara langsung,” dalam hatiku bicara.
“Kak Wina kita 69-an yukk… ,” kata Linda.
Tanpa ba.. Bi.. Bu… Be… Bo… Langsung aja mereka berdua merubah posisi, saling memakan vaginanya masing-masing.
“Ooohhh… Mmhhh… Aahh… Ttruus… Kaakkk… Yang.. Dalam… Jilat… Kritorisku… Ennnaaakkk… Sekaliii…,” suara erangan Linda.
Aku sunguh sangat terpesona melihat mereka berdua bergulat, aku akui memang Mbak Wina itu sudah mahir dan pandai sekali memainkan lidahnya.
“Mmhhh… Aahh.. Ooohh… Yyess… terus… Donnnggg… Linnn… Kamuuu… Harus banyaakk… Berlatih… Yang mantap jilatnya… Yaaa… ?”
“Iyah kakkk…?” timpal Linda.
“Kak sudah dong ahh… Rasanya vagina Linda sudah kepengen banget nih dimasukin penisnya Mas Dewa… En… Kak…? Tuh… Dewaa… Dari tadi penisnya sudah ngaceng banget… Kayaknya kak Wina, penis Dewa ingin masuk deh ama vagina-vagina kita, enggak apa-apa kan kak… ?” tanya Linda ke Mbak Wina sambil dia memohon agar ia diizinkan dirinya untuk dientot vaginanya.
Sebenarnya Kak Wina sangat keberatan sekali keinginan teman lesbinya itu, tapi apa daya, dia merenget minta dientot vaginanya oleh penisnya Mas Dewa, karena demi untuk keutuhan hubungan mereka maka kak Wina pun mengizinkannya, lagian kak Wina pun kelihatanya ingin juga vaginanya dimasukin penisku.
“Iyah… Iyah… Deh… Kalau itu mau mu dan buat kamu senang dan puas, kaka juga akan ikut gembira,” jawab Mbak Wina.
Lalu Linda bertanya lagi, “Kak sekali-sekali boleh dong yah…!! Kita ngerasain penis yang beneran?”
“Iyah nih..! Mbak juga kayaknya ingin banget penisnya Mas Dewa, kelihatannya enak banget,” timpal kak Wina.
Memang aku dari pertama lihat mereka, aku sudah bugil sekali sambil aku mengkocok-kocok penisku sendiri lihat mereja bedua bermain.
“Hey.. Dewaa… Kesini dong sayang… Bantu kakak yah cinta… ,” kata Mbak Wina merayuku, terus dia bertanya lagi, “Tadi kan kamu mau… Bantuan kakak. Nah… Sekarang saatnya… Kamu penuhi janjimu cintaa… Masukin tuhh… penis kamu ke vaginanya Linda… ” kata Mbak Wina sambil membimbingku mendekati Linda.
“Iyah… Yah…!!! ? Mbak Wina mempertegas agar aku benar-benar mau.
“Iyah nih Dewa cepet dong masukin penisnya,” kata Linda yang ikutan bicara,
“Tapi Kak Wina dan Linda enggak marah kan ama aku,” tanyaku.
“Ko…!!marah sih? Emangnya kamu salah apa ama kita-kita,”jawabnya.
“Aku.. kan ikutan main ama kalian terus aku masukin penisku, apa boleh itu?” tanyaku bertele-tele sambil aku juga meremas payudaranya Mbak Wina.
“Yah… Boleh-boleh aja sih, kamu ngentotin vaginanya kita-kita, siapa yang larang kecuali kalau ceweknya menjalin hubungan cinta kasih(pacaran) ama laki-laki, itu tak boleh sebab dia sudah punya pasangan dan berarti dia sudah mengkhianati temannya, gituu… ?” jawab Mbak Wina menerangkan secara singkat, tepat dan jelas.
Terus sambil kita ngobrol ama mereka, aku meraba-raba seluruh tubuh sexynya Mbak Wina sesekali aku mengelus-elus vaginanya yang sudah basah dan sedangkan Mbak Wina sendiri meremas-remas payudaranya Linda dan mengelus vaginanya Linda. Terus Linda bertanya,
“Mas Dewa kalau Mas bisa memuaskan kita berdua, vagina-vagina kita berdua ketagihan sama penisnya Mas Dewa, aku mau mengajak teman cewekku untuk ngentot sama Mas, asal aja Mas jangan mencoba menjalin hubungan (jadi sepasang kekasih ) sama mereka, tapi kalau hanya ngentotin aja dan bikin puas nafsunya, kenapa tidak? Iyah… Kan kak Wina.. ?” tanya Linda ama Mbak Wina.
“Yup…!! Kamu benar sekali,” jawab Mbak Wina tegas.
Maka mendengar Linda bicara begitu terus dipertegas oleh Mbak Wina, aku semakin bernafsu aja, aku terus mencium, menjilat, mengecup, mengelus tubuh mereka berdua, karena aku ingin mereka benar-benar puas dan orgasme berjali-kali. Dan tibalah saatnya yang aku nanti-nantikan, aku mencoba memasukkan penisku ke vagina meraka berdua, yang pertama aku masukin vaginanya Linda, sebab dari tadi dia yang paling ingin vaginanya dientotin.
Sambil membuka kedua kakinya lebar-lebar lalu diangkat ke atas dengan dipegang oleh kedua tangannya, sehingga terlihat lobang kenikmatan surga yang sudah basah dari tadi menunggu penisku masuk. Sedang Mbak Wina sedang berciuman dengan Linda sambil meremas-remas payudaranya Linda. Kemudian aku mencoba memasukan penisku yang akhir… Dengan lancarnya masuk juga penisku ini ke vaginanya.
“Bleesss.. blesss.. bleesss… aww… ohh… aahhh… mhh… Yesss.. ss… uhh…” erangan Linda
“Dewa… Puasin yah cinta… vagina Linda, yahh.. Yah…?” sambil dia kelihatannya mendesah keenakan karena aku mulai mendorong penis keluar masuk lubang vaginanya.
“Ssshh… Ooohhh… Aahh… Eennakkk Lliinn… Daaa… Ccaayyanggg…?” desahanku, akibat gesekan penisku sama vaginanya, yang ternyata masih seret juga.
“Dewaa… Cepetin kocokkannyaaa… please… Yang keras ngentotnyaaa… ?” ceracau Linda.
Yang akhirnya akibat aku dan Linda benar hebat goyangannya, aku merasa ada sesuatu yang maksa untuk keluar, tiba-tiba juga Linda, bicara…
“Ddewww… Wwaaa… Aakkuu… mau.. Keluar… Nihhh… Masukin.. penisnya semuanyaaa…?”
“Sama linn… Aku juga mau keluar nih…?” timpalku.
Ternyata dia sudah enggak kuat lagi nahan dan… Ccrrott… Crrottt… Cccrrrooottt… Air kenikmatannya keluar…
“Aaarrhhggg… Aarrgghh… Aaarrrgghhh… Uuuhh… Eennnaaakkk… Ssaayyaaannnggg… Penis… Kkamuuu… ?” ceracaunya disaat dia mencapai pintu surga kenikmatannya.
Dan selang beberapa menit aku mau keluar..
“Aaarrghh… Aarrgghh… Oohhh… Ohh… Yyeeaahhh… Enak… Enaakkk… vaginanya kamu Lindaaa… ?” dan aku keluarin didalam vaginanya yang ueennakk tenann.
Setelah beberapa menit aku ngentot lagi dan sekarang sasaran penisku adalah vaginanya Mbak Wina yang aku ingin banget masukin penisku ke dalam lobang vaginanya yang kayaknya enak sekali. Lalu kami bertiga mengambil posisi aku terlentang dan Mbak Wina mengulum, menjilat dan mengkocok penisku dengan mulutnya sementara Linda di belakang Mbak Wina sambil memakan dan memainkan vaginanya Mbak Wina dari belakang. Terus kak Wina pun naik ke atas tubuh aku dan memasukkan penisku ke lobang vaginanya dan akhirnya tenggelamlah penisku ke lobang surga kenikmatannya.
Bless… Bblleesss… Bblleeesss…
Dengan lancar penisku masuk kevaginanya. Lalu kak Wina pun mengoyangkan pinggulnya, ke atas dan ke bawah atau memutarkan lobang vaginanya, sesekali juga dia mengocok vaginanya sambil berciuman dengan aku, aku juga enggak tinggal diam aku pegang pantatnya untuk bantu kocokkannya.
“Ooohhh… Aaahhh… Mmbakhh… Eennakk… teruss… Dewaa… Bantuuu… Mmbbaakk… Ccintaaa… Puasin vagina kakak sayanggg… ?” ceracaunya.
Sementara Linda aku suruh duduk diatas kepalaku dan aku makan habis-habis vaginanya itu sambil tanganku juga meremas-remas payudaranya kak Wina.
“Ttrruus… Ttruuss… Dewaa… Makan… Maakkaannn… vagina Lindaaa… ,”
“Oohhh… Jiilaatt… Ampee… Puuaaass.. Aahhh.. Ssshhh… Ooohh… ” desahan Linda terus diiringi juga ama desahan, erangan kak Wina yang semakin gencarnya vaginanya memakan penisku.
Dan akhirnya aku ama kak Wina orgasme secara bersamaan.
“Aaarrgg.. Aarghh… Aaarrgghhh… Eeennakkk… Puaass… vagina… Kakakkk… DDewaa…”
Saat Kak Wina orgasme dan terjatuh di atas tubuhku.
“Sama kak Wina, Linda, kalian berdua, baik sekali… Terima kasih Kak…?” sambil aku membelai mereka berdua dengan penuh kasih sayang, kemesraan dan kelembutan. Terus mereka hampir secara bersamaan, “Sama Mas Dewa… Kamu juga baik sekali.. Ama kita berdua… Aku ama kak Wina baru sekarang ngentot ama cowok yang penuh dengan kasih sayang, iyah kan kak..?” tanya Linda.
“Iyah sayang…?” timpal kak Wina. Terus Mbak Wina pun ikut bicara,
“Sebenarnya kita berdua yang dibutuhkan bukan saja biologis, tapi hal paling penting adalah, rasa cinta, kasih sayang, kelembutan dan saling pengertian, dan kamu adalah orang yang telah kita berdua idam-idamkan, karena selain kamu dapat melayani biologis, kamu juga pandai sekali memberikan kepuasan lainnya yang sangat penting sekali, aku sangat banyak berterima kasih ama kamu Dewa… ?.
“Iyah sama-sama Kak,” jawabku.
Dan terakhir aku lakukan sekali lagi sama mereka berdua dengan cara, aku sedang ngentot vaginanya Linda. Lalu kak Wina ambil dildo, penis dari plastik… Yang diikat sebelumnya sama pinggang aku, jadi dipantat aku dipasang lagi semacam penis lalu Mbak Wina pun memasukkan ke dalam lobang vaginanya.
“Bleesss… Bleess…! ?”
Lalu menggenjotnya bersama, pasti pembaca dapat membayangkannya posisiku waktu itu, aku dihimpit diantara dua wanita yang baik hati dan cantik, terus aku geser tubuhku kesamping dan masih dalam posisiku sambil menggenjot vagina Linda, biar kak Wina bisa ngentot sambil berciuman sama Linda. Saling meremas, menjilat, mencium dengan penuh cinta kasih mereka berdua. Akhiranya kami bertiga lemas setelah pertarungan hebat tersebut.
“Makasih yah Dewa kamu mau ngentotin vagina aku dan Linda,” kata kak Wina.
“Aku juga sama kak, Kapan-kapan kalau kakak mau penisku lagi, call aku aja,” tanyaku
“Iyah deh cayang, enak yah kalau penis yang benerannya daripada dildo”.
“Iyah aku juga sama, makasih banyak,” kata Linda sama berbicara.
“Nah Linda kita sekarang selain kita lesbi kita juga bisek, yah kapan-kapan boleh kan ngerasin penis beneran, yah kalau enggak ada yah dildo lagi deh..,”
“Tapi enggak senikmat penis yang beneran loh!!,” timpalku…
“Iyah sih,” jawab mereka berdua hampir bersamaan…
“Tenang aja Dewa, kalau kamu ingin vagina cewek lainnya, ntar aku kenalin deh ama teman cewekku lagi, itu juga kalau teman kakak mau ? Barangkali mereka mau ama penis kamu, dan kalau kita atau teman cewek lesbiku bosan dengan dildo, aku pinjam yah penis kamu, buat muasin vagina-vagina kami semua..,” kata Mbak Wina.
“Yuup..!!. “jawabku
“Aku mau, Aduh kalian memang baik sekali,” timpalku.
“Tapi maaf!! Yah Mas Dewa, kamu jangan sekali-sekali menggoda mereka, karena mereka sudah mempunyai pasangannya masing-masing, oke!!,” kata Mbak Wina.
“Oke Mbak.. ?” jawabku tegas.
Maaf!! Kalau ada dari para pembaca cewek, yang sama cewek lesbi hubungi aku cepat, jangan khawatir rahasia sangat aku jamin dan aku jaga? Karena aku punya teman cewek lesbi yang baru ? Gimana mau enggak ? Oh yah bagi cewek-cewek/Mbak-Mbak/tante-tante yang ingin vaginanya dijilatin sama aku, boleh juga, entar aku kasih cara menjilat vagina yang baik dan benar serta tidak salah sasaran.
Dan kalau mau vagina kalian ingin dimasukin penisku, aku akan melayaninya demi memuaskan kalian semua dan buat senang serta ketagihan vaginanya. Salam kenal saja sama penulis ceweknya dari aku Dewa. Email fineste@yahoo.com kutunggu yah emailnya dari para pembaca khususnya para cewek jika benar serius ingin ngerasain pelayananku. Dan aku akan berusaha untuk dapat memuaskan vagina vagina kalian semuanya. Oke!! thanks banget yah yang telah menghubungiku.
END
tante vida yang sintal
Cerita Dewasa - Cerita Seks - Cerita panas - Nama saya Dodi. Sekarang saya masih kuliah di Universitas dan Fakultas paling favorit di Yogyakarta. Saya ingin menceritakan pengalaman saya pertama kali berkenalan dengan permainan seks yang mungkin membuat saya sekarang haus akan seks.
Waktu itu saya masih sekolah di salah satu SMP favorit di Yogyakarta. Hari itu saya sakit sehingga saya tidak bisa berangkat sekolah, setelah surat ijin saya titipkan ke teman terus saya pulang. Ketika sampai di rumah Papa dan Mama sudah pergi ke kantor dan Mama pesan supaya saya istirahat saja di rumah dan Mama sudah memanggil Tante Vida untuk menjaga saya. Tante Vida waktu itu masih sekolah di sekolah perawat. Sehabis minum obat, mata saya terasa mengantuk. Ketika mau terlelap Tante Vida mengetuk kamarku.
Dia bilang, “Dod, sudah tidur?”
Saya jawab dari dalam, “Belum, tante!”
Tante Vida bertanya, “Kalau belum boleh tante masuk.”
Terus saya bukakan pintu, waktu itu saya sempat kaget juga melihat Tante Vida. Dia baru saja pulang dari aerobik, masih dengan pakaian senam dia masuk ke kamar. Walau masih SMP kelas 2 lihat Tante Vida dengan pakaian gitu merasa keder juga. Payudaranya yang montok seperti tak kuasa pakaian senam itu menahannya. Kemudian dia duduk di samping. Dia bilang, “Dod, kamu mau saya ajari permainan nggak Dod?” Tanpa pikir panjang, saya jawab, “Mau tante, tapi permainan apa lha wong Dodi baru sakit gini kok!”
Tante Vida berkata, “Namanya permainan kenikmatan, tapi mainnya harus di kamar mandi. Yuk” Sambil Tante Vida menggandeng tanganku masuk ke kamar mandi saya. Saya sih mau-mau saja. Kemudian mulai dia melorotkan celana saya sambil berkata, “Wah, burungmu untuk anak SMP tergolong besar Dod.” Tante Vida terkagum-kagum. Waktu itu saya cuma cengengesan saja, lha wong hati saya deg-degan sekali waktu itu.
Terus dia mulai membasahi kemaluan saya dengan air, kemudian dia beri shampo, terus digosok. Lama-lama saya merasa kemaluan saya semakin lama semakin keras. Setelah terasa kemudian dia melucuti pakaiannya satu demi satu. Ya, tuhan ternyata tubuhnya sintal banget. Payudaranya yang montok, dengan pentil yang tegang, pantat yang berisi dan sintal kemudian vaginanya yang merah muda dengan rambut kemaluan yang lebat. Kemudian dia berjongkok, setelah itu dia mengulum penis saya, dadanya yang montok ikut bergoyang. Dada dan nafasku semakin memburu. Saya cuma bisa memejamkan mata, aduh nikmatnya yang namanya permainan seks. Kemudian, saya nggak tahu tiba-tiba saja naluri saya bergerak. Tangan saya mulai meremas-remas dadanya, sementara tangan saya yang satu turun mencari liang vaginanya. Kemudian saya masukkkan jari saya, dia meritih, “Akhh, Dodi!” Saya semakin panas, saya kulum bibirnya yang ranum, saya nggak peduli lagi. Setelah bibir, kemudian turun saya ciumi leher dan akhir saya kulum punting susunya. Dia semakin merintih, “Aakhh, Dodi terus Dod!” Saya nggak tahu berapa lama kami di kamar mandi, terus tahu-tahu dia sudah di atas saya. “Dodi sekarang tante kasih akhir permaianan yang manis, ya?” Dia meraih kemaluan saya yang sudah tegang sekali waktu itu. Kemudian dimasukkan ke dalam vaginanya. Kami berdua sama-sama merintih, “Akhh! Lagi tante… lagi tanteee.” Terus dia mulai naik turun, sampai saya merasa ada yang meletus dari penis saya dan kami sama-sama lemas. Setelah itu kami mandi bersama-sama. Waktu mandi pun kami sempat mengulangi beberapa kali.
Setelah itu kami berdua sama-sama ketagihan. Kami bermain mulai dari kamar saya, pernah di sebuah hotel di kaliurang malah pernah cuma di dalam mobil. Rata-rata dalam satu minggu kami bisa 2-3 kali bermain dan pasti berakhir dengan kepuasan karena Tante Vida pintar membuat variasi permainan sehingga kami tidak bosan. Setelah Tante Vida menikah saya jadi kesepian. Kadang kalau baru kepingin saya cuma bisa dengan pacar saya, Nanda. Untung kami sama-sama tegangan tinggi, tapi dari segi kepuasan saya kurang puas mungkin karena saya sudah jadi “*********” atau mungkin Tante Vida yang begitu mahirnya sehingga bisa mengimbangi apa yang saya mau. Nah, buat cewek-cewek atau tante-tante bermukim di Yogya yang sama-sama tegangan tinggi, kapan-kapan kita bisa saling berkenalan dan berhubungan. Mungkin kita bisa bermain seperti Tante Vida
Waktu itu saya masih sekolah di salah satu SMP favorit di Yogyakarta. Hari itu saya sakit sehingga saya tidak bisa berangkat sekolah, setelah surat ijin saya titipkan ke teman terus saya pulang. Ketika sampai di rumah Papa dan Mama sudah pergi ke kantor dan Mama pesan supaya saya istirahat saja di rumah dan Mama sudah memanggil Tante Vida untuk menjaga saya. Tante Vida waktu itu masih sekolah di sekolah perawat. Sehabis minum obat, mata saya terasa mengantuk. Ketika mau terlelap Tante Vida mengetuk kamarku.
Dia bilang, “Dod, sudah tidur?”
Saya jawab dari dalam, “Belum, tante!”
Tante Vida bertanya, “Kalau belum boleh tante masuk.”
Terus saya bukakan pintu, waktu itu saya sempat kaget juga melihat Tante Vida. Dia baru saja pulang dari aerobik, masih dengan pakaian senam dia masuk ke kamar. Walau masih SMP kelas 2 lihat Tante Vida dengan pakaian gitu merasa keder juga. Payudaranya yang montok seperti tak kuasa pakaian senam itu menahannya. Kemudian dia duduk di samping. Dia bilang, “Dod, kamu mau saya ajari permainan nggak Dod?” Tanpa pikir panjang, saya jawab, “Mau tante, tapi permainan apa lha wong Dodi baru sakit gini kok!”
Tante Vida berkata, “Namanya permainan kenikmatan, tapi mainnya harus di kamar mandi. Yuk” Sambil Tante Vida menggandeng tanganku masuk ke kamar mandi saya. Saya sih mau-mau saja. Kemudian mulai dia melorotkan celana saya sambil berkata, “Wah, burungmu untuk anak SMP tergolong besar Dod.” Tante Vida terkagum-kagum. Waktu itu saya cuma cengengesan saja, lha wong hati saya deg-degan sekali waktu itu.
Terus dia mulai membasahi kemaluan saya dengan air, kemudian dia beri shampo, terus digosok. Lama-lama saya merasa kemaluan saya semakin lama semakin keras. Setelah terasa kemudian dia melucuti pakaiannya satu demi satu. Ya, tuhan ternyata tubuhnya sintal banget. Payudaranya yang montok, dengan pentil yang tegang, pantat yang berisi dan sintal kemudian vaginanya yang merah muda dengan rambut kemaluan yang lebat. Kemudian dia berjongkok, setelah itu dia mengulum penis saya, dadanya yang montok ikut bergoyang. Dada dan nafasku semakin memburu. Saya cuma bisa memejamkan mata, aduh nikmatnya yang namanya permainan seks. Kemudian, saya nggak tahu tiba-tiba saja naluri saya bergerak. Tangan saya mulai meremas-remas dadanya, sementara tangan saya yang satu turun mencari liang vaginanya. Kemudian saya masukkkan jari saya, dia meritih, “Akhh, Dodi!” Saya semakin panas, saya kulum bibirnya yang ranum, saya nggak peduli lagi. Setelah bibir, kemudian turun saya ciumi leher dan akhir saya kulum punting susunya. Dia semakin merintih, “Aakhh, Dodi terus Dod!” Saya nggak tahu berapa lama kami di kamar mandi, terus tahu-tahu dia sudah di atas saya. “Dodi sekarang tante kasih akhir permaianan yang manis, ya?” Dia meraih kemaluan saya yang sudah tegang sekali waktu itu. Kemudian dimasukkan ke dalam vaginanya. Kami berdua sama-sama merintih, “Akhh! Lagi tante… lagi tanteee.” Terus dia mulai naik turun, sampai saya merasa ada yang meletus dari penis saya dan kami sama-sama lemas. Setelah itu kami mandi bersama-sama. Waktu mandi pun kami sempat mengulangi beberapa kali.
Setelah itu kami berdua sama-sama ketagihan. Kami bermain mulai dari kamar saya, pernah di sebuah hotel di kaliurang malah pernah cuma di dalam mobil. Rata-rata dalam satu minggu kami bisa 2-3 kali bermain dan pasti berakhir dengan kepuasan karena Tante Vida pintar membuat variasi permainan sehingga kami tidak bosan. Setelah Tante Vida menikah saya jadi kesepian. Kadang kalau baru kepingin saya cuma bisa dengan pacar saya, Nanda. Untung kami sama-sama tegangan tinggi, tapi dari segi kepuasan saya kurang puas mungkin karena saya sudah jadi “*********” atau mungkin Tante Vida yang begitu mahirnya sehingga bisa mengimbangi apa yang saya mau. Nah, buat cewek-cewek atau tante-tante bermukim di Yogya yang sama-sama tegangan tinggi, kapan-kapan kita bisa saling berkenalan dan berhubungan. Mungkin kita bisa bermain seperti Tante Vida
Nafsu Birahi Adik Ipar
Cerita Dewasa - Cerita Seks - Cerita panas - “Masak apa Yen?” kataku sedikit mengejutkan adik iparku, yang saat itu sedang berdiri sambil memotong-motong tempe kesukaanku di meja dapur. “Ngagetin aja sih, hampir aja kena tangan nih,” katanya sambil menunjuk ibu jarinya dengan pisau yang dipegangnya. “Tapi nggak sampe keiris kan?” tanyaku menggoda. “Mbak Ratri mana Mas, kok nggak sama-sama pulangnya?” tanyanya tanpa menolehku. “Dia lembur, nanti aku jemput lepas magrib,” jawabku. “Kamu nggak ke kampus?” aku balik bertanya. “Tadi sebentar, tapi nggak jadi kuliah. Jadinya pulang cepat.” “Aauww,” teriak Yeyen tiba-tiba sambil memegangi salah satu jarinya. Aku langsung menghampirinya, dan kulihat memang ada darah menetes dari jari telunjuk kirinya. “Sini aku bersihin,” kataku sambil membungkusnya dengan serbet yang aku raih begitu saja dari atas meja makan.
Yeyen nampak meringis saat aku menetesinya dengan Betadine, walau lukanya hanya luka irisan kecil saja sebenarnya. Beberapa saat aku menetesi jarinya itu sambil kubersihkan sisa-sisa darahnya. Yeyen nampak terlihat canggung saat tanganku terus membelai-belai jarinya. “Udah ah Mas,” katanya berusaha menarik jarinya dari genggamanku. Aku pura-pura tak mendengar, dam masih terus mengusapi jarinya dengan tanganku. Aku kemudian membimbing dia untuk duduk di kursi meja makan, sambil tanganku tak melepaskan tangannya. Sedangkan aku berdiri persis di sampingnya. “Udah nggak apa-apa kok Mas, Makasih ya,” katanya sambil menarik tangannya dari genggamanku. Kali ini ia berhasil melepaskannya. “Makanya jangan ngelamun dong. Kamu lagi inget Ma si Novan ya?” godaku sambil menepuk-nepuk lembut pundaknya. “Yee, nggak ada hubungannya, tau,” jawabnya cepat sambil mencubit punggung lenganku yang masih berada dipundaknya.
Kami memang akrab, karena umurku dengan dia hanya terpaut 4 tahun saja. Aku saat ini 27 tahun, istriku yang juga kakak dia 25 tahun, sedangkan adik iparku ini 23 tahun. “Mas boleh tanya nggak. Kalo cowok udah deket Ma temen cewek barunya, lupa nggak sih Ma pacarnya sendiri?” tanyanya tiba-tiba sambil menengadahkan mukanya ke arahku yang masih berdiri sejak tadi. Sambil tanganku tetap meminjat-mijat pelan pundaknya, aku hanya menjawab, “Tergantung.” “Tergantung apa Mas?” desaknya seperti penasaran. “Tergantung, kalo si cowok ngerasa temen barunya itu lebih cantik dari pacarnya, ya bisa aja dia lupa Ma pacarnya,” jawabku sekenanya sambil terkekeh. “Kalo Mas sendiri gimana? Umpamanya gini, Mas punya temen cewek baru, trus tu cewek ternyata lebih cantik dari pacar Mas. Mas bisa lupa nggak Ma cewek Mas?” tanya dia. “Hehe,” aku hanya ketawa kecil aja mendengar pertanyaan itu. “Yee, malah ketawa sih,” katanya sedikit cemberut. “Ya bisa aja dong. Buktinya sekarang aku deket Ma kamu, aku lupa deh kalo aku udah punya istri,” jawabku lagi sambil tertawa. “Hah, awas lho ya. Ntar Yeyen bilangan lho Ma Mbak Ratri,” katanya sambil menahan tawa. “Gih bilangin aja, emang kamu lebih cantik dari Mbak kamu kok,” kataku terbahak, sambil tanganku mengelus-ngelus kepalanya. “Huu, Mas nih ditanya serius malah becanda.” “Lho, aku emang serius kok Yen,” kataku sedikit berpura-pura serius.
Kini belaian tanganku di rambutnya, sudah berubah sedikit menjadi semacam remasan-remasan gemas. Dia tiba-tiba berdiri. “Yeyen mo lanjutin masak lagi nih Mas. Makasih ya dah diobatin,” katanya. Aku hanya membiarkan saja dia pergi ke arah dapur kembali. Lama aku pandangi dia dari belakang, sungguh cantik dan sintal banget body dia. Begitu pikirku saat itu. Aku mendekati dia, kali ini berpura-pura ingin membantu dia. “Sini biar aku bantu,” kataku sambil meraih beberapa lembar tempe dari tangannya. Yeyen seolah tak mau dibantu, ia berusaha tak melepaskan tempe dari tangannya. “Udah ah, nggak usah Mas,” katanya sambil menarik tempe yang sudah aku pegang sebagian. Saat itu, tanpa kami sadari ternyata cukup lama tangan kami saling menggenggam. Yeyen nampak ragu untuk menarik tangannya dari genggamanku. Aku melihat mata dia, dan tanpa sengaja pandangan kami saling bertabrakan. Lama kami saling berpandangan. Perlahan mukaku kudekatkan ke muka dia. Dia seperti kaget dengan tingkahku kali ini, tetapi tak berusaha sedikit pun menghindar. Kuraih kepala dia, dan kutarik sedikit agar lebih mendekat ke mukaku. Hanya hitungan detik saja, kini bibiku sudah menyentuh bibirnya. “Maafin aku Yen,” bisiku sambil terus berusaha mengulum bibir adik iparku ini. Yeyen tak menjawab, tak juga memberi respon atas ciumanku itu. Kucoba terus melumati bibir tipisnya, tetapi ia belum memberikan respon juga.
Tanganku masih tetap memegang bagian belakang kepala dia, sambil kutekankan agar mukanya semakin rapat saja dengan mukaku. Sementara tangaku yang satu, kini mulai kulingkarkan ke pinggulnya dan kupeluk dia. “Sshh,” Yeyen seperti mulai terbuai dengan jilatan demi jilatan lidahku yang terus menyentuh dan menciumi bibirnya. Seperti tanpa ia sadari, kini tangan Yeyen pun sudah melingkar di pinggulku. Dan lumatanku pun sudah mulai direspon olehnya, walau masih ragu-ragu. “Sshh,” dia mendesah lagi. Mendengar itu, bibirku semakin ganas saja menjilati bibir Yeyen. Perlahan tapi pasti, kini dia pun mulai mengimbangi ciumanku itu. Sementara tangaku dengan liar meremas-remas rambutnya, dan yang satunya mulai meremas-remas pantat sintal adik iparku itu. “Aahh, mass,” kembali dia mendesah. Mendengar desahan Yeyen, aku seperti semakin gila saja melumati dan sesekali menarik dan sesekali mengisap-isap lidahnya. Yeyen semakin terlihat mulai terangsang oleh ciumanku. Ia sesekali terlihat menggelinjang sambil sesekali juga terdengar mendesah. “Mas, udah ya Mas,” katanya sambil berusaha menarik wajahnya sedikit menjauh dari wajahku.
Aku menghentikan ciumanku. Kuraih kedua tangannya dan kubimbing untuk melingkarkannya di leherku. Yeyen tak menolak, dengan sangat ragu-ragu sekali ia melingkarkannya di leherku. “Yeyen takut Mas,” bisiknya tak jauh dari ditelingaku. “Takut kenapa, Yen?” kataku setengah berbisik. “Yeyen nggak mau nyakitin hati Mbak Ratri Mas,” katanya lebih pelan. Aku pandangi mata dia, ada keseriusan ketika ia mengatakan kalimat terakhir itu. Tapi, sepertinya aku tak lagi memperdulikan apa yang dia takutkan itu. Kuraih dagunya, dan kudekatkan lagi bibirku ke bibirnya. Yeyen dengan masih menatapku tajam, tak berusaha berontak ketika bibir kami mulai bersentuhan kembali. Kucium kembali dia, dan dia pun perlahan-lahan mulai membalas ciumanku itu. Tanganku mulai meremas-remas kembali rambutnya. Bahkan, kini semakin turun dan terus turun hingga berhenti persis di bagian pantatnya. Pantanya hanya terbalut celana pendek tipis saja saat aku mulai meremas-remasnya dengan nakal. “Aahh, Mas,” desahnya. Mendengar desahannya, tanganku semakin liar saja memainkan pantat adik iparku itu. Sementara tangaku yang satunya, masih berusaha mencari-cari payudaranya dari balik kaos oblongnya. Ah, akhirnya kudapati juga buah dadanya yang mulai mengeras itu. Dengan posisi kami berdiri seperti itu, batang penisku yang sudah menegang dari tadi ini, dengan mudah kugesek-gesekan persis di mulut vaginanya.
Kendati masih sama-sama terhalangi oleh celana kami masing-masing, tetapi Yeyen sepertinya dapat merasakan sekali tegangnya batang kemaluanku itu. “Aaooww Mas,” ia hanya berujar seperti itu ketika semakin kuliarkan gerakan penisku persis di bagian vaginanya. Tanganku kini sudah memegang bagian belakang celana pendeknya, dan perlahan-lahan mulai kuberanikan diri untuk mencoba merosotkannya. Yeyen sepertinya tak protes ketika celana yang ia kenakan semakin kulorotkan. Otakku semakin ngeres saja ketika seluruh celananya sudah merosot semuanya di lantai. Ia berusaha menaikan salah satu kakinya untuk melepaskan lingkar celananya yang masih menempel di pergelangan kakinya. Sementara itu, kami masih terus berpagutan seperti tak mau melepaskan bibir kami masing-masing. Dengan posisi Yeyen sudah tak bercelana lagi, gerakan-gerakan tanganku di bagian pantatnya semakin kuliarkan saja.
Ia sesekali menggelinjang saat tanganku meremas-remasnya. Untuk mempercepat rangsangannya, aku raih salah satu tanganya untuk memegang batang zakarku kendati masih terhalang oleh celana jeansku. Perlahan tangannya terus kubimbing untuk membukakan kancing dan kemudian menurunkan resleting celanaku. Aku sedikit membantu untuk mempermudah gerakan tangannya. Beberapa saat kemudian, tangannya mulai merosotkan celanaku. Dan oleh tanganku sendiri, kupercepat melepaskan celana yang kupakai, sekaligus celana dalamnya. Kini, masih dalam posisi berdiri, kami sudah tak lagi memakai celana. Hanya kemejaku yang menutupi bagian atas badanku, dan bagian atas tubuh Yeyen pun masih tertutupi oleh kaosnya. Kami memang tak membuka itu. Tanganku kembali membimbing tangan Yeyen agar memegangi batang zakarku yang sudah menegang itu. Kini, dengan leluasa Yeyen mulai memainkan batang zakarku dan mulai mengocok-ngocoknya perlahan. Ada semacam tegangan tingi yang kurasakan saat ia mengocok dan sesekali meremas-remas biji pelerku itu. “Oohh,” tanpa sadar aku mengerang karena nikmatnya diremas-remas seperti itu. “Mas, udah Mas. Yeyen takut Mas,” katanya sambil sedikit merenggangkan genggamannya di batang kemaluanku yang sudah sangat menegang itu. “Aahh,” tapi tiba-tiba dia mengerang sejadinya saat salah satu jariku menyentuh klitorisnya.
Lubang vagina Yeyen sudah sangat basah saat itu. Aku seperti sudah kerasukan setan, dengan liar kukeluar-masukan salah satu jariku di lubang vaginanya. “Aaooww, mass, een, naakk..” katanya mulai meracau. Mendengar itu, birahiku semakin tak terkendali saja. Perlahan kuraih batang kemaluanku dari genggamannya, dan kuarahkan sedikit demi sedikit ke lubang kemaluan Yeyen yang sudah sangat basah. “Aaoww, aaouuww,” erangnya panjang saat kepala penisku kusentuh-sentukan persis di klitorisnya. “Please, jangan dimasukin Mas,” pinta Yeyen, saat aku mencoba mendorong batang zakarku ke vaginanya. “Nggak Papa Yen, sebentaar aja,” pintaku sedikit berbisik ditelinganya. “Yeyen takut Mas,” katanya berbisik sambil tak sedikit pun ia berusaha menjauhkan vaginanya dari kepala kontolku yang sudah berada persis di mulut guanya. Tangan kiri Yeyen mulai meremas-remas pantatku, Sementara tangan kanannya seperti tak mau lepas dari batang kemaluanku itu. Untuk sekedar membuatnya sedikit tenang, aku sengaja tak langsung memasukan batang kemaluanku. Aku hanya meminta ia memegangi saja. “Pegang aja Yen,” kataku pelan.
Yeyen yang saat itu sebenarnya sudah terlihat bernafsu sekali, hanya mengangguk pelan sambil menatapku tajam. Remasan demi remasan jemari yeyen di batang zakarku, dan sesekali di buah zakarnya, membuatku kelojotan. “Aku udah gak tahan banget Yen,” bisikku pelan. “Yeyen takut banget Mas,” katanya sambil mengocok-ngocok lembut kemaluanku itu. “Aahh,” aku hanya menjawabnya dengan erangan karena nikmatnya dikocok-kocok oleh tangan lembut adik iparku itu. Kembali kami saling berciuman, sementara tangan kami sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Saat bersamaan dengan ciuman kami yang semakin memanas, aku mencoba kembali untuk mengarahkan kepala kontolku ke lubang vaginanya. Saat ini, Yeyen tak berontak lagi. Kutekan pantat dia agar semakin maju, dan saat bersamaan juga, tangan Yeyen yang sedang meremas-remas pantatku perlahan-lahan mulai mendorongnya maju pantatku. “Kita sambil duduk, sayang,” ajaku sambil membimbing dia ke kursi meja makan tadi. Aku mengambil posisi duduk sambil merapatkan kedua pahaku.
Sementara Yeyen kududukan di atas kedua pahaku dengan posisi pahanya mengangkang. Sambil kutarik agar dia benar-benar duduk di pahaku, tanganku kembali mengarahkan batang kemaluanku yang posisinya tegak berdiri itu agar pas dengan lubang vagina Yeyen. Ia sepertinya mengerti dengan maksudku, dengan lembut ia memegang batang kemaluanku sambil berupaya mengepaskan posisi lubang vaginanya dengan batang kemaluanku. Dan bless, perlahan-lahan batang kemaluanku menusuk lubang vagina Yeyen. “Aahh, aaooww, mass,” Yeyen mengerang sambil kelojotan badannya. Kutekan pinggulnya agar dia benar-benar menekan pantatnya. Dengan demikian, batang kontolku pun akan melesak semuanya masuk ke lubang vaginanya. “Yeenn,” kataku. “Aooww, ter, russ mass.., aahh..” pantatnya terus memutar seperti inul sedang ngebor. “Ohh, nik, nikmat banget mass..” katanya lagi sambil bibirnya melumati mukaku. Hampir seluruh bagian mukanku saat itu ia jilati. Untuk mengimbangi dia, aku pun menjilati dan mengisap-isap puting susunya.
Darahku semakin mendidih rasanya saat pantatnya terus memutar-mutar mengimbangi gerakan naik-turun pantatku. “Mass, Yee, Yeeyeen mau,” katanya terputus. Aku semakin kencang menaik-turunkan gerakan pantatku. “Aaooww mass, please mass” erangnya semakin tak karuan. “Yee, Yeyeen mauu, kee, kkeeluaarr mass,” ia semakin meracau. Namun tiba-tiba, “Krriingg..” “Aaooww, Mas ada yang datang Mas..” bisik Yeyen sambil tanpa hentinya mengoyang-goyangkan pantatnya. “Yenn,” suara seseorang memanggil dari luar. “Cepetan buka Yenn, aku kebelet nih,” suara itu lagi, yang tak lain adalah suara Ratri kakaknya sekaligus istriku. “Hah, Mbak Ratri Mas,” katanya terperanjat. Yeyen seperti tersambar petir, ia langsung pucat dan berdiri melompat meraih celana dalam dan celana pendeknya yang tercecer di lantai dapur. Sementara aku tak lagi bisa berkata apa-apa, selain secepatnya meraih celana dan memakainya. Sementara itu suara bel dan teriakan istriku terus memanggil. “Yeenn, tolong dong cepet buka pintunya. Mbak pengen ke air nih,” teriak istriku dari luar sana. Yeyen yang terlihat panik sekali, buru-buru memakai kembali celananya, sambil berteriak, “Sebentarr, sebentar Mbak..” “Mas buruan dipake celananya,” Yeyen masih sempet menolehku dan mengingatkanku untuk secepatnya memakai celana.
Ia terus berlari ke arah pintu depan, setelah dipastikan semuanya beres, ia membuka pintu. Aku buru-buru berlari ke arah ruang televisi dan langsung merebahkan badan di karpet agar terlihat seolah-olah sedang ketiduran. “Gila,” pikirku. “Huu, lama banget sih buka pintunya? Orang dah kebelet kayak gini,” gerutu istriku kepada Yeyen sambil terus menyelong ke kamar mandi. “Iya sori, aku ketiduran Mbak,” kata Yeyen begitu istriku sudah keluar dari kamar mandi. “Haa, leganyaa,” katanya sambil meraih gelas dan meminum air yang disodorkan oleh adiknya. “Mas Jeje mana Yen?” “Tuh ketiduran dari tadi pulang ngantor di situ,” kata Yeyen sambil menunjuk aku yang sedang berpura-pura tidur di karpet depan televisi. “Ya ampun, Mas kok belum ganti baju sih?” kata istriku sambil mengoyang-goyangkan tubuhku dengan maksud membangunkan. “Pindah ke kamar gih Mas,” katanya lagi. Aku berpura-pura ngucek-ngucek mata, agar kelihatan baru bangun beneran. Aku tak langsung masuk kamar, tapi menyolong ke dapur mengambil air minum. “Lho katanya pulang ntar abis magrib, kok baru jam setengah lima udah pulang? Kamu pulang pake apa?” tanyaku berbasa-basi pada istriku. “Nggak jadi rapatnya Mas. Pake taksi barusan,” jawab dia. “Lho, kamu lagi masak toh Yen? Kok belum kelar gini dah ditinggal tidur sih?” kata istriku kepada Yeyen setelah melihat irisan-irisan tempe berserakan di meja dapur. “Mana berantakan, lagi,” katanya lagi. “Iya tadi emang lagi mo masak.
Tapi nggak tahan ngantuk. Jadi kutinggal tidur aja deh,” Yeyen berusaha menjawab sewajarnya sambil senyum-senyum. Sore itu, tanpa mengganti pakaiannya dulu, akhirnya istrikulah yang melanjutkan masak. Yeyen membantu seperlunya. Sementara itu, aku hanya cengar-cengir sendiri saja sambil duduk di kursi yang baru saja kupakai berdua dengan Yeyen bersetubuh, walau belum sempat mencapai puncaknya. “Waduh, kasihan Yeyen. Dia hampir aja sampai klimaksnya padahal barusan, eh keburu datang nih mbaknya,” kataku sambil nyengir melihat mereka berdua yang lagi masak
Yeyen nampak meringis saat aku menetesinya dengan Betadine, walau lukanya hanya luka irisan kecil saja sebenarnya. Beberapa saat aku menetesi jarinya itu sambil kubersihkan sisa-sisa darahnya. Yeyen nampak terlihat canggung saat tanganku terus membelai-belai jarinya. “Udah ah Mas,” katanya berusaha menarik jarinya dari genggamanku. Aku pura-pura tak mendengar, dam masih terus mengusapi jarinya dengan tanganku. Aku kemudian membimbing dia untuk duduk di kursi meja makan, sambil tanganku tak melepaskan tangannya. Sedangkan aku berdiri persis di sampingnya. “Udah nggak apa-apa kok Mas, Makasih ya,” katanya sambil menarik tangannya dari genggamanku. Kali ini ia berhasil melepaskannya. “Makanya jangan ngelamun dong. Kamu lagi inget Ma si Novan ya?” godaku sambil menepuk-nepuk lembut pundaknya. “Yee, nggak ada hubungannya, tau,” jawabnya cepat sambil mencubit punggung lenganku yang masih berada dipundaknya.
Kami memang akrab, karena umurku dengan dia hanya terpaut 4 tahun saja. Aku saat ini 27 tahun, istriku yang juga kakak dia 25 tahun, sedangkan adik iparku ini 23 tahun. “Mas boleh tanya nggak. Kalo cowok udah deket Ma temen cewek barunya, lupa nggak sih Ma pacarnya sendiri?” tanyanya tiba-tiba sambil menengadahkan mukanya ke arahku yang masih berdiri sejak tadi. Sambil tanganku tetap meminjat-mijat pelan pundaknya, aku hanya menjawab, “Tergantung.” “Tergantung apa Mas?” desaknya seperti penasaran. “Tergantung, kalo si cowok ngerasa temen barunya itu lebih cantik dari pacarnya, ya bisa aja dia lupa Ma pacarnya,” jawabku sekenanya sambil terkekeh. “Kalo Mas sendiri gimana? Umpamanya gini, Mas punya temen cewek baru, trus tu cewek ternyata lebih cantik dari pacar Mas. Mas bisa lupa nggak Ma cewek Mas?” tanya dia. “Hehe,” aku hanya ketawa kecil aja mendengar pertanyaan itu. “Yee, malah ketawa sih,” katanya sedikit cemberut. “Ya bisa aja dong. Buktinya sekarang aku deket Ma kamu, aku lupa deh kalo aku udah punya istri,” jawabku lagi sambil tertawa. “Hah, awas lho ya. Ntar Yeyen bilangan lho Ma Mbak Ratri,” katanya sambil menahan tawa. “Gih bilangin aja, emang kamu lebih cantik dari Mbak kamu kok,” kataku terbahak, sambil tanganku mengelus-ngelus kepalanya. “Huu, Mas nih ditanya serius malah becanda.” “Lho, aku emang serius kok Yen,” kataku sedikit berpura-pura serius.
Kini belaian tanganku di rambutnya, sudah berubah sedikit menjadi semacam remasan-remasan gemas. Dia tiba-tiba berdiri. “Yeyen mo lanjutin masak lagi nih Mas. Makasih ya dah diobatin,” katanya. Aku hanya membiarkan saja dia pergi ke arah dapur kembali. Lama aku pandangi dia dari belakang, sungguh cantik dan sintal banget body dia. Begitu pikirku saat itu. Aku mendekati dia, kali ini berpura-pura ingin membantu dia. “Sini biar aku bantu,” kataku sambil meraih beberapa lembar tempe dari tangannya. Yeyen seolah tak mau dibantu, ia berusaha tak melepaskan tempe dari tangannya. “Udah ah, nggak usah Mas,” katanya sambil menarik tempe yang sudah aku pegang sebagian. Saat itu, tanpa kami sadari ternyata cukup lama tangan kami saling menggenggam. Yeyen nampak ragu untuk menarik tangannya dari genggamanku. Aku melihat mata dia, dan tanpa sengaja pandangan kami saling bertabrakan. Lama kami saling berpandangan. Perlahan mukaku kudekatkan ke muka dia. Dia seperti kaget dengan tingkahku kali ini, tetapi tak berusaha sedikit pun menghindar. Kuraih kepala dia, dan kutarik sedikit agar lebih mendekat ke mukaku. Hanya hitungan detik saja, kini bibiku sudah menyentuh bibirnya. “Maafin aku Yen,” bisiku sambil terus berusaha mengulum bibir adik iparku ini. Yeyen tak menjawab, tak juga memberi respon atas ciumanku itu. Kucoba terus melumati bibir tipisnya, tetapi ia belum memberikan respon juga.
Tanganku masih tetap memegang bagian belakang kepala dia, sambil kutekankan agar mukanya semakin rapat saja dengan mukaku. Sementara tangaku yang satu, kini mulai kulingkarkan ke pinggulnya dan kupeluk dia. “Sshh,” Yeyen seperti mulai terbuai dengan jilatan demi jilatan lidahku yang terus menyentuh dan menciumi bibirnya. Seperti tanpa ia sadari, kini tangan Yeyen pun sudah melingkar di pinggulku. Dan lumatanku pun sudah mulai direspon olehnya, walau masih ragu-ragu. “Sshh,” dia mendesah lagi. Mendengar itu, bibirku semakin ganas saja menjilati bibir Yeyen. Perlahan tapi pasti, kini dia pun mulai mengimbangi ciumanku itu. Sementara tangaku dengan liar meremas-remas rambutnya, dan yang satunya mulai meremas-remas pantat sintal adik iparku itu. “Aahh, mass,” kembali dia mendesah. Mendengar desahan Yeyen, aku seperti semakin gila saja melumati dan sesekali menarik dan sesekali mengisap-isap lidahnya. Yeyen semakin terlihat mulai terangsang oleh ciumanku. Ia sesekali terlihat menggelinjang sambil sesekali juga terdengar mendesah. “Mas, udah ya Mas,” katanya sambil berusaha menarik wajahnya sedikit menjauh dari wajahku.
Aku menghentikan ciumanku. Kuraih kedua tangannya dan kubimbing untuk melingkarkannya di leherku. Yeyen tak menolak, dengan sangat ragu-ragu sekali ia melingkarkannya di leherku. “Yeyen takut Mas,” bisiknya tak jauh dari ditelingaku. “Takut kenapa, Yen?” kataku setengah berbisik. “Yeyen nggak mau nyakitin hati Mbak Ratri Mas,” katanya lebih pelan. Aku pandangi mata dia, ada keseriusan ketika ia mengatakan kalimat terakhir itu. Tapi, sepertinya aku tak lagi memperdulikan apa yang dia takutkan itu. Kuraih dagunya, dan kudekatkan lagi bibirku ke bibirnya. Yeyen dengan masih menatapku tajam, tak berusaha berontak ketika bibir kami mulai bersentuhan kembali. Kucium kembali dia, dan dia pun perlahan-lahan mulai membalas ciumanku itu. Tanganku mulai meremas-remas kembali rambutnya. Bahkan, kini semakin turun dan terus turun hingga berhenti persis di bagian pantatnya. Pantanya hanya terbalut celana pendek tipis saja saat aku mulai meremas-remasnya dengan nakal. “Aahh, Mas,” desahnya. Mendengar desahannya, tanganku semakin liar saja memainkan pantat adik iparku itu. Sementara tangaku yang satunya, masih berusaha mencari-cari payudaranya dari balik kaos oblongnya. Ah, akhirnya kudapati juga buah dadanya yang mulai mengeras itu. Dengan posisi kami berdiri seperti itu, batang penisku yang sudah menegang dari tadi ini, dengan mudah kugesek-gesekan persis di mulut vaginanya.
Kendati masih sama-sama terhalangi oleh celana kami masing-masing, tetapi Yeyen sepertinya dapat merasakan sekali tegangnya batang kemaluanku itu. “Aaooww Mas,” ia hanya berujar seperti itu ketika semakin kuliarkan gerakan penisku persis di bagian vaginanya. Tanganku kini sudah memegang bagian belakang celana pendeknya, dan perlahan-lahan mulai kuberanikan diri untuk mencoba merosotkannya. Yeyen sepertinya tak protes ketika celana yang ia kenakan semakin kulorotkan. Otakku semakin ngeres saja ketika seluruh celananya sudah merosot semuanya di lantai. Ia berusaha menaikan salah satu kakinya untuk melepaskan lingkar celananya yang masih menempel di pergelangan kakinya. Sementara itu, kami masih terus berpagutan seperti tak mau melepaskan bibir kami masing-masing. Dengan posisi Yeyen sudah tak bercelana lagi, gerakan-gerakan tanganku di bagian pantatnya semakin kuliarkan saja.
Ia sesekali menggelinjang saat tanganku meremas-remasnya. Untuk mempercepat rangsangannya, aku raih salah satu tanganya untuk memegang batang zakarku kendati masih terhalang oleh celana jeansku. Perlahan tangannya terus kubimbing untuk membukakan kancing dan kemudian menurunkan resleting celanaku. Aku sedikit membantu untuk mempermudah gerakan tangannya. Beberapa saat kemudian, tangannya mulai merosotkan celanaku. Dan oleh tanganku sendiri, kupercepat melepaskan celana yang kupakai, sekaligus celana dalamnya. Kini, masih dalam posisi berdiri, kami sudah tak lagi memakai celana. Hanya kemejaku yang menutupi bagian atas badanku, dan bagian atas tubuh Yeyen pun masih tertutupi oleh kaosnya. Kami memang tak membuka itu. Tanganku kembali membimbing tangan Yeyen agar memegangi batang zakarku yang sudah menegang itu. Kini, dengan leluasa Yeyen mulai memainkan batang zakarku dan mulai mengocok-ngocoknya perlahan. Ada semacam tegangan tingi yang kurasakan saat ia mengocok dan sesekali meremas-remas biji pelerku itu. “Oohh,” tanpa sadar aku mengerang karena nikmatnya diremas-remas seperti itu. “Mas, udah Mas. Yeyen takut Mas,” katanya sambil sedikit merenggangkan genggamannya di batang kemaluanku yang sudah sangat menegang itu. “Aahh,” tapi tiba-tiba dia mengerang sejadinya saat salah satu jariku menyentuh klitorisnya.
Lubang vagina Yeyen sudah sangat basah saat itu. Aku seperti sudah kerasukan setan, dengan liar kukeluar-masukan salah satu jariku di lubang vaginanya. “Aaooww, mass, een, naakk..” katanya mulai meracau. Mendengar itu, birahiku semakin tak terkendali saja. Perlahan kuraih batang kemaluanku dari genggamannya, dan kuarahkan sedikit demi sedikit ke lubang kemaluan Yeyen yang sudah sangat basah. “Aaoww, aaouuww,” erangnya panjang saat kepala penisku kusentuh-sentukan persis di klitorisnya. “Please, jangan dimasukin Mas,” pinta Yeyen, saat aku mencoba mendorong batang zakarku ke vaginanya. “Nggak Papa Yen, sebentaar aja,” pintaku sedikit berbisik ditelinganya. “Yeyen takut Mas,” katanya berbisik sambil tak sedikit pun ia berusaha menjauhkan vaginanya dari kepala kontolku yang sudah berada persis di mulut guanya. Tangan kiri Yeyen mulai meremas-remas pantatku, Sementara tangan kanannya seperti tak mau lepas dari batang kemaluanku itu. Untuk sekedar membuatnya sedikit tenang, aku sengaja tak langsung memasukan batang kemaluanku. Aku hanya meminta ia memegangi saja. “Pegang aja Yen,” kataku pelan.
Yeyen yang saat itu sebenarnya sudah terlihat bernafsu sekali, hanya mengangguk pelan sambil menatapku tajam. Remasan demi remasan jemari yeyen di batang zakarku, dan sesekali di buah zakarnya, membuatku kelojotan. “Aku udah gak tahan banget Yen,” bisikku pelan. “Yeyen takut banget Mas,” katanya sambil mengocok-ngocok lembut kemaluanku itu. “Aahh,” aku hanya menjawabnya dengan erangan karena nikmatnya dikocok-kocok oleh tangan lembut adik iparku itu. Kembali kami saling berciuman, sementara tangan kami sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Saat bersamaan dengan ciuman kami yang semakin memanas, aku mencoba kembali untuk mengarahkan kepala kontolku ke lubang vaginanya. Saat ini, Yeyen tak berontak lagi. Kutekan pantat dia agar semakin maju, dan saat bersamaan juga, tangan Yeyen yang sedang meremas-remas pantatku perlahan-lahan mulai mendorongnya maju pantatku. “Kita sambil duduk, sayang,” ajaku sambil membimbing dia ke kursi meja makan tadi. Aku mengambil posisi duduk sambil merapatkan kedua pahaku.
Sementara Yeyen kududukan di atas kedua pahaku dengan posisi pahanya mengangkang. Sambil kutarik agar dia benar-benar duduk di pahaku, tanganku kembali mengarahkan batang kemaluanku yang posisinya tegak berdiri itu agar pas dengan lubang vagina Yeyen. Ia sepertinya mengerti dengan maksudku, dengan lembut ia memegang batang kemaluanku sambil berupaya mengepaskan posisi lubang vaginanya dengan batang kemaluanku. Dan bless, perlahan-lahan batang kemaluanku menusuk lubang vagina Yeyen. “Aahh, aaooww, mass,” Yeyen mengerang sambil kelojotan badannya. Kutekan pinggulnya agar dia benar-benar menekan pantatnya. Dengan demikian, batang kontolku pun akan melesak semuanya masuk ke lubang vaginanya. “Yeenn,” kataku. “Aooww, ter, russ mass.., aahh..” pantatnya terus memutar seperti inul sedang ngebor. “Ohh, nik, nikmat banget mass..” katanya lagi sambil bibirnya melumati mukaku. Hampir seluruh bagian mukanku saat itu ia jilati. Untuk mengimbangi dia, aku pun menjilati dan mengisap-isap puting susunya.
Darahku semakin mendidih rasanya saat pantatnya terus memutar-mutar mengimbangi gerakan naik-turun pantatku. “Mass, Yee, Yeeyeen mau,” katanya terputus. Aku semakin kencang menaik-turunkan gerakan pantatku. “Aaooww mass, please mass” erangnya semakin tak karuan. “Yee, Yeyeen mauu, kee, kkeeluaarr mass,” ia semakin meracau. Namun tiba-tiba, “Krriingg..” “Aaooww, Mas ada yang datang Mas..” bisik Yeyen sambil tanpa hentinya mengoyang-goyangkan pantatnya. “Yenn,” suara seseorang memanggil dari luar. “Cepetan buka Yenn, aku kebelet nih,” suara itu lagi, yang tak lain adalah suara Ratri kakaknya sekaligus istriku. “Hah, Mbak Ratri Mas,” katanya terperanjat. Yeyen seperti tersambar petir, ia langsung pucat dan berdiri melompat meraih celana dalam dan celana pendeknya yang tercecer di lantai dapur. Sementara aku tak lagi bisa berkata apa-apa, selain secepatnya meraih celana dan memakainya. Sementara itu suara bel dan teriakan istriku terus memanggil. “Yeenn, tolong dong cepet buka pintunya. Mbak pengen ke air nih,” teriak istriku dari luar sana. Yeyen yang terlihat panik sekali, buru-buru memakai kembali celananya, sambil berteriak, “Sebentarr, sebentar Mbak..” “Mas buruan dipake celananya,” Yeyen masih sempet menolehku dan mengingatkanku untuk secepatnya memakai celana.
Ia terus berlari ke arah pintu depan, setelah dipastikan semuanya beres, ia membuka pintu. Aku buru-buru berlari ke arah ruang televisi dan langsung merebahkan badan di karpet agar terlihat seolah-olah sedang ketiduran. “Gila,” pikirku. “Huu, lama banget sih buka pintunya? Orang dah kebelet kayak gini,” gerutu istriku kepada Yeyen sambil terus menyelong ke kamar mandi. “Iya sori, aku ketiduran Mbak,” kata Yeyen begitu istriku sudah keluar dari kamar mandi. “Haa, leganyaa,” katanya sambil meraih gelas dan meminum air yang disodorkan oleh adiknya. “Mas Jeje mana Yen?” “Tuh ketiduran dari tadi pulang ngantor di situ,” kata Yeyen sambil menunjuk aku yang sedang berpura-pura tidur di karpet depan televisi. “Ya ampun, Mas kok belum ganti baju sih?” kata istriku sambil mengoyang-goyangkan tubuhku dengan maksud membangunkan. “Pindah ke kamar gih Mas,” katanya lagi. Aku berpura-pura ngucek-ngucek mata, agar kelihatan baru bangun beneran. Aku tak langsung masuk kamar, tapi menyolong ke dapur mengambil air minum. “Lho katanya pulang ntar abis magrib, kok baru jam setengah lima udah pulang? Kamu pulang pake apa?” tanyaku berbasa-basi pada istriku. “Nggak jadi rapatnya Mas. Pake taksi barusan,” jawab dia. “Lho, kamu lagi masak toh Yen? Kok belum kelar gini dah ditinggal tidur sih?” kata istriku kepada Yeyen setelah melihat irisan-irisan tempe berserakan di meja dapur. “Mana berantakan, lagi,” katanya lagi. “Iya tadi emang lagi mo masak.
Tapi nggak tahan ngantuk. Jadi kutinggal tidur aja deh,” Yeyen berusaha menjawab sewajarnya sambil senyum-senyum. Sore itu, tanpa mengganti pakaiannya dulu, akhirnya istrikulah yang melanjutkan masak. Yeyen membantu seperlunya. Sementara itu, aku hanya cengar-cengir sendiri saja sambil duduk di kursi yang baru saja kupakai berdua dengan Yeyen bersetubuh, walau belum sempat mencapai puncaknya. “Waduh, kasihan Yeyen. Dia hampir aja sampai klimaksnya padahal barusan, eh keburu datang nih mbaknya,” kataku sambil nyengir melihat mereka berdua yang lagi masak
Karyawati Bank Yang Cantik
Cerita Dewasa - Cerita Seks - Cerita panas - Kisah ini dialami oleh teman aku saat ia bekerja di jakarta. Sita nama wanita itu, ia adalah karyawati bank swasta terkemuka. Cantik orangnya, tinggitubuhnya. Seperti biasa orang lihat, begitu juga sita, karyawati bank selalumemakai rok diatas lutut. Bukan karena itu yang membuat banyak lelakimembelalak matanya, namun dari belakang pun orang akan memandang pantat yangdihiasi garis celana dalam wanita itu. Begitu juga sita. Siang itu seperti biasasehabis makan siang, sita dan beberapa temannya kembali ke kantor. Sesampaidi seberang kantor utama Sita mempersilahkan teman-temannya duluan karena ia mauke kamar kecil terlebih dahulu.
“Nanti aku susul ya, aku cuma sebentar..”
Tidak dikira, karena sebentarnya adalah masa yang paling lama baginya danpaling menyakitkan. Karena begitu masuk kamar kecil, mulutnya langsung disergap dan didekap daribelakang. Mata sita langsung ditutup dengan kain penutup, mulutnya disumpalkain hingga tak bisa berteriak. Penyergapnya adalah 5 orang laki-laki. Dalamkeheningan satu orang mengikat kebelakang tangan sita, sementara yang lainmemempet tubunya ke tembok. satu orang membuka pintu kamar mandi, dan melihatkeluar pada saat sepi, sita digotong berlima menyeberang koridor masukkeruang yang nampaknya adalah gudang sanitizer yang cukup luas.
“ugh ugh “
sita mencoba berontak namun, tenaga kelima pria itu jelas lebihbesar, namun sialnya ia tidak bisa mengenali mereka semua. Mereka beraksidalam diam. Beberapa saat mereka kemudian mereka merebahkan sita ke atas mejakosong, satu orang memegang kepalanya supaya tdk bergerak-gerak, kakinya pundipegangi oleh 2 orang lain, sita benar-benar tak berdaya. seseorang lalumenyumpal telinganya dengan kapas.
Posisi sita diatas meja benar-benar posisi yang tidak berdaya. Kedua kakidipegangi, tangan terikat, bergerak tdk bisa. Roknya sudah mulai terangkat keatas dan bila dilihat dari depan celana dalam birumuda yang ia kenakan. Dalam keheningan itu ia meronta-ronta namun sepertinya hanya menambah gairah priayang mendapat giliran pertama menggagahinya, sementara yang lain hanyamelihat terlebih dahulu. Ia langsung naik keatas meja. Hebat sekali tanpabersuara ia mampu menahan gejolak nafsunya.Diraihnya blus sita dan weeeeeeekdirobeknya sehingga BH Amo-nya menyembul keluar.
“ummp …umphhh” sita meronta lagi.
Namun sunngguh sayang kali ini dia hopeless. beberapa pria disebelahnya meraba-raba BH dan sesekali masuk kedalampayudaranya sita menggeleng-gelengkan kepalanya namun kembali tangankekar memegangi kepalanya.Pria yang ada diatas tubuhnya membuka roknya sehingga celana dalambirumudanya semakin terlihat jelas dengan motif bunga-bunga kecil dan berenda disetiap tepinya, pria itu meraba vagina sita lalu melorotkan celana dalamnyadan melempar ke sebelah samping. Vagina yang merah ditumbuhi rambut nggakbegitu banyak akan segera diobrakabrik oleh penis pria yang sudah tegangsekali itu.
Benar-benar pemandangan yang tak berimbang saat pria itu memasukkan penisnya kelubang vagina sita, dan dengan agak kesusahan menggoyang-goyang pinggulnyamaju mundur
“ummph agggh ammph uuuuhhhk ” sita hanya berteriak dalam sumpalan kain parapemerkosanya.
Gerakan pria itu semakin cepat hingga meja bergoyang cepat seementara dariliang vagina sita mengalir darah segar. Orang2 dis ekitar tubuh sita mulaimembuka BHnya dan meremas remas payudaranya.Dan sepertinya pria itu sudah selesai dengan mengeluarkan seluruh spermanyake dalam vagina sita.
Pria kedua naik keatas tubuh sita, kakinya diangkat dan tetap dipegangi duaorang. penisnya yang mengacung tegak siap dimasukkan kedalam anus sita.uuumpph aaaagghhk aggghk, sita merasakan sakit luar biasa saat pria inimenggenjot tubuhnya sekuat tenaga.pria inipun mengeluarkan spermanya setelahlima menit sita digenjotnya.
Pria ketiga ini menggagahi sita di anus dan vaginanya, penisnya dimasukkankedalam anus sita dan vaginanya disogok dengan mentimun , dan dengan gerakancepat ia genjot tubu sita. sepertinya sita sudah lemas sekali karena ia sudahtidak mengeluarkan rintihan2. Pria keempat yang menggagahinya lebih kasarlagi karena selagi ia memperkosa sita ,pria ini dengan buas menampar danmeremas payudara nya.
Begitulah sita, karyawati bank yang cantik itu digilir oleh empat orang priadalam keheningan sore. memang cuma “sebentar” karena hanya berlangsung kuranglebih 30 menit namun sungguh membuat sita lemas dan terhina.
Sita akhirnya pindah kerja ke tempat lain, yang secara kebetulan saat ini iasedang duduk didepan ku memencet-mencet tuts komputer. Aku memandangi belahanpantatnya yang dihiasi garis celana dalam. Apakah warnanya juga biru mudaseperti yang diberikan teman aku kepadaku, celana dalam biru muda dengan motifbunga-bunga merk amo dan BH putih berpita 70B merk Amo.
TAMAT
“Nanti aku susul ya, aku cuma sebentar..”
Tidak dikira, karena sebentarnya adalah masa yang paling lama baginya danpaling menyakitkan. Karena begitu masuk kamar kecil, mulutnya langsung disergap dan didekap daribelakang. Mata sita langsung ditutup dengan kain penutup, mulutnya disumpalkain hingga tak bisa berteriak. Penyergapnya adalah 5 orang laki-laki. Dalamkeheningan satu orang mengikat kebelakang tangan sita, sementara yang lainmemempet tubunya ke tembok. satu orang membuka pintu kamar mandi, dan melihatkeluar pada saat sepi, sita digotong berlima menyeberang koridor masukkeruang yang nampaknya adalah gudang sanitizer yang cukup luas.
“ugh ugh “
sita mencoba berontak namun, tenaga kelima pria itu jelas lebihbesar, namun sialnya ia tidak bisa mengenali mereka semua. Mereka beraksidalam diam. Beberapa saat mereka kemudian mereka merebahkan sita ke atas mejakosong, satu orang memegang kepalanya supaya tdk bergerak-gerak, kakinya pundipegangi oleh 2 orang lain, sita benar-benar tak berdaya. seseorang lalumenyumpal telinganya dengan kapas.
Posisi sita diatas meja benar-benar posisi yang tidak berdaya. Kedua kakidipegangi, tangan terikat, bergerak tdk bisa. Roknya sudah mulai terangkat keatas dan bila dilihat dari depan celana dalam birumuda yang ia kenakan. Dalam keheningan itu ia meronta-ronta namun sepertinya hanya menambah gairah priayang mendapat giliran pertama menggagahinya, sementara yang lain hanyamelihat terlebih dahulu. Ia langsung naik keatas meja. Hebat sekali tanpabersuara ia mampu menahan gejolak nafsunya.Diraihnya blus sita dan weeeeeeekdirobeknya sehingga BH Amo-nya menyembul keluar.
“ummp …umphhh” sita meronta lagi.
Namun sunngguh sayang kali ini dia hopeless. beberapa pria disebelahnya meraba-raba BH dan sesekali masuk kedalampayudaranya sita menggeleng-gelengkan kepalanya namun kembali tangankekar memegangi kepalanya.Pria yang ada diatas tubuhnya membuka roknya sehingga celana dalambirumudanya semakin terlihat jelas dengan motif bunga-bunga kecil dan berenda disetiap tepinya, pria itu meraba vagina sita lalu melorotkan celana dalamnyadan melempar ke sebelah samping. Vagina yang merah ditumbuhi rambut nggakbegitu banyak akan segera diobrakabrik oleh penis pria yang sudah tegangsekali itu.
Benar-benar pemandangan yang tak berimbang saat pria itu memasukkan penisnya kelubang vagina sita, dan dengan agak kesusahan menggoyang-goyang pinggulnyamaju mundur
“ummph agggh ammph uuuuhhhk ” sita hanya berteriak dalam sumpalan kain parapemerkosanya.
Gerakan pria itu semakin cepat hingga meja bergoyang cepat seementara dariliang vagina sita mengalir darah segar. Orang2 dis ekitar tubuh sita mulaimembuka BHnya dan meremas remas payudaranya.Dan sepertinya pria itu sudah selesai dengan mengeluarkan seluruh spermanyake dalam vagina sita.
Pria kedua naik keatas tubuh sita, kakinya diangkat dan tetap dipegangi duaorang. penisnya yang mengacung tegak siap dimasukkan kedalam anus sita.uuumpph aaaagghhk aggghk, sita merasakan sakit luar biasa saat pria inimenggenjot tubuhnya sekuat tenaga.pria inipun mengeluarkan spermanya setelahlima menit sita digenjotnya.
Pria ketiga ini menggagahi sita di anus dan vaginanya, penisnya dimasukkankedalam anus sita dan vaginanya disogok dengan mentimun , dan dengan gerakancepat ia genjot tubu sita. sepertinya sita sudah lemas sekali karena ia sudahtidak mengeluarkan rintihan2. Pria keempat yang menggagahinya lebih kasarlagi karena selagi ia memperkosa sita ,pria ini dengan buas menampar danmeremas payudara nya.
Begitulah sita, karyawati bank yang cantik itu digilir oleh empat orang priadalam keheningan sore. memang cuma “sebentar” karena hanya berlangsung kuranglebih 30 menit namun sungguh membuat sita lemas dan terhina.
Sita akhirnya pindah kerja ke tempat lain, yang secara kebetulan saat ini iasedang duduk didepan ku memencet-mencet tuts komputer. Aku memandangi belahanpantatnya yang dihiasi garis celana dalam. Apakah warnanya juga biru mudaseperti yang diberikan teman aku kepadaku, celana dalam biru muda dengan motifbunga-bunga merk amo dan BH putih berpita 70B merk Amo.
TAMAT
Subscribe to:
Posts (Atom)






